Umbu Landu Paranggi layak disebut sebagai seorang guru penyair sejati. Beliau lah orang yang mula-mula mendidik penyair-penyair, sastrawan-sastrawan terkemuka seperti Cak Nun, Linus Suryadi, dan sastrawan-sastrawan lain yang tergabung dalam Persada Studi Klub, Malioboro, Yogyakarta di akhir 70an hingga awal 80an. Karena kiprahnya itulah, teruntuk beliau disematkan titel Presiden Malioboro. Setelah tidak lagi tinggal di Yogyakarta dan hijrah ke Pulau Dewata Bali, gelar tersebut tidak ada seorang pun yang mengusik ataupun mengklaimnya. Bahkan hingga beliau wafat pada April 2021, gelar tersebut masih untuk beliau seorang.
Bagi Umbu Landu Paranggi yang oleh Cak Nun disebut sebagai seorang zahid yang sesungguhnya, gelar tersebut tidak penting baginya. Karena itulah dengan kebesaran jiwanya, dia begitu mudah meninggalkannya. Beliau meninggalkan tempatnya yang lama dan berpindah ke tempatnya yang baru. Di tempatnya yang baru, di Pulau Dewata Bali tersebut, medan perjuangan beliau masihlah sama, yaitu menyemaikan benih-benih sastra di jiwa-jiwa anak-anak muda yang ada di sana. Beliau dikabarkan seringkali mengunjungi Jatijagat Kampung Puisi (JKP) di Jln. Cok Agung Tresna, Denpasar, Bali. Salah seorang sastrawan-penyair ternama JKP yang terlahir dari tempaan pengaruh Umbu adalah Wayan Jengki Sunarta yang memperoleh penghargaan Jawara Buku Puisi Terbaik Anugerah HPI 2021.
Tentu sebagai seorang penyair, Umbu Landu Paranggi juga banyak menggoreskan karya-karya yang sarat makna. Meskipun jarang sekali mempublikasikan karyanya secara terbuka, rekam jejak karya beliau dapat dilihat dari kumpulan-kumpulan karya yang dihimpun oleh murid-muridnya. Salah satunya adalah yang dilakukan oleh Korrie Layun Rampan. Ia mempublikasikan sebuah buku berjudul Suara Pancaran Sastra: Himpunan Esai dan Kritik yang diterbitkan oleh Yayasan Arus, Jakarta pada tahun 1984. Dalam buku tersebut, terdapat salah satu puisi Umbu Landu Paranggi yang berjudul Sabana. Puisi tersebut sangat menarik untuk diulas karena kedalaman dan kompleksitas makna yang terkandung di dalamnya.
Pada puisi tersebut, Umbu memulai dengan memburu fajar/yang mengusir bayang-bayangku. Fajar merupakan saat di mana matahari akan terbit. Pada waktu itu, cakrawala timur menampakkan segurat sinar kemerah-merahan yang menandakan terbitnya sebuah atau beberapa harapan baik dalam kehidupan. Fajar tersebut diburu ataupun dikejar, lebih tepatnya lagi dinanti-nanti semalam suntuk karena ialah yang akan mengusir bayang-bayang ataupun keraguan yang seringkali menyelinap dalam sanubari dan pikiran manusia. Sang penyair di sini bagaikan seorang penjaga malam yang bertapa, menjaga kesadarannya senantiasa hidup untuk merenungkan kehidupan sambil menikmati keheningan malam. Ia adalah seseorang yang menolak terlena.
Namun di waktu yang lain, ketika matahari telah berada di ufuk barat, ia mengatakan menghadang senja/yang memanggil petualang. Senjakala atau sore hari merupakan waktu peralihan antara siang dan malam. Di waktu tersebut matahari akan segera terbenam. Ia menghadang senja tersebut supaya tidak bertemu dengan malam. Di titik ini, meskipun pada bagian sebelumnya ia menolak terlena, namun karena ia hanyalah manusia biasa, ia pun tergoda dan terbawa oleh arus hiruk-pikuk sepanjang terik panas siang yang membara. Terik kehidupan dunia dengan segala problematika yang dialami oleh seorang anak manusia. Ia ingin mengistirahatkan jiwa petualangnya yang senantiasa menggelora dengan kata-kata dan syair ketika malam telah tiba.
Sekali lagi dan lagi, keinginan hanyalah menjadi arwah gentayangan dan sedikit sekali yang terwujud di dalam kenyataan. Malam tetap saja bertandang, dan kemudian di sabana sunyi ia terlempar. Di kesunyian itulah ia menggariskan bahwa di sini hidupku; kehidupan di padang rumput sunyi, yang mana sejauh mata memandang selalu nampak hamparan hijau yang sesekali diselingi dengan pohon-pohon yang tidak terlampau besar. Ia tidak mengangankan sebuah perubahan besar laju sejarah. Yang ia harapkan adalah pikiran yang senantiasa mampu memetik kata-kata dari setiap kesadaran yang dikaruniakan kepadanya. Pada titik ini kerinduan dan kenangan akan masa lalu juga mengemuka dalam jiwa. Sang penyair merindukan kampung halamannya, di mana di sana, di padang rumput yang luas, ia bisa bercengkerama dengan sebuah gitar tua, memainkan nada-nada melankolia serta melihat seorang lelaki berkuda dengan gagahnya. Ia hanya merindukan kesahajaan hidup.
Di lain waktu, padang rumput yang terhampar hijau itu tampak seperti sabana tandus dalam pemikirannya. Ia merasa ketika menuliskan mainkan laguku, lagu yang berdendang di dalam benaknya adalah tentang lagu-lagu kehidupan yang serba sementara. Tidak ada yang abadi dalam hidup di dunia ini. Bahkan harum napas bunda yang selalu terkenang dalam benak pun, ia hanya benar-benar ada di waktu yang lampau, yang telah ditinggal jauh di belakang. Di masa ini harumnya adalah ingatan, sebuah teladan kehidupan yang mampu menggerakkan jiwa untuk tidak lagi diam dalam angan-angan. Ia mesti bergerak melaju bagaikan seorang gembala berpacu, memproyeksikan pandangannya ke masa depan, meskipun masa yang ada di depan segala kepastiannya masih bersifat samar-samar, masih berupa terkaan yang terkadang berubah menjadi tekanan ketika –sekali lagi- harapan tidak sesuai kenyataan.
Demikianlah adanya. Jiwa sang penyair senantiasa risau dengan segala yang bersifat sementara. Ia masih merasakan lapar dan dahaga yang sama. Rasa lapar dan dahaga untuk berkata-kata dan menuangkan selubung hakikat yang telah sedikit tersingkap. Pikirannya terus berputar. Ia mengungkapkan bahwa kemarau yang kurindu, dibakar matahari. Sungguh, ia tidak bisa berhenti karena ia tidak ingin berhenti sebelum benar-benar mendapati sesuatu yang paling pasti. Dalam hembusannya tertuang: “hela jiwaku risau, karena kumau lebih cinta, hunjam aku ke bibir cakrawala.” Ia senantiasa menghadapkan wajahnya pada ketakterbatasan, pada yang abadi, yang hakikat awal mulanya tidak berada pada arus perubahan waktu; yang hakikat berakhirnya adalah ketakterhinggaan.