Kategori
Esai/Artikel Filsafat & Sosial-Budaya

Spiritualitas Sekuler ala Karen Armstrong

Menerobos Kegelapan adalah sebuah buku autobiografis yang ditulis oleh Karen Armstrong, penulis bestseller Sejarah Tuhan. Buku yang diterbitkan oleh Mizan pertama kali pada tahun 2004 tersebut merupakan terjemahan dari versi dalam bahasa Inggris yang berjudul The Spiral Staircase: My Climb Out of Darkness terbitan Alfred A. Knopf, New York. Buku tersebut menceritakan pengalaman pribadi Karen Armstrong sebagai seorang mantan biarawati yang harus jatuh bangun dalam usahanya untuk menyesuaikan diri dengan gemerlap kehidupan modern.

Ketimpangan yang terjadi antara ajaran-ajaran yang dia terima di biara dengan dinamika kebudayaan modern membuat jiwanya terguncang hebat yang pada puncaknya dia didiagnosa menderita epilepsi lobus temporal karenanya. Kendati keputusan Karen Armstrong untuk lepas dari kehidupan biara didasari atas sikap kritis atau pemberontakannya terhadap disiplin religius biara yang terlalu ketat, kesewenang-wenangan para superior dan beberapa hal yang dirasa tidak manusiawi, namun tidak dapat dipungkiri disiplin tersebut begitu membekas dan memberikan pengaruh yang signifikan.

Karen yang mencoba membuang segala hal yang berbau tentang agama ketika menjalani kehidupan modernnya sebagai orang awam selalu terjerembab ke dalam sana berulang-ulang. Peran intelektual yang dia emban sebagai seorang penulis mengharuskannya untuk selalu berkutat dengan teks-teks keagamaan. Namun pergulatannya sebagai pemikir bebas tersebut membawanya untuk meluaskan cakrawala dan perspektifnya tentang agama, tidak hanya pada satu agama atau kepercayaan tertentu,namun juga berusaha untuk menjangkau keseluruhan. Pada akhirnya dia menemukan sebentuk spiritualitas dalam citarasa sekuler dalam hingar-bingar kehidupan modern yang gemerlap yang membebaskannya dari kegelapan. Setelah jatuh bangun pada tangga spiral itu, akhirnya ia sampai pada puncak titian tangga.

Spiritualitas dalam citarasa sekuler itulah yang akan menjadi pembahasan pada artikel ini. Untuk menguraikan pembahasan tersebut, artikel ini akan dibagi ke dalam empat sub-pembahasan, yaitu 1) Perbedaan Spiritualitas dan Religiusitas, 2) Ortodoksi versus Ortopraksi, 3) Spiritualitas Sekuler I: Aktifitas Intelektual, dan 4) Spiritualitas Sekuler II: Simpati dan Empati Kemanusiaan. Sebisa mungkin dalam pembahasan juga akan ditampilkan kutipan-kutipan dalam buku Menerobos Kegelapan karya Karen Armstrong tersebut sebagai bukti otentik pendukung argumen-argumen yang disampaikan. Selengkapnya, silahkan simak pembahasan berikut ini.

Perbedaan Spiritualitas dan Religiusitas

Sebelum menuju pada inti pembahasan, terlebih dahulu kita akan mengkaji perbedaan antara spiritualitas dan religiusitas. Perbedaan tersebut sangat penting untuk diutarakan di sini untuk menghindari kesalahpahaman dalam mengartikan konsep-konsep yang sering bertumpang tindih makna satu sama lain. Spiritualitas seringkali dipahami memiliki makna yang sama dengan religiusitas. Padahal jika dikaji secara lebih mendalam, akan tampak jelas perbedaan-perbedaan di dalamnya.

Merujuk pada pengertian dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, spiritualitas berarti sumber motivasi dan emosi pencarian individu yang berkenaan dengan hubungan seseorang dengan Tuhan. Sedangkan religiusitas adalah pengabdian terhadap agama atau kesalehan. Berdasarkan pengertian di atas, spiritualitas merupakan jalan kerohanian menuju Tuhan, tanpa harus terikat dengan disiplin dari agama tertentu. Dengan kata lain seorang yang menempuh jalan spiritual tidak akan identik dengan orang saleh atau religius.

Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri pula bahwa religiusitas juga dapat membawa seseorang menuju marwah spiritual untuk dekat kepada Tuhan. Orang-orang yang taat beribadah sesuai dengan ajaran agamanya masing-masing bertujuan untuk mendekatkan jiwanya yang fana kepada Tuhan yang Maha kekal. Hanya saja ketaatan ini belum bisa dikatakan menyentuh esensi spiritualitas jika di dalam diri seseorang masih terdapat kecenderungan fanatisme sempit yang seringkali berujung pada tindak intoleransi kepada yang lain. Dengan kata lain, religiusitas yang baik adalah ketaatan yang mampu mengarah menuju spiritulitas yang universal.

Ciri Khas Spiritualitas: Ortopraksi vs Ortodoksi

Salah satu ciri khas dari spiritualitas adalah ortopraksi. Dalam ortopraksi, ajaran yang ada lebih menekankan tentang pentingnya bertindak dengan benar dan tepat. Benar dan tepat di sini berarti tindakan-tindakan yang dilakukan demi mencapai derajat tinggi spiritualitas tidak melanggar prinsip-prinsip kemanusiaan. Ortopraksi ini berbeda dengan ortodoksi. Dalam buku Menerobos Kegelapan karya Karen Armstrong tersebut, perbedaan antara ortopraksi dan ortodoksi tersebut diilustrasikan dalam sebuah percakapan antara Karen Armstrong dan Hyam Maccoby, seorang penganut Judaisme.

“Kami punya ortopraksi sebagai ganti ortodoksi,” jawab Hyam dengan tenang, mengelap mulutnya dan menyapu beberapa remah dari atas meja. “’Praktik yang benar’ ketimbang ‘keyakinan yang benar’. Itu saja. Kalian orang Kristen begitu ribut soal teologi, tapi itu tidak sepenting seperti yang Anda pikirkan. Teologi itu hanya puisi, sebenarnya cara untuk bicara tentang yang tidak terungkapkan. Kami orang Yahudi tidak begitu mempersoalkan apa yang kami percayai. Kami hanya melakukannya.”

“Atau tidak melakukannya –kalau Anda mengikuti Hillel,”….

Karena tidak mempermasalahkan tentang keyakinan tersebut, maka spiritualitas pun dapat juga bercitarasa sekuler. Dalam buku Menerobos Kegelapan karya Karen Armstrong tersebut, spiritualitas sekuler yang ditandai dengan ortopraksi atau tindakan yang benar terbagi ke dalam dua hal, yaitu aktifitas intelektual, seperti membaca, menulis dan mengajar; dan simpati dan empati kemanusiaan, seperti mengulurkan bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan.

Spiritualitas Sekuler I: Aktifitas Intelektual

Yang pertama adalah aktifitas intelektual. Aktifitas intelektual ini merupakan kegiatan-kegiatan yang lebih mengedepankan aspek berpikir. Yang termasuk ke dalam aktifitas ini di antaranya adalah membaca, menulis dan melakukan penelitian. Segala aktifitas belajar dan pembelajaran dapat masuk ke dalam aktifitas intelektual ini. Kegiatan belajar ini membangkitkan spiritualitas di dalam diri manusia karena belajar menumbuhkan semangat untuk menggali kebenaran faktual. Pengetahuan terhadap kebenaran faktual yang tentunya beragam tersebut akan meluaskan cakrawala pemikiran. Pada akhirnya kita akan terbuka terhadap beraneka macam perbedaan yang tersaji dalam kehidupan. Dan keterbukaan akan membuat kita mudah bersimpati dan berempati terhadap sesama manusia yang lain. Spirit kemanusiaan inilah yang semestinya coba dibangkitkan dalam aktifitas intelektual kita.

Pada buku Menerobos Kegelapan karya Karen Armstrong tersebut aktifitas intelektual yang membangkitkan spirit kemanusiaan itu diceritakan pada bab yang berjudul Kemuliaan yang Lemah. Karen Armstrong bercerita tentang proyek pengerjaan sebuah film dokumenter tentang awal mula Kristianitas. Film dokumenter yang mengambil latar kisah di kota suci Yerusalem dan beberapa kota lainnya tersebut pada awalnya dibuat dengan tujuan untuk membongkar kebobrokan dogma-dogma agama, terutama agama Kristen. Karen Armstrong yang pernah dibuat sakit hati oleh kehidupan biara sangat bersememangat dalam pengerjaan proyek tersebut. Meskipun begitu semangat tersebut tidak menjadikannya buta. Dalam pengerjaan film dokumenter tersebut, Karen Armstrong sebagai seorang intelektual melakukan penelitian terhadap berbagai macam literatur yang relevan secara mendalam. Dia juga mewawancarai beberapa narasumber ahli, terutama para rabi Yahudi yang paham seluk hubungan antara Yudaisme dan Kristen awal.

Penelitian Karen Arsmtrong tersebut membuka cakrawala pemikirannya tentang Yudaisme. Yudaisme yang dalam sudut pandang Eropa Kristen maupun Eropa sekuler sering dipandang sebelah mata dan tidak terlalu memiliki arti penting dalam perkembangan sejarah Kristen ternyata memiliki pengaruh yang signifikan. Pengetahuan terhadap kebenaran menghadirkan penghargaan terhadap kehadiran sesuatu yang lain. Kebesaran Eropa sebagai pengusung utama modernitas tidak akan mungkin ada tanpa pengaruh-pengaruh dari kebudayaan dan peradaban yang muncul dan berkembang terlebih dahulu, seperti halnya pengaruh Yudaisme dan Islam.

Dari segi religiusitas peran belajar sebagai aktifitas intelektual pun tidak kalah penting. Berkaitan dengan hal ini terdapat sebuah kutipan menarik dalam buku Menerobos Kegelapan karya Karen Arsmtrong tersebut. Dia menulis:

“… Mereka seperti orang Yahudi modern di yeshiva ini. Perdebatan ini merupakan sebentuk ibadah. Para rabi yang mengompilasi Talmud, sebagian di antaranya adalah orang sezaman dengan Yesus, tentunya berkali-kali menekankan bahwa “ketika dua atau tiga orang mempelajari Taurat bersama-sama, Tuhan hadir di tengah-tengah mereka” −pernyataan yang anehnya juga digemakan dalam salah satu ucapan Yesus. Mempelajari Hukum bukanlah sebuah kerja otak yang kering tandus. Kegiatan itu mengantar seorang Yahudi ke dalam kehadiran Tuhan…”

Spiritualitas Sekuler II: Simpati dan Empati Kemanusiaan

Pada bagian sebelumnya telah dijelaskan bahwa aktifitas intelektual yang serius dapat membuka cakrawala pemikiran kita yang pada akhirnya akan menumbuhkan simpati dan empati kemanusiaan yang universal. Simpati dan empati kemanusiaan inilah yang sesungguhnya merupakan inti dari spiritualitas. Semakin mudah kita mengesampingkan ego pribadi maupun golongan yang melekat pada diri kita, maka dapat dikatakan semakin tinggi sekaligus dalam tingkat spiritualitas yang kita miliki. Sebaliknya, semakin kita terjebak pada egoisme pribadi maupun fanatisme golongan yang sempit, maka semakin dangkal sekaligus rendah tingkat spiritualitas kita.

Berkaitan dengan hal ini, Karen Armstrong pada buku Menerobos Kegelapan tersebut menyinggung perihal spiritualitas empati. Dia menjelaskan,”Setiap tradisi utama−Konfusius, Buddhisme, dan Hinduisme,serta Monoteisme−mengajarkan spiritualitas empati, yang dengannya Anda dapat menalikan penderitaan Anda sendiri dengan penderitaan orang lain. Hyam mengutip Kaidah Emas Hillel yang mengajak kita untuk melihat ke dalam hati sendiri, menemukan apa yang mencemaskan kita, dan kemudian menahan diri untuk tidak menimpakan derita yang sama pada orang lain.”

Dengan kata lain, seseorang dengan spiritualitas yang tinggi, ia merupakan seorang yang tahan menanggung penderitaan. Ia merupakan seorang yang pandai bersabar dalam menghadapi berbagai macam ujian kehidupan, serta pandai bersyukur atas apa yang ia miliki saat ini. Penderitaan yang dialami oleh manusia yang lain, ia rasakan pula sebagai penderitaannya. Batin dan perasaannya bersimpati penuh atas penderitaan yang dialami orang lain tersebut, dan raganya juga tergerak untuk berempati, memberikan sumbangsih atau bantuan sekedar untuk meringankan penderitaan manusia yang lain tersebut.

Pada kondisi yang lapang ia dengan mudah berbagi kebahagiaan dan kesenangan yang ia miliki. Ia yakin kebahagiaan dan kesenangan yang ia bagi dengan sesama tersebut, tidak pernah berkurang sama sekali. Ia berlipatganda dalam ketulusan. Ia pun juga tidak akan mendengki dengan kebahagiaan dan kesenangan yang dirasakan oleh orang lain. Baginya melihat kebahagiaan dan kesenangan orang lain juga merupakan anugerah tersendiri yang ia terima dalam kehidupan. Ia merasakan ketersambungan yang tidak akan mudah putus.

Kesimpulan

Buku Menerobos Kegelapan karya Karen Armstrong memang menonjolkan spiritualitas kehidupan modern yang becitarasa sekuler. Spiritualitas tersebut ditandai dengan ortopraksi atau praktik yang benar ketimbang ortodoksi atau keyakinan yang benar. Ortopraksi atau praktik yang benar ini merupakan perbuatan, sikap atau tindakan yang lebih mengedepankan sisi kemanusiaan yang universal dan mencoba menepikan egoisme yang melekat pada diri maupun golongan.

Dalam buku Menerobos Kegelapan karya Karen Armstrong tersebut, spiritualitas ini tampak dalam dua hal. Pertama adalah aktifitas intelektual, seperti membaca, menulis dan melakukan penelitian. Aktifitas intelektual tersebut berguna untuk membuka cakrawala pemikiran yang pada akhirnya menumbuhkan penghargaan terhadap keberagaman yang tersaji dalam kehidupan. Yang kedua adalah simpati dan empati kemanusiaan yang merupakan konsekuensi paling logis yang bisa diharapkan dari pikiran yang terbuka.

Tidak ada spiritualitas, termasuk juga di dalamnya religiusitas, tanpa adanya simpati dan empati kemanusiaan. Bukan spiritualitas, termasuk juga di dalamnya religiusitas, jika perbuatan atau tindakan seseorang masih terpaku pada kepentingan egois semata.

Satu tanggapan untuk “Spiritualitas Sekuler ala Karen Armstrong”

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Ambasaja

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca