“Kabeh iku sawang sinawang”, begitulah kata seorang yang kalah berdebat. Ia tidak perlu menjelaskan lebih lanjut yang ia maksudkan dengan sawang sinawang karena dianggap pernyataan ini sudahlah benar sebagaimana adanya. Perilaku yang demikian menjadikan pernyataan sawang sinawang tersebut kehilangan makna filosofisnya. Kompleksitas yang terkandung di dalam permasalahan tidak dapat terurai. Orang-orang yang terlibat dan berdebat berkaitan dengan sesuatu permasalahan pun terjebak pada sebuah jalan buntu yang gelap. Masing-masing menyerah dengan argumennya ketika salah satu pihak telah mengeluarkan jurus mati sawang sinawang.
Berkaitan dengan hal tersebut, artikel kali ini akan membahas makna filosofis sawang sinawang sehingga menjadi pernyataan yang ‘mematikan’. Selain itu, bagaimanakah kompleksitas metodologis yang mengiringi aktifitas sawang sinawang tersebut? Selengkapnya silahkan simak pembahasan berikut ini.
Makna Filosofis Sawang Sinawang
Frasa sawang sinawang merupakan sebuah frasa yang berasal dari ungkapan bahasa Jawa. Frasa ini terdiri dari dua kata, yaitu sawang atau yang berarti melihat, dan sinawang yang berarti dilihat. Berikut ini akan diuraikan frasa tersebut kata per kata. Pertama, akan dimulai dengan menguraikan makna ‘sawang’. Kemudian dilanjutkan dengan uraian tentang makna ‘sinawang’.
Uraian Makna Kata ‘Sawang’ pada Sawang Sinawang
Sebagaimana yang telah diketahui, sawang atau melihat ini bertujuan untuk mengetahui sesuatu. Dengan penglihatan seseorang dapat mengidentifikasi benda-benda yang ada di sekitarnya. Ia akan mampu mencermati bentuk dan warnanya serta karakteristik-karakteristik yang lain.
Tentu saja, kata sawang yang makna awalnya ‘melihat’ tersebut tidak bisa diisolasi begitu saja. Dengan meninjau tujuan melihat untuk mengetahui tersebut, maka kata sawang ini, maknanya juga dapat diperluas. Seseorang mengetahui tidak hanya menggunakan indera penglihatan atau mata saja. Ia juga dapat mengetahui dengan telinganya, yaitu dengan mendengarkan atau menyimak suara-suara yang beredar. Singkatnya seluruh panca indera yang melekat pada manusia merupakan sebuah fitur yang bermanfaat untuk mencerap atau mengetahui dunia eksternal tempat ia hidup.
Diangkat kepada tingkat yang lebih tinggi, sebenarnya tujuan sawang ini tidak hanya sekedar mengetahui. Lebih dari itu, ia bertujuan untuk memahami. Sesuatu yang sekedar diketahui biasanya tidak memiliki signifikansi yang terlampau berarti. Boleh dikatakan setelah tahu, sangat mungkin seseorang akan mengabaikan atau tidak menggunakan pengetahuan sama sekali. Hal ini berbeda dengan memahami. Memahami selalu memiliki tujuan yang bersifat komprehensif. Yang pada awalnya sekedar diketahui haruslah menjadi satu hal yang bermanfaat, entah manfaat itu bersifat psikologis maupun pragmatis.
Sebab itulah dalam urusan memahami, selain keaktifan panca indera, di sana juga menuntut lebih pada keaktian aktifitas berpikir. Seorang manusia bisa memahami sesuatu dengan mulai mengamati atau memperhatikan sesuatu dengan seksama. Namun ia tidak bisa berhenti hanya di situ. Ia mesti melanjutkan perjalanan memahaminya dengan membaca. Tentu, pengertian membaca di sini, bukan sekedar membaca aksara atau tulisan. Namun, lebih dari itu, juga membaca dalam arti menganalisa keadaan atau kenyataan yang ada di sekitar.
Dari pembacaan tersebut, pemahaman seseorang bisa lebih dari sekedar pernyataan. Dengannya ia bisa menemukan pola-pola, memetakan masalah-masalah dan mencari solusi terbaik untuk memecahkannya, dan melakukan abstraksi atau pengambilan kesimpulan atas segala fenomena-fenomena atau pengalaman yang pernah dialami. Selain itu, pemahaman juga bisa memantik munculnya pertanyaan-pertanyaan baru di mana usaha gigih untuk menemukan jawaban-jawabannya bisa mengantarkan peradaban manusia kepada perkembangan yang lebih baik.
Uraian Makna Kata ‘Sinawang’ pada Sawang Sinawang
Apabila makna kata sawang adalah ‘melihat’, maka kata sinawang adalah sebaliknya yaitu ‘dilihat’. Setiap aksi atau perbuatan yang dilakukan oleh seseorang tidak akan luput dari perhatian atau pengawasan orang lain. Karena itulah, dia tidak bisa sekehendak hatinya melakukan suatu perbuatan tanpa mempertimbangkan penilaian atau tanggapan orang lain. Setiap aksi memiliki konsekuensi, yaitu sebuah reaksi yang bisa jadi baik dan bisa juga buruk tergantung dari sudut pandang mana yang digunakan.
Ambillah contoh, seorang guru yang memberikan jam belajar tambahan tanpa sepengetahuan wali murid dan guru-guru yang lain. Bisa jadi, ia akan memperoleh respon positif atas inisiatif yang dia lakukan untuk mencerdaskan para anak didiknya. Namun di sisi lain, karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya, dia justru bisa mendapatkan penilaian yang negatif. Bisa jadi ada salah satu wali murid yang menganggap jam tambahan di sekolah tersebut tidak penting karena selain di sekolah anaknya juga perlu belajar bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Ada kegiatan-kegiatan lain di luar sekolah yang juga bermanfaat untuk pertumbuhan dan perkembangan para peserta didik tersebut.
Contoh lain adalah seorang pemimpin suatu negeri yang hendak memindahkan ibukota negaranya ke suatu wilayah yang masih terdapat banyak hutan yang bisa menjadi paru-paru bagi kehidupan. Bisa jadi kebijakannya tersebut memperoleh tanggapan positif dari sebagian warga karena dianggap akan menjadi pemicu bagi pemerataan kesejahteraan ekonomi yang katanya selama ini terpusat di satu wilayah saja. Di lain sisi, pembangunan ibukota tersebut dikhawatirkan oleh beberapa pihak justru akan merusak lingkungan hidup dan mengalienasi masyarakat adat yang sebenarnya memiliki local wisdom yang luar biasa untuk terus berperan menjaga kelestarian lingkungan.
Kata sinawang pada frasa sawang-sinawang tersebut juga hendak mempertahankan kesadaran bahwasanya manusia selain sebagai subjek, dia juga merupakan objek. Sebagai suatu objek, dalam gerak hidupnya manusia selalu tidak pernah bebas dari keadaan yang ada di sekitarnya. Keadaan tersebut bisa jadi merupakan sebuah kondisi sosial di mana golongan masyarakat tertentu memiliki daya kekuasaan yang lebih besar daripada golongan yang lain. Bisa juga sebenarnya manusia hanya merespon atau bereaksi terhadap segenap kejadian atau fenomena yang melingkupi hidupnya. Dengan kata lain, aksi manusia yang masih berstatus makhluk tersebut tidak pernah independen.
Kompleksitas Metodologis Sawang Sinawang
Dari uraian kata per kata dari frasa sawang-sinawang tersebut, muncullah sebuah kompleksitas metodologi filosofis. Dalam menentukan suatu kebenaran atau menilai suatu pernyataan, seseorang harus menjadi seorang pengamat yang aktif dalam hal sawang, yaitu mengamati dan memahami dengan seksama setiap uraian kejadian yang terjadi di hadapannya. Dari pengamatan tersebut, dia kemudian mengambil sebuah kesimpulan untuk dikomunikasikan kepada orang lain. Ketika terjadi komunikasi inilah maka keabsahan kesimpulan yang dia ambil akan mendapatkan ujian dari lawan bicaranya. Seseorang yang telah menerapkan filosofi sawang-sinawang, dia akan mampu menempatkan diri dengan baik ketika apa yang diungkapkan mendapatkan kritikan atau bahkan cercaan dari lawan bicaranya.
Terdapat kompleksitas yang lain dalam sawang-sinawang, yaitu terkait pertanyaan: bagaimana melihat hasil penglihatan atau pengamatan orang lain tentang diri kita. Juga pertanyaan: bagaimana mencermati ekspektasi atau harapan orang lain tentang diri kita. Apakah cukup menggunakan dugaan, asumsi atau perkiraan semata. Jika harus menggunakan dugaan atau perkiraan, dugaan seperti apakah yang bisa menunjukkan kemungkinan yang lebih akurat?
Jawaban terbaik dari pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah dengan mencoba mengemukakan berbagai macam asumsi di dalam pikiran tentang tanggapan yang mungkin akan diberikan. Tentu, asumsi ini mestilah asumsi yang berlandaskan pada kenyataan. Misalnya, adalah dengan mencoba menganalogikan sesuatu atau seseorang yang belum diketahui tersebut dengan karakteristik lingkungan atau orang-orang yang ada di sekitarnya. Namun, perlu diperhatikan bahwa asumsi yang berbau stereotipe hanyalah digunakan sebagai suatu pembuka misteri. Pikiran kita perlu mewaspadai adanya sesuatu kemungkinan lain yang unik atau yang lain daripada yang lain. Hal ini penting, sehingga kita bisa memberikan penghormatan ataupun kritik yang proporsional.
Selain itu dari berbagai macam asumsi yang diproses dalam pikiran tersebut, kita juga bisa memilah-milah ke dalam dua kategori besar, yaitu baik dan buruk. Di sini, kita juga bisa melakukan semacam simulasi mental tentang bagaimana menanggapi dua kemungkinan tanggapan yang akan diberikan tersebut. Jika kita mendapatkan sebuah tanggapan positif, kita bisa menempatkan perasaan senang kita pada sebuah kondisi yang seimbang atau sedang-sedang saja. Hal ini penting supaya kita tidak terjebak pada sebuah egoisme rasa bangga yang bisa mengarahkan kita kepada keangkuhan.
Begitu juga sebaliknya, ketika kita mendapatkan tanggapan negatif, kita telah mempersiapkan mental yang cukup untuk menanggapi kritikan atau bahkan cacian yang diberikan. Kita tidak terjebak pada yang namanya terbawa perasaan atau perasaan emosional dalam menanggapi hal yang buruk tersebut. Pikiran kita tetap terjaga untuk menyampaikan bantahan-bantahan yang lebih cerdas dan argumentatif sehingga maksud kita bisa tersampaikan seutuhnya.
Penutup
Demikianlah uraian makna ungkapan sawang-sinawang. Berdasarkan uraian tersebut, seseorang yang memegang teguh ajaran sawang-sinawang tidak mudah mengucapkannya begitu saja kepada lawan bicaranya. Apalagi jika ia mengucapkannya dengan niatan untuk membuat sebuah pembahasan atau perdebatan tentang suatu permasalahan terhenti tanpa ada suatu kesimpulan yang berarti. Seseorang yang sawang-sinawang adalah seorang yang mampu melihat berbagai permasalahan dari berbagai macam sisi. Tidak hanya sisi yang menjadi bagian subyektif dirinya sendiri, namun juga sisi lain yang kontradiktif.
Dengan pemahaman terkait beragam sudut pandang ini, ia tidak akan mudah terbawa perasaan atau emosi sesaat dalam menyikapi permasalahan yang diajukan kepadanya. Pikirannya akan mampu mengurai permasalahan tersebut dengan baik. Sedangkan perasaannya mampu menerima berbagai kemungkinan dari tanggapan-tanggapan yang diberikan kepadanya. Positif dan negatif yang pada awalnya terlihat berlawanan, dengan sawang-sinawang keduanya akan menuju kepada sebuah saluran yang sama, saluran menuju yang satu di mana segalanya terangkum pada sebuah keberagaman yang terpadu.