Siapakah manusia di dunia ini yang tidak pernah mengalami penderitaan? Siapakah orangnya di dunia ini yang selama hidupnya senantiasa bahagia dan penuh dengan sukacita? Tentu saja jawabannya adalah tidak ada. Kehidupan manusia adalah sebuah gelombang pasang surut yang selalu datang dan pergi berulang-ulang; kadang penuh tawa sukacita, kadang penuh derita yang menyesakkan dada.
Dan perihal derita ini terkadang bisa diartikan memiliki kandungan makna yang lebih tinggi daripada sukacita. Kondisi derita memungkinkan pikiran kita untuk terhenyak, untuk sejenak lebih mendalami berbagai macam sebab akibat yang menyertainya. Lebih dari itu, penderitaan menjadikan perasaan menjadi lebih peka dan pikiran lebih waspada dengan kemungkinan kejadian-kejadian yang serupa. Sebaliknya, sukacita lebih sering menjadikan manusia terlena.
Sebagaimana halnya sebuah kondisi, penderitaan pastilah terjadi karena sebab-sebab tertentu. Salah satu penyebab penderitaan yang paling sering terjadi adalah karena kehilangan sesuatu yang berharga. Sesuatu itu bisa jadi berupa harta benda yang dikumpulkan dengan bersusah payah selama beberapa waktu, namun raib dalam sekedipan mata. Bisa jadi sesuatu itu adalah tahta, kekuasaan atau jabatan yang karena suatu kejadian luar biasa yang tidak dapat diperkirakan, ia menghilang dan menjadikan kehidupan berbalik 180 derajat.
Namun dari semua kehilangan itu yang paling membekas dan mampu menorehkan kepedihan yang serius adalah ketika kehilangan seorang yang dicintai dan menyadari tidak adanya kemungkinan di masa mendatang untuk dapat bertemu kembali. Kesedihan akan benar-benar terasa dan pada puncaknya dapat melelehkan air mata. Bahkan terkadang kesedihan itu disertai dengan kemarahan yang tidak menentu yang terjadi karena menganggap ada sesuatu yang salah atau hanya karena merasa bersalah: perasaan dosa karena tidak sanggup mempertahankan keberlangsungan hidup orang yang dicintai.
Apapun kecamuk perasaan yang muncul akibat kehilangan, semuanya itu membutuhkan saluran pengungkapan atau pengekspresian untuk meredam gejolak derita yang ada. Salah satu pengungkapan itu adalah dengan menulis puisi seperti yang dilakukan oleh Nora Septa Arini yang karya-karyanya dimuat di kolom puisi basabasi.co pada tanggal 27 April 2021. Tiga puisi yang masing-masing berjudul Sajak yang Bertahan dalam Setiap Cuaca Murung (puisi I), Umpak dan Janji (puisi II) dan Bibirmu Payung Terkatup (puisi III) berbicara tentang penderitaan dan kehilangan, sebab-sebab yang melatarinya, perasaan-perasaan yang muncul karenanya, dan juga sikap yang coba ditunjukkan dalam menghadapi kondisi tersebut.
Kendati tiga puisi tersebut berdiri secara terpisah, namun isi di dalamnya mengandung persamaan-persamaan yang saling menghubungkan. Hubungan ini dalam analisis wacana kritik sastra lazim disebut dengan hubungan intertekstual atau hubungan antarteks. Pada ketiga puisi karya Nora Septa Arini tersebut hubungan tersebut terletak pada isi yang sama-sama menggambarkan kondisi penderitaan akibat kehilangan.
Meskipun begitu terdapat perbedaan yang menjadi ciri khas masing-masing puisi. Perbedaan tersebut terletak pada sebab-sebab yang melatari kondisi derita yang digambarkan pada masing-masing puisi. Selain hubungan yang telah disebutkan, tersirat pula sebuah kronologi imajiner. Puisi I ditempatkan di awal sebagai pembuka dari tiga rangkaian puisi sebagai satu alur cerita. Puisi I menjadi sebuah penyebab logis terjadinya kondisi-kondisi pada puisi II, meskipun titimangsa yang tercantum menunjukkan bahwa puisi II ditulis lebih dahulu daripada puisi I. Pada akhirnya puisi III yang lebih menggambarkan sikap merupakan sebuah kesimpulan praktis dan logis yang menjadi penutup dari seluruh rangkaian.
Puisi I: Sajak yang Bertahan dalam Setiap Cuaca Murung
Lebih rincinya adalah sebagai berikut. Penderitaan pada puisi I diungkapkan dalam sebuah pernyataan yang eksplisit. Aku sendiri sebatang pohon gugur/asing dalam derita beragam pantun. Penderitaan dapat menjadikan seseorang terasing dari kehidupan. Kesendirian tersebut diibaratkan sebagai sebatang pohon gugur. Pohon yang gugur, pohon yang tumbang atau bahkan pohon yang tercerabut dari tanah adalah pohon yang telah kehilangan potensinya untuk hidup dan menghidupi. Pohon yang gugur adalah ibarat kehidupan yang sekarat, yang telah kehilangan nyawa sejatinya sehingga perasaan merasa tidak berdaya atas segala nasib yang menimpa menjadikan penderitaan sebagai konsekuensi yang terutama.
Penderitaan tersebut disebabkan oleh kehilangan. Petani kehilangan padi di ladang mengasosiasikan pelaku derita dalam puisi tersebut adalah seorang petani atau seseorang yang bersimpati dengan kondisi yang dialami oleh para petani karena kesadaran bahwa dari jerih payah kerja keras petanilah, sumber makanan pokok mereka terpenuhi. Dan lazimnya seorang petani, dia akan merasa sedih jika sawah atau ladang yang ditanaminya mengalami gagal panen sehingga tidak ada hasil yang dapat dipetik. Lebih jauh ternyata kehilangan tersebut disebabkan oleh ladangku sekarang beton terkembang/telah kusemai dengan benih besi/tinggal menunggu genangan air dari selokan yang tersumbat/kemudian tumbuh, runtuh.
Dari pernyataan tersebut dapat diketahui adanya alih fungsi lahan pertanian menjadi areal beton terkembang. Areal beton terkembang tersebut bisa jadi areal perumahan atau areal pabrik. Yang jelas beton terkembang adalah bangunan-bangunan apapun itu bentuknya yang menggantikan areal pertanian atau ladang tempat petani bercocok tanam.
Bangunan-bangunan tersebut jelas juga bukan merupakan sebuah area resapan yang baik. Pada musim penghujan, akan banyak air yang tergenang karena selokan yang tersumbat akibat dari pembangunan yang tidak terencana dengan baik, atau terencana dengan baik namun rencana tersebut hanya menjadi sebatas wacana. Akhirnya yang terjadi adalah bencana atau sesuatu yang kemudian tumbuh. Runtuh.
Puisi II: Umpak dan Janji
Bangunan-bangunan yang pada awalnya diharapkan menjadi tempat berlindung dari terik panas yang menyengat atau dari hawa dingin serta hujan lebat, berubah menjadi sumber bencana yang menjadi sebab dari kehilangan sekelompok orang tertentu. Ladang atau lahan pertanian mengalami gagal panen dan lingkungan sekitar harus berhadapan dengan resiko banjir di kala musim penghujan.
Lahan pertanian yang hilang atau beralih fungsi tersebut juga memberi dampak lain bagi kebudayaan dan peradaban. Kebudayaan yang dihasilkan dari pertanian atau kegiatan bercocok tanam secara tradisional senantiasa bersifat menahan diri. Sifat menahan diri inilah yang kemudian melahirkan banyak sekali misteri yang menjadi mitos yang seringkali pikiran manusia modern tidak mampu menalarnya. Sebaliknya modernitas dengan basis industrinya seringkali, walaupun tidak semuanya, bersifat eksploitatif, baik terhadap manusia maupun terhadap alam. Eksploitasi berlebihan inilah yang menjadikan situs jadi lahan, dan akhirnya memendam sejarah dan peradaban.
Lahan yang dimaksud tentu saja bukan lagi lahan persawahan atau tegalan yang biasa dimiliki orang-orang desa. Lahan tersebut lebih berupa areal perkebunan, lebih tepatnya mungkin adalah perkebunan tebu seperti yang diindikasikan dari keberadaan kereta lori. Perkebunan tersebut dijalankan dengan modal raksasa, dan juga dengan teknik pengolahan terkini, sehingga bermacam kemungkinan bisa dianalisa secara lebih meyakinkan. Metode mutakhir ini akhirnya menyingkirkan misteri. Tidak ada lagi petilasan sunyi di mana cabang beringin tua bermandikan cahaya matahari jadi difraksi hati yang wingit. Tidak ada lagi yang bertandang mengirim dupa kembang dan kemenyan. Tidak ada lagi yang sesekali menyempatkan diri untuk menepi dan menyepi. Hampir semua orang sibuk mencari harta benda sebanyak-banyaknya.
Kesibukan mencari itulah yang menjadikan orang-orang tambah menderita. Penduduk desa dengan mindset tradisional digempur dari segala arah untuk beralih kepada pola pikir orang kota. Kebudayaan tradisional desa biasanya dicirikan dengan bekerja mencari nafkah ala kadarnya, sedangkan hasilnya diserahkan kepada kehendak Tuhan ataupun alam. Hal ini menjadikan penduduk desa tradisional tersebut memiliki banyak waktu luang selain memikirkan hal pekerjaan, seperti memikirkan pengembangan kebudayaan dan partisipasi politik yang lebih aktif.
Sedangkan mindset perkotaan yang digerakkan oleh industrialisme cenderung kapitalistik. Setiap saat dan hampir di segala kondisi, pikiran diarahkan untuk kerja, kerja, dan kerja untuk mencari uang dan menumpuk kekayaan. Kebudayaan yang dikembangkan pun lebih bercorak pada menuruti kehendak pasar daripada bertujuan untuk membangun sebuah kesadaran bersama tentang hakikat keberadaan manusia. Politiknya pun bergerak dengan berlandaskan perputaran uang dan penumpukan modal daripada menjunjung tinggi daulat rakyat demi mencapai keadilan sosial.
Penduduk desa dialihkan pola pikirnya untuk mengadopsi modernitas dan industrialisme yang kebablasan. Dan lazimnya sebuah peralihan, di sana selalu timbul gejolak-gejolak yang bisa saja menimbulkan penderitaan batin. Terlebih bagi orang-orang yang memiliki perasaan mendalam dan kenangan-kenangan yang tak terlupakan tentang kehidupan alamiah desa yang apa adanya. Mereka selalu mengharapkan akan ada pertemuan di balik kepedihan dengan kehidupan masa lalu yang damai. Tidak perlu ada cadas tergilas, magis terkikis, satir terbulir.
Namun apalah daya pintu pagar rumah telah jadi gapura yang menjadi gerbang selamat datang bagi pemikiran-pemikiran, adat istiadat dan segala sesuatu yang datang dari luar. Di depan pintu rumah tidak lagi terdapat gupala yang akan menjaga di depan pintu dan tidak akan membiarkan segala hal dari luar yang bersifat merusak bisa masuk menerobos ke dalam dengan begitu mudah. Tidak ada lagi gupala yang menjadi palang pintu pertama yang melindungi identitas-identitas asli untuk tetap lestari sebagaimana mestinya. Yang ada hanyalah pelarian-pelarian derita yang menepi dari keramaian hiruk pikuk, juga dari jalur-jalur aspirasi.
Puisi III: Bibirmu Payung Terkatup
Aspirasi para pecinta jatidiri, yang masih berusaha melestarikan tradisi asli hampir bagaikan payung yang terkatup. Aspirasi tersebut terpendam dan hampir tanpa suara. Batin mereka melanglang pada buana luka dan mata mereka rekah di sudut pematang. Mereka terperosok jauh ke tepian atau mungkin tenggelam hingga palung yang paling dasar. Mereka tidak tahu cara mendaki atau untuk muncul ke permukaan. Ataupun jika mereka tahu, mereka tidak mau bersusah-payah sebab hal tersebut hanya akan berakibat pada penanggalan jatidiri asli mereka.
Sementara itu, yang berada di atas selain sibuk menumpuk harta benda juga sibuk dalam melakukan pencitraan. Bahkan, jika terdapat di antara mereka yang mengulurkan tangan untuk mengangkat harkat dan martabat para orang yang tenggelam, semua itu hanya dilandaskan pada dorongan untuk memperoleh timbal balik yang sepadan secara material. Namun, yang dimiliki oleh orang-orang yang tenggelam hanyalah ucapan terima kasih dan senyum ketulusan. Dan itu tentu saja tidak sepadan dengan modal yang telah dikorbankan. Keuntungan tidak bisa didapatkan, maka kerja yang dilakukan hanya sekedar sebuah program terlihat berjalan.
Namun, orang-orang yang tenggelam tidak pernah dan tidak akan memaksa. Jemari luruh telanjang/ penuh gilas sayatan sudah menjadi hal biasa bagi mereka. Dalam kesepian, mereka mencari-cari suara siapa yang begitu khusyuk. Suara-suara yang tidak pernah lalai dalam merekam perjalanan pada jejak langit retas. Telah terpatri keyakinan dalam diri mereka bahwa akan tetap ada satu dua lahir tunas baru yang akan mewarisi keaslian jatidiri mereka.
Akan lebih melegakan jika tiga empat tunas lahir segerombol/lima enam bergerombol. Tidak perlu puluhan, ratusan, ribuan atau bahkan jutaan orang untuk melanjutkan pelestarian peradaban. Pelestarian bukan bertujuan untuk mencapai keuntungan material. Pelestarian adalah tentang mengukuhkan keberadaan, tentang keberagaman di mana masing-masing elemen yang menjadi penopang senantiasa berdiri dalam kesetaraan. Pelestarian adalah tentang kehidupan yang senantiasa berjalan sebelum menuju pemulasaraan.