Puisi berjudul Aku bisa dibilang menjadi magnum opusnya Chairil Anwar. Puisi yang sempat diubah judulnya menjadi Semangat untuk menyembunyikan gairah pemberontakan terhadap penjajahan Jepang itu, selalu dibahas atau setidaknya dijadikan contoh dalam buku teks pembelajaran sastra baik di tingkat sekolah menengah maupun perguruan tinggi. Selain itu, puisi ini juga disebut-sebut sebagai puisi yang mendobrak stabilitas puisi lama hingga menjadikan Chairil Anwar sebagai tokoh pelopor kesusasteraan angkatan ’45. Sesuai dengan judulnya, puisi ini mengungkapkan tentang ‘aku’ dan keakuan: sebuah vitalitas individual yang mencoba menampik segala aturan dan keteraturan yang menjadi ciri khas dari sebuah masyarakat sosial yang ‘berkebudayaan’.
Puisi ini dimulai dengan kalau sampai waktuku. Ungkapan ini tentu saja mengundang pertanyaan: yang dimaksud dengan sampai waktuku itu berada di mana atau pada saat kondisi yang seperti apa? Kita mungkin bisa sedikit membayangkan sesuatu untuk menarik kemungkinan jawaban-jawaban. Kemungkinan itu bisa saja ketika kondisi diri sang ‘aku’ ini berada dalam keterdesakan, atau tekanan hidup yang sangat luar biasa, atau mungkin bahkan ia telah berada di ambang kematian. Sang aku ini sedang berada dalam keterputusasaan karena realitas kehidupan yang menghampiri dirinya seringkali memupuskan harapan atau cita cintanya yang melambung tinggi di awan.
Kendati begitu, sang ‘aku’, karena kekuatan vitalitas individunya, justru mengatakan ku mau tak seorang kan merayu. Ia tidak ingin menerima bantuan-bantuan, bujukan-bujukan yang akan menyelamatkannya dari keterdesakan hidup. Ia berusaha tetap bertahan dalam keakuannya, dan menganggap bahwa segala bantuan-bantuan dan bujukan-bujukan tersebut hanya akan menggoyahkan pendirian-pendirian yang selama ini ia pegang. Di titik ini, sangat mungkin sang ‘aku’ tersebut telah melakukan penilaian mendalam terhadap kebobrokan-kebobrokan yang ada pada masyarakat, misalnya saja budaya korupsi yang merajalela, kecenderungan-kecenderungan publik pada budaya superfisial, dan lain sebagainya.
Tentu dalam proses penilaian itu, di sebuah titik persimpangan di dalam hidupnya, sang aku ini telah berusaha untuk menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan kondisi atau realitas kehidupan tersebut. Ia belajar untuk mengurangi keteguhannya pada prinsip-prinsip yang berlawanan dengan budaya yang korup dan artifisial. Juga, ia telah berusaha untuk bergaul seluwes mungkin demi melanggengkan eksistensinya sebagai makhluk sosial. Namun, aku di dalam dirinya, menariknya kembali untuk tidak larut terhadap realitas kehidupan yang sedemikian. Setelah melakukan kontemplasi dan refleksi, ia ingin mengejawantahkan keakuannya tersebut demi mengubah realitas yang ada di sekitarnya. Ia tidak lagi mengijinkan godaan-godaan dan rayuan-rayuan itu menyentuh dirinya dan menyeretnya dalam kebekuan atau gairah hidup yang membosankan.
Lebih lanjut, ia pun juga mengatakan tidak juga kau. Seperti yang kita ketahui, kata kau ini merupakan kata ganti orang kedua, yang sangat dekat dengan sang ‘aku’ sebagai orang pertama yang sedang berbicara. Dengan kata lain, sang ‘aku’ ini, bahkan jika ia harus dihadapkan pada sebuah rayuan-rayuan, bujukan-bujukan atau bantuan-bantuan dari orang-orang yang paling dekat dengannya, pendiriannya tidak akan pernah berubah. Bahkan ia menegaskan tak perlu sedu sedan itu. Percuma saja bersedu sedan, menangis dalam kesedihan. Semua itu tak akan pernah mengubah pendirian sang ‘aku’. Karena apa?
Karena aku ini binatang jalang dari kumpulannya terbuang. Sang ‘aku’ telah memaklumatkan diri sebagai binatang jalang yang telah terbuang dari kumpulannya yang selama ini menjadi tempatnya berlindung. Keterbuangan ini sendiri sesungguhnya bisa dimaknai ke dalam dua jalan. Pertama, karena sang aku terbuai oleh ilusi yang ia ciptakan sendiri. Ilusi tersebut muncul karenan kekhawatiran-kekhawatiran di dalam diri yang tidak terkendali yang akhirnya menumbuhkan prasangka-prasangka negatif yang tidak terkendali pula. Prasangka negatif ini seringkali menyasar entitas-entitas di luar diri. Dengan kata lain, sang aku dengan egonya merupakan sosok yang paling benar, sedangkan di luar dirinya adalah sebuah kesalahan, ketidaksempurnaan yang dianggap hendak menjebaknya ke dalam jalan setapak yang penuh lubang yang kelam. Ia tidak pernah atau belum melakukan proses pengecekan terhadap prasangka-prasangkanya sendiri.
Makna yang kedua dari keterbuangan ini adalah sang aku benar-benar terbuang. Dengan kata lain, ia benar-benar dikucilkan dari komunitas atau habitat tempat ia hidup karena mayoritas atau orang-orang yang dominan memiliki paham yang berseberangan dengannya. Sang aku telah mencoba bicara, menyalurkan aspirasi-aspirasi, sekaligus sebaliknya, ia juga mencoba mendengar atau menyimak penjelasan-penjelasan rasional dari orang-orang tersebut secara proporsional. Namun, setelah mengkaji penjelasan-penjelasan tersebut dengan kepada dingin, dia mendapati sebuah kontradiksi yang akut dengan fakta-fakta yang telah ia selami. Akhirnya, sang aku, ia tidak bisa lagi membersamai kumpulannya tersebut, karena seperti yang diutarakan pada bagian sebelumnya: kumpulan tersebut telah dipenuhi dengan kebobrokan yang hanya akan menggoyahkan pendirian sang ‘aku’ yang tengah meniti jauh ke dalam jalan kemurnian.
Apa yang dimaksud dengan jalan kemurnian ini tidaklah bisa dipandang sebagai jalan yang bebas hambatan. Jalan ini penuh rintangan-rintangan dan godaan-godaan. Sang aku harus berhadapan dengan perlawanan-perlawanan dari kumpulannya tersebut yang berusaha menundukkannya lagi, memenjarakan kebebasan-kebebasannya pada keseragaman-keseragaman semu. Pemaksaan kehendak ini bisa saja mengambil bentuk yang kasar, maupun bentuk yang halus. Bentuk yang halus adalah dengan tipuan-tipuan yang secara perlahan-lahan dan bersifat laten berusaha untuk mengubah suatu cara pandang individu. Sang aku dihadapkan pada tontonan-tontonan, bacaan-bacaan, ataupun kebudayaan di sekitarnya yang begitu dangkal dan memabukkan. Ia hendak diseret ke dalam sebuah arus yang meninggikan hasrat dan nafsu yang paling jalang.
Namun, karena sang aku telah mengetahui tipuan-tipuan tersebut dengan sangat baik, maka kumpulan yang mahakuasa itu pun berusaha menundukkannya dengan jalan yang kasar. Mereka memaksa sang aku dengan ancaman-ancaman verbal, disertai kekerasan fisik yang langsung maupun tidak langsung mampu mengendurkan keteguhan di dalam diri. Mereka pun juga telah melabeli sang aku sebagai penjahat pembuat onar, atau berandalan pengganggu stabilitas. Pelabelan ini pun memberikan kesempatan bagi para penguasa lalim tersebut untuk memaksakan hukuman-hukuman yang paling keras bagi sang aku.
Pemaksaan tersebut bagi sang ‘aku’ bagaikan peluru yang menembus kulit, merobek otot dan daging, dan menghadirkan sensasi luka yang teramat sakit. Namun sang ‘aku’ tidak gentar. Ia justru dengan lantang mengutarakan: biar peluru menembus kulitku, aku tetap meradang menerjang. Di titik ini, sang ‘aku’, di balik sakit yang melanda hatinya, ia tetap melakukan perlawanan sengit. Ia tetap berusaha mengekspos kebobrokan-kebobrokan yang ada pada kumpulan tersebut.
Meskipun begitu, sekuat apapun individu, selantang apapun ia mengutarakan pandangannya, kumpulan atau mayoritas tersebut terlalu kuat untuk ia tumbangkan. Karena tidak ingin tertawan, ia pun hanya bisa pergi –hijrah- dengan luka dan bisa kubawa berlari. Ia hanya bisa berlari, hingga hilang pedih peri. Mungkin ia menuju sebuah kesunyian di mana ia bisa bersenang-senang dengan penderitaan dan dengan kesendiriannya. Dalam kesunyian atau keheningan yang paling murni tersebut, ia bisa membisikkan:
Dan aku akan lebih tidak peduli, Aku mau hidup seribu tahun lagi
Ia akan mengungkapkan pandangan-pandangan, kegetiran-kegetiran hidup yang ia alami dalam sebuah karya yang mengabadi. Mungkin saja ia menulis sebuah memoar, atau puisi, atau sebuah karya fiksi yang dapat dibaca oleh manusia lintas generasi, di mana isi-isi di dalamnya mampu memberikan pengaruh yang mendalam bagi para pembaca yang telah berada pada jarak dan waktu yang netral dari dirinya. Di titik ini, kecenderungan-kecenderungan yang universal terhadap kondisi manusia menjadi kunci pemahaman. Pemahaman antara sang aku yang satu dengan aku yang lain; sebuah upaya penyembuh luka dari segenap kontradiksi kehidupan.
Satu tanggapan untuk “Interpretasi Puisi ‘Aku’ Karya Chairil Anwar”
[…] menentukan gaya penulisan puisi mereka. Selain itu, karya-karya monumental Chairil seperti puisi Aku atau Binatang Jalang dan Antara Karawang Bekasi juga sering dijadikan bahan materi lomba setiap peringatan Hari […]