Sabtu, 24 Desember 2022 yang lalu seperti biasa saya pergi ke Trenggalek untuk menunaikan kewajiban bekerja (sambatan) di Yudhistira Education yang kantornya berada di sebelah barat alun-alun. Pagi sekitar pukul 06:00, saya telah berangkat dengan berjalan kaki menuju perempatan Kedunglurah. Setelah sampai perempatan itupun, saya tidak perlu menunggu lama karena bus Sari Mulyo datang tepat seperti biasanya kira-kira jam 7 kurang seperempat. Seperti biasa ketika naik bis Sari Mulyo ini, saya turun di pertigaan Widowati, sebelum menikmati langkah-langkah pelan ke arah utara menuju alun-alun untuk mampir sebentar di masjid Jami’ untuk setidaknya membasuh muka.
Sayangnya pada waktu itu, ketika baru sampai di depan Pasar Pon, sebuah mobil model Toyota Kijang atau Innova warna hijau dengan kombinasi putih –saya tidak benar-benar tahu merek apa sebenarnya mobil itu– berhenti di depan saya. Pengemudinya, yang tentu saja adalah Pak Bangkit Adi Swasono, memberikan saya tumpangan dan mengajak saya untuk menonton pagelaran sastra di STKIP PGRI Trenggalek. Saya tidak bisa menolak ajakan tersebut. Kebetulan waktu itu pekerjaan saya di Yudhistira Education sedang begitu longgar. Selain itu, ada sedikit perasaan rindu pada kampus STKIP di mana saya menghabiskan waktu hampir 5 tahun menempuh pendidikan di sana. Lumayan, bisa bernostalgia sembari menikmati penampilan teater dari para mahasiswa semester 5 PBSI dan juga menyimak pembacaan puisi dari beberapa maestro sastra di Trenggalek seperti Pak Emyani, Kang Tosa Poetra, Cak Sulton dan juga Pak Widi Suharto.
Tiba di STKIP kurang lebih pukul setengah 8, pagelaran sastra tersebut belum dimulai. Begitu turun dari mobil, saya dan Pak Bangkit dihampiri oleh seorang mahasiswi yang teramat sopan. Selain menjabat tangan kami, ia pun menundukkan kepalanya seraya hendak mencium punggung tangan kami yang kasar. Perlakuan yang sangat sopan ini mungkin pantas jika ditujukan kepada Pak Bangkit yang telah membagikan ilmu dan pengalamannya. Namun untuk diri saya sendiri, saya masih bertanya-tanya apakah saya layak mendapatkan perlakuan yang sedemikian rupa. Kesopanan mahasiswi yang juga berparas rupawan tersebut bercabang menjadi dua di dalam benak saya.
Cabang pertama adalah munculnya betikan rasa ‘ujub, bahwasanya ternyata orang yang dalam tanda kutip sembambung saya, masih ada yang memperlakukan seperti orang mulia saja. Sedangkan cabang kedua, adalah munculnya hasrat. Seorang lelaki bujang mendapati di depannya seorang perempuan berparas rupawan serta menampakkan keanggunan dan kesopanan yang alamiah, tentu saja serta merta terpatri di dalam pikirannya: apakah perempuan ini sudah dipinang oleh saudara lain yang seiman?
Kembali ke cerita tentang pagelaran sastra, ternyata waktu tiba di STKIP para aktor dan kru teater sedang melakukan persiapan akhir. Cak Sulton yang juga menjadi produser pengarah kegiatan teater tersebut tampak wira-wiri antara ruang UKM Teater ’28 dengan ruang Bima 1 tempat pagelaran sastra tersebut dihelat. Saya sendiri sempat menyalaminya dan berbasa-basi sebentar sekedar untuk menanyakan kabar. Karena ia begitu sibuk, Pak Bangkit pun mengajak saya untuk ngeteh di Perpustakaan yang sedang sepi karena hari masih begitu pagi. Di perpustakaan ini, selain ngeteh dan ngobrol dengan Pak Bangkit, saya juga menyempatkan diri untuk mengintip disertasi gelar doktornya Pak Widi Soeharto tentang Resistensi pada karya-karya Pramoedya Ananta Toer.
Suasana di perpustakaan ini yang tidak banyak berubah membangkitkan kenangan lama saya ketika masih menjadi mahasiswa STKIP antara tahun 2013-2018. Bisa dikatakan perpustakaan STKIP inilah yang awalnya memantik kecintaan saya pada dunia sastra. Di perpustakaan inilah saya bertemu dengan buku Sastra Perlawanan tulisan Nurani Soyomukti yang berusaha menyuarakan sastra sebagai media perlawanan atau perjuangan dalam melawan ekses-ekses budaya yang menindas. Selain itu, di perpustakaan ini pula saya pertama kali membaca karya Pramoedya Ananta Toer. Waktu itu, saya menemukan novel berjudul Rumah Kaca. Setelah larut dan menamatkannya, baru saya ketahui ternyata buku tersebut merupakan bagian keempat dari Tetralogi Buru-nya Pak Pramoedya. Pengetahuan ini menarik minat saya untuk mencari 3 buku pertama: Bumi Manusia, Jejak Langkah, dan Anak Semua Bangsa.
Baca juga:
Kenapa Harus Mencintai Sastra
Secara pribadi saya akui, meskipun secara tidak langsung, dua tokoh inilah yang mendorong saya untuk menulis karya saya sendiri. Saya juga terbantu dengan tempaan dari beberapa dosen pengampu matakuliah Kesusasteraan dan Menulis, terutama Pak Bangkit yang aktif mendorong mahasiswa untuk berkarya. Puncaknya –yang sebenarnya masih merupakan penanda awal—pada bulan Oktober tahun 2016 saya memberanikan diri menerbitkan sebuah buku kumpulan puisi berjudul Catatan Seorang Mbambung.
Nostalgia saya di perpustakaan kampus tersebut harus terhenti karena adanya panggilan alam dari perut saya yang tiba-tiba saja terasa meletup-letup. Tidak ingin mengotori dan menimpakan bau busuk pada tempat yang termasuk sakral ini, saya pun langsung pergi keluar menuju Water Closet untuk menunaikan hajat yang memang tidak bisa ditunda-tunda. Apa yang saya lakukan atau saya renungkan di tempat tersebut tentu tidak perlu diceritakan ulang. Di sini, saya hanya akan mengajak Anda langsung melompat ke acara pembukaan sastra tersebut.
Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, acara pagelaran sastra tersebut diadakan di Ruang Bima 1 lantai dua dekat tangga sebelah selatan. Ruangan itu pun telah disetting sedemikian rupa. Di dalam ruangan tersebut, suasana remang-remang akan terasa. Jendela-jendela kaca di ruangan tersebut ditutupi oleh tirai hitam supaya cahaya dari luar tidak masuk mengganggu pencahayaan yang digunakan untuk efek pentas teater. Para penonton pun duduk lesehan di atas karpet yang telah disediakan oleh panitia. Beberapa makanan kecil atau snack dihidangkan sebagai camilan sambil menikmati pentas yang disajikan.
Pada waktu pagelaran sastra tersebut dibuka oleh pembawa acara –saya tidak tahu persis siapa dia, namun saya menerka perempuan pembawa acara tersebut mungkin adalah mahasiswi semester 5 juga– saya duduk lumayan di depan bersama dengan Kang Efri di sebelah kanan saya. Pembawa acara tersebut tampil dengan penuh percaya diri. Setiap kali dia melaksanakan tugasnya untuk memandu acara dia selalu menampilkan wajah sumringahnya yang sedikit banyak mampu mengangkat antusiasme para penonton untuk menikmati pagelaran yang disajikan hingga akhir. Dia membacakan seluruh rangkaian acara pada pagelaran tersebut. Dan setelah acara benar-benar dibuka dengan pembacaan Ummul Kitab dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, ia pun undur diri untuk mempersilakan 3 orang penting di STKIP untuk menyampaikan sambutan.
Tiga orang penting yang saya maksud tersebut adalah Ibu Dwi Kuncorowati selaku Ketua STKIP PGRI Trenggalek, Pak Rohmad Febrianto –Kaprodi Pendidikan Bahasa Indonesia, dan Pak Bangkit Adi Swasono sebagai dosen pengampu matakuliah Kesusasteraan tersebut. Saya pribadi tidak ingat betul apa yang ketiga beliau tersebut sampaikan secara keseluruhan. Namun, samar-samar dalam bentuk penggalan-penggalan, saya bisa sedikit mengingat tentang apresiasi terhadap mahasiswa yang akan tampil, tentang proses kreatif yang telah mereka jalani. Untuk sampai hari H pentas tersebut, mereka harus menjalani masa latihan selama kurang lebih dua sampai tiga bulan. Latihan tersebut saya kira cukup intensif dan dalam tanda kutip menyiksa karena langsung dibimbing oleh Pak Widi Suharto, seorang dosen pengajar sekaligus sastrawan dan budayawan Trenggalek.
Selain apresiasi tersebut, masih tersembul sedikit ingatan tentang sambutan Ibu Ketua yang menceritakan tentang pengalamannya selama masih menempuh pendidikan sarjana dahulu. Beliau yang juga lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, kalau tidak salah dari Universitas Malang, juga sempat memperoleh tempaan dari dosen pengampu sastranya dahulu untuk menampilkan sebuah pentas seni atau pagelaran sastra. Beliau yakin bahwa apa yang ia dapat dari pagelaran sastra tersebut bermanfaat bagi dirinya yang berkecimpung di dunia pendidikan. Tentu hal tersebut bukanlah suatu hal yang muluk-muluk, sebab dengan bersastra seorang akan lebih mampu dalam menjiwai berbagai macam karakter. Dan di dalam dunia pendidikan, seorang guru yang memahami berbagai macam karakter tersebut, pendekatan mendidiknya akan jauh lebih terasa mengena daripada guru-guru yang sekedar bermodalkan penguasaan materi dan perangkat pembelajaran saja.
Berlanjut ke rangkaian acara berikutnya, pagelaran sastra tersebut menampilkan pembacaan puisi yang mayoritas ditampilkan oleh para mahasiswa semester 5 yang memang diharuskan tampil untuk dinilai. Jujur saya harus mengakui, saya tidak mampu menyerap pembacaan puisi mereka. Pertama, karena mereka, menurut saya, sekedar membacakan puisi-puisi para penyair terkenal. Dan yang kedua, mungkin adalah rasa rendah diri saya yang timbul karena saya pribadi tidak pernah mampu dan mau membacakan puisi dengan baik, dengan standar-standar pembacaan yang biasa disajikan dalam lomba-lomba. Sebab kerendahan inilah saya perlu menempatkan diri saya pada ketinggian, pada sebuah keangkuhan yang akhirnya terlewat pulalah berbagai macam keindahan sederhana yang mestinya bisa dinikmati bersama. Bisa dikatakan, ini merupakan semacam apologetika.
Beruntung kondisi jiwa yang meninggi ini tidak berlangsung lama. Ketika Pak Widi Suharto maju untuk membacakan tiga judul puisi karya beliau sendiri, jiwa ini sontak kembali ke tempatnya yang semestinya. Puisi pertama yang saya lupa judulnya –kalau tidak salah mendeskripsikan berbagai macam fenomena yang beredar di alam kenyataan. Untuk puisi kedua yang lagi-lagi saya lupa judulnya, berbicara tentang sosok ibu, seorang perempuan mulia yang melahirkan anak manusia untuk menjelajahi kehidupan dunia yang fana. Sedangkan puisi terakhir berjudul ‘Siapa’. Puisi ini mengajak para pendengar untuk merenungkan tentang sangkan paraning dumadi. Di dalamnya dideskripsikan berbagai macam nikmat yang diperoleh manusia dalam hidup. Segala kenikmatan itu sesungguhnya berasal dari mana? Dan degup hidup itu sendiri siapa gerangan yang pertama menginisiasinya? Apakah ia muncul dari ketiadaan atau dari Siapa?
Puisi terakhir dari Pak Widi Suharto ini bagi saya merupakan sebuah klimaks pada pagelaran sastra tersebut. Setidaknya itulah kacamata subyektif saya sebagai seorang penonton atau penikmat. Terlebih setelah penampilan pak Widi Suharto tersebut diikuti dengan untaian nada khas pesinden yang naik tinggi mungkin satu atau dua oktaf. Nada-nada yang merambat melalui medan gelombang dan menyentuh gendang telinga saya itu benar-benar membuat saya tersuruk untuk lebih masuk ke pedalaman yang sempat terabaikan. Saya larut dalam nada-nada tersebut, bahkan jika saya sama sekali tidak mencermati liriknya sekalipun. Dua mata ini sempat sembap dan dari ujung-ujungnya sempat pula meneteskan air matra.
Karena mencapai klimaks lebih cepat dari yang diharapkan, akhirnya saya tidak terlalu mampu menikmati suguhan teater berjudul Dukun-Dukunan yang sesungguhnya merupakan jamuan inti. Pentas yang disajikan dengan meniru konsep OVJ yang lebih bernuansa komedi di mana pemain terlibat interaksi yang cukup intensif dengan para penonton tersebut seperti berlalu begitu saja. Saya memandang ke arah penampilan, terkadang sekadar tersenyum ketika ada adegan yang dianggap lucu. Selebihnya mungkin saya hanya mengamati gerak demi gerak yang berderap menuju penutupan, tanpa menimbang rasa, tanpa lagi mengkalkulasikan lagi ekspektasi yang membeliut di hadapan tanda tanya.