Kategori
Artikel Islami Esai/Artikel

Ngabuburit

Salah satu kata populer yang muncul setiap bulan Ramadhan adalah ngabuburit. Kata ini mengacu pada aktifitas di sore hari menjelang waktu berbuka atau sebelum maghrib selama Ramadhan. Aktifitas yang muncul, yang dikaitkan dengan ngabuburit bisa bermacam-macam. Namun, kebanyakan orang lebih mengaitkan kata ngabuburit ini dengan kegiatan keluar rumah, menuju tempat-tempat yang ramai atau tempat-tempat hiburan seperti alun-alun atau tempat lain di mana tersedia stand jajanan untuk berbuka.

Kegiatan keluar rumah menuju tempat yang ‘menghibur’ ini terkadang perlu diwaspadai. Maksud dari waspada ini adalah jangan sampai kegiatan menjelang berbuka tersebut mengurangi faidah berpuasa. Berkurangnya faidah berpuasa tersebut disebabkan karena dalam tanda kutip hawa nafsu seperti dipanaskan atau dipersiapkan untuk diumbar. Pada satu tempat, berhimpun laki-laki dan perempuan. Seseorang yang pikirannya suwung terkadang menjadikan ajang ngabuburit ini untuk cuci mata. Padahal hakikatnya, cuci mata ini justru mengotori hati dan pikiran, karena nafsu ngeres ketika melihat lawan jenis yang menarik.

Sebaiknya, untuk kegiatan ngabuburit ini lebih baik di rumah saja, terutama jika makanan untuk berbuka telah tersedia. Namun jika belum ada, cukuplah keluar rumah sekedarnya untuk membeli makanan. Tidak perlu ke mana-mana, karena selain akan mengurangi faidah berpuasa, juga akan mengeluarkan ongkos bensin yang lebih. Di rumah, kita bisa ngabuburit dengan membaca Al-Qur’an, membaca buku-buku atau kitab-kitab yang dapat menambah keimanan dan keislaman, mendengarkan ceramah atau kajian online via smartphone, ataupun sekedar bercengkerama dengan anggota keluarga yang ada di rumah sebagai bentuk rasa syukur kita terhadap anugerah keluarga yang menyayangi kita dan menjadi sandaran hidup kita.

Sebenarnya tidak mengapa keluar rumah untuk ngabuburit. Yang perlu diperhatikan hanyalah mencari tempat dan kegiatan yang berfaidah. Kita bisa mengunjungi masjid menghadiri majelis ta’lim, kemudian ikut berbuka bersama dengan menu sederhana sekedar untuk membatalkan puasa, sebelum shalat maghrib berjamaah untuk menyembah Tuhan yang Esa. Atau, kita bisa keluar untuk berbagi rejeki atau takjil untuk berbuka terutama kepada orang-orang yang kurang beruntung kehidupannya.

Dengan melakukan kegiatan-kegiatan ngabuburit seperti ini insyaAllah puasa kita akan lebih berfaidah. Hikmah puasa akan lebih terasa. Di satu sisi, kita berpuasa untuk mengendalikan nafsu diri yang membabi buta. Di sisi lain, kita berbagi kepada sesama untuk menyebarkan kasih sayang sesama manusia. Dengan kata lain, rasa kemanusiaan kita akan terasah, rasa kemanusiaan yang terlatih untuk menelusuri haribaan Tuhan yang Maha Esa.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Ambasaja

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca