Dalam menyikapi kehidupan di dunia ini, banyak manusia yang terlena. Mereka menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mencari suatu jenis kenikmatan yang bersifat fana.
Pikirannya tidak pernah jauh-jauh dari urusan dunia seperti memperbanyak harta, memperebutkan pengaruh demi suatu jabatan sementara, dan lain sebagainya. Perasaan atau emosinya pun juga begitu. Pasang surut di dalamnya hanya berkutat seputar kehidupan dunia dan tidak pernah sekalipun mencoba untuk melarutkan diri pada kehidupan akhirat yang lebih abadi.
Di sisi lain, sebenarnya banyak juga manusia yang pikiran dan hatinya senantiasa waspada terhadap gemerlap kehidupan dunia. Kehidupan dunia bagi mereka hanyalah menjadi tempat persinggahan sebelum meniti ke dalam sebuah kehidupan yang abadi. Setiap gerak dan langkah mereka di kehidupan ini senantiasa dilandasi motivasi untuk mendekatkan diri kepada Dzat yang Abadi.
Gerak dan langkah yang sedemikian rupa ini disebut dengan zuhud. Sedangkan yang berlaku sebaliknya, yaitu yang terlena dan menganggap dunia menjadi sesuatu yang paling penting disebut dengan jumud. Tulisan ini akan lebih berfokus membahas tentang kezuhudan, yaitu tentang pengertian dan jenis-jenis derajat atau tingkatannya.
Pengertian Zuhud dan Konsekuensinya
Secara etimologis, kata zuhud berasal dari Bahasa Arab zahada-zuhd yang berarti berpaling dan meninggalkan atau menyendiri. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata ini diartikan sikap tak ngoyo-ngoyo terhadap duniawi atau berpaling dari duniawi.
Berdasarkan pengertian tersebut dapat diambil dua kata kunci yaitu berpaling dan meninggalkan. Dengan kata lain, seorang yang zuhud akan senantiasa memalingkan niatnya dalam menjalankan segala aktivitas kehidupannya dari hal-hal yang bersifat duniawi. Niatnya itu dipalingkan dan juga dimurnikan hanya untuk beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala.
Pemurnian niat hanya untuk beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala dalam segala aktifitas inilah yang menjadi esensi dari pengertian zuhud secara terminologis. Selain itu, pengertian zuhud ini juga diarahkan kepada berpalingnya keinginan terhadap sesuatu kepada sesuatu lain yang lebih baik.
Sesuatu yang lebih baik ini tidak lain adalah kehidupan akhirat apabila dibandingkan dengan kehidupan dunia. Karena, kehidupan akhirat merupakan kehidupan terakhir di mana Allah subhanahu memberikan kekekalan terhadap orang-orang yang dirahmatinya. Di akhirat inilah segenap kenyataan tersingkap secara sempurna.
Pengertian zuhud seperti yang diuraikan di atas mengarahkan hamba kepada beberapa konsekuensi. Dalam artikel berjudul 3 Makna Zuhud yang diunggah di situs muslim.or.id disebutkan tiga konsekuensi tersebut.
Pertama, meyakini bahwa segenap rezeki datangnya hanya dari Allah. Kedua, bahagia memperoleh pahala akhirat dengan bersabar terhadap kehilangan dan penderitaan yang dialami di dunia. Ketiga, memandang sama, baik pujian maupun celaan manusia terhadapnya karena kedua hal tersebut hanyalah bersifat duniawi yang serba sementara.
Derajat atau Tingkatan Zuhud
Dalam khazanah Islam, terutama yang berkaitan dengan tasawuf, pembahasan tentang zuhud ini meliputi derajat atau tingkatan di dalamnya. Mengacu pada kitab Tazkiyatun Nufus, derajat zuhud ini dibagi ke dalam tiga tingkatan. Tingkatan pertama yang akan disebutkan di sini merupakan tingkatan yang terendah. Yang kedua lebih tinggi atau mulia dari yang pertama. Dan yang ketiga merupakan tingkatan yang tertinggi di mana hanya sedikit manusia yang mampu mencapainya.
Tingkatan Pertama Kezuhudan
Tingkatan pertama zuhud adalah orang yang sebenarnya memiliki keinginan atau hasrat yang besar terhadap dunia. Namun, ia berusaha sekuat tenaga untuk berpaling darinya dengan cara membatasinya. Orang dengan zuhud jenis ini masih memiliki hasrat yang kuat terhadap dunia. Misalnya, perihal makanan. Ia menginginkan untuk menikmati berbagai hidangan lezat yang ada. Ketika melihat makanan lezat yang sedang dinikmati oleh orang lain, ia juga menginginkan hal yang sama, bahkan mungkin lebih.
Namun karena kezuhudan di dalam dirinya, pikirannya terkondisikan untuk menguraikan kemampuan yang dimilikinya: apakah ia memiliki cukup modal untuk membeli dan menikmati kenikmatan-kenikmatan tersebut. Selain itu, ia juga berpikir jauh ke depan demi keberlangsungan kehidupannya di dunia, menimbang segala manfaat dan mudharat yang ada sebelum berupaya memuaskan setiap hasratnya.
Dengan kata lain, kezuhudan jenis pertama ini menjadikan seseorang untuk berperilaku cerdas dalam menapaki setiap jenjang kehidupannya di dunia. Ia tidak mudah terbuai oleh nafsu untuk menikmati dan mereguk segala hal yang ada di hadapannya. Zuhud jenis ini mengarahkan orang memilikinya untuk hidup sederhana dan bijaksana.
Tingkatan Kedua Kezuhudan
Kemudian tingkatan zuhud yang kedua adalah orang yang meninggalkan dunia secara sukarela sebab sifat dunia yang fana. Akan tetapi, di dalam dirinya masih melihat atau memandang kezuhudannya dengan harapan memperoleh sesuatu yang lebih di kehidupan akhirat. Dengan kata lain, orang dengan zuhud jenis ini telah mampu mengatasi kecenderungan di dalam hatinya terhadap berbagai hal yang bersifat duniawi. Seberapa nikmat dan menyenangkan dunia baginya hanyalah sesuatu yang tidak penting.
Yang paling penting dan mungkin satu-satunya yang penting baginya adalah kehidupan akhirat. Dia selalu menyibukkan dirinya dengan berbagai macam ibadah, tidak hanya yang wajib tapi juga yang sunah sebanyak dan sesering mungkin. Orang dengan kezuhudan jenis ini akan sanggup shalat semalam suntuk dengan sedikit jeda, mampu berpuasa tanpa berbuka selama berhari-hari, dan mampu mengatasi kecenderungan syahwat di dalam dirinya. Setiap saat, dia berusaha sekuat tenaga untuk meninggalkan berbagai macam aspek kehidupan dunia sehingga seringkali ia dipandang sebagai orang yang lalai karena mengabaikan hak-hak orang lain yang ada di sekitarnya.
Tingkatan Ketiga Kezuhudan
Dan tingkatan zuhud yang ketiga adalah orang yang berpaling dari kehidupan dunia dengan sukarela, dan dia juga zuhud terhadap kezuhudannya. Ia tidak memandang dirinya meninggalkan sesuatu apapun. Segala sesuatu baginya serba mengalir. Orang dengan tingkatan zuhud seperti ini, dia mampu bersabar sekaligus bersyukur dalam menyikapi berbagai hal yang dialami. Di dalam kehidupan dunia ini tidak ada lagi yang dapat membuatnya larut dalam kedukaan karena penderitaan. Pun, dia juga sudah tidak lagi merasakan kesenangan yang berlimpah ruah ketika mendapatkan kenikmatan yang seringkali menjadikan seorang manusia terlena.
Selain itu, orang dengan zuhud jenis ini juga memiliki keseimbangan dalam mengelola rasa khauf dan roja’ terkait dengan rahmat dan murka Allah subhanahu wata’ala. Karena berada dalam keseimbangan inilah, dia mampu memandang bahwa segala sesuatu adalah berasal dari Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dan segala hal yang berasal dari Allah pastilah baik keadaannya. Dengan kata lain, segala kondisi objektif yang diwujudkan oleh Allah, sang Maha subjek, semuanya adalah baik. Sudut pandang dan ego pribadi manusia sajalah yang akhirnya menciptakan dikotomi baik dan buruk karena keterbatasan diri baik dari aspek kekuatan fisik maupun mental.
Penutup
Demikianlah pembahasan terkait kezuhudan. Secara etimologis, kata zuhud berarti berpaling atau meninggalkan. Sedangkan secara terminologis, zuhud ini memiliki pengertian berpalingnya suatu keinginan terhadap suatu hal, beralih kepada hal lain yang lebih baik. Keinginan terhadap dunia dipalingkan, diarahkan kepada keinginan yang lebih baik yaitu kehidupan akhirat. Dan sebaik-baik kehidupan akhirat ini adalah kenikmatan surga yang dianugerahkan oleh Allah kepada hamba-hambanya yang bertakwa. Kemudian yang lebih baik dari semua itu adalah Allah itu sendiri di mana tidak ada lagi yang lebih baik selain dia. Hanya untuk Dialah segenap shalat dan ibadah seorang hamba. Begitu pun hidup dan matinya. Semoga Allah memberi kita kekuatan serta kemudahan untuk senantiasa memurnikan niat ibadah hanya kepadaNya.
Satu tanggapan untuk “Pengertian dan Jenis-Jenis Derajat Kezuhudan”
[…] baik. Selain itu kultur kehidupan pondok pesantren yang menekankan pada kesederhanaan hidup atau sikap zuhud juga turut mempengaruhi kebiasaan para santri ketika terjun pada kehidupan masyarakat luas. Dengan […]