Mokel telah menjadi hal yang biasa. Orang-orang yang tidak puasa di bulan Ramadhan, atau orang-orang yang pada awalnya berniat puasa, namun di tengah hari membatalkan puasanya karena bujukan atau rayuan teman, tidak lagi sungkan menampakkan dirinya. Dengan bangga mereka memotret diri tengah berada di sebuah warung dan tampak di hadapannya sepiring nasi dan segelas minuman dingin yang menyegarkan. Bahkan beberapa anak muda merasa tidak gaul jika tetap berpuasa dan tidak menuruti trend mokel ini. Bagi mereka, puasa adalah ketinggalan jaman, tradisional atau hanya kebiasaan orang-orang tua atau orang-orang antik jaman dahulu.
Dan identitas modern bagi mereka adalah melawan yang tradisional tersebut. Dengan demikian, puasa sebagai latihan pengendalian diri dan hawa nafsu ditentang dengan mengumbar nafsu makan-makan sampai kenyang. Orang-orang ini tidak memikirkan tentang manfaat dan hikmah apa yang terdapat di balik puasa. Mereka juga tidak berpikir bahwa mengumbar nafsu makan-makan sampai kenyang juga tidak baik bagi kesehatan mereka sendiri, misalnya dapat memicu obesitas yang telah terbukti secara ilmiah memiliki dampak mematikan.
Lebih jauh lagi, orang-orang dari kalangan ini yang sengaja menyebar di medsos acara makan-makannya di siang bolong bulan Ramadhan juga secara nyata telah kehilangan rasa simpati dan empatinya, tidak hanya terhadap orang-orang yang puasa, namun juga terhadap orang-orang dhu’afa yang kurang beruntung. Dengan kelapangan ekonominya, orang-orang ini, jika tidak dikuasai nafsu makan-makan sampai kenyangnya, tentu dapat menyisihkan sebagian hartanya untuk membantu orang-orang yang kurang beruntung tersebut.
Namun, semua itu tidak terjadi. Bahkan segelintir dari orang-orang yang gemar mokel berusaha memelintir logika tentang puasa. Ada dari mereka yang mengatakan bahwa orang-orang yang puasa sudah semestinya menghargai dan memuliakan orang-orang yang mokel ini. Kata sebagian mereka, berpuasa itu untuk menyucikan diri. Dengan kata lain orang yang puasa adalah orang-orang yang tidak dalam keadaan suci, sehingga orang-orang yang tidak puasa atau yang gemar mokel berarti adalah orang-orang yang suci karena mereka tidak perlu berpuasa untuk menyucikan diri. Kemudian dengan berseloroh sebagian orang ini menyebut orang-orang yang berpuasa ini sebagai orang yang hina.
Secara pribadi, saya menganggap orang-orang yang berpuasa maupun yang tidak puasa, kedua-duanya setara. Kedua-duanya sama hina, kotor dan tidak suci. Kedua-duanya adalah sama-sama makhluk yang karena adanya kehendak yang tidak dapat ditentang ia mengada dalam kehidupan ini. Sebelumnya ia tidak ada, dan ketika tidak ada tidak mungkin ia mampu merencanakan keberadaannya. Ia membutuhkan sesuatu yang lain yang ada terlebih dahulu untuk itu. Karena membutuhkan dan tergantung inilah, maka kedua-duanya setara dalam kehinaannya.
Hanya saja, saya tetap mendukung orang yang berpuasa. Mereka adalah orang-orang yang menyadari tentang kehinaan atau kerendahannya. Dengan kesadaran ini, mereka berusaha untuk menyucikan diri, tidak hanya dengan berpuasa, namun juga dengan ibadah-ibadah lain yang mampu menghubungkan jiwa-jiwa yang tergantung ini dengan Dzat yang menciptakan segala keterbatasan dan ketergantungan yang dialami oleh makhluk. Selain itu, puasa juga lebih menyehatkan dan berguna untuk melatih simpati dan empati kemanusiaan seorang hamba. Karena alasan itulah puasa selalu dibarengi dengan bersedekah. Orang-orang yang serius puasanya juga tergerak hatinya untuk mendermakan sebagian hartanya, lebih dari bulan-bulan biasanya.