Kategori
Bahasa dan Sastra Esai/Artikel

Pengembangan Literasi di Kabupaten Trenggalek

Pada bulan September 2021 lalu, seorang kawan meminta saya berbicara tentang pengembangan literasi dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh organisasinya. Tentu saja saat itu saya menolak permintaan itu dengan alasan saya ingin berfokus menyelesaikan beberapa tulisan yang masih terbengkalai. Selain itu, saya juga merasa masih belum layak untuk berbicara di depan khalayak mengingat pengetahuan saya yang masih serba minim. Akhirnya, sebagai permintaan maaf, saya memberikan dua kontak person publik figur yang telah malang-melintang dalam pengembangan literasi di Kabupaten Trenggalek.

Meskipun saya menolak permintaan itu, ide-ide tentang pengembangan literasi, terutama pengembangan literasi di Kabupaten Trenggalek sempat mampir dalam pikiran saya. Supaya ide-ide tersebut tidak hilang saya menyempatkan diri membuat coretan sebuah kerangka tulisan. Dari coretan tersebut, tulisan ini dikembangkan seperti yang saat ini tersaji di hadapan pembaca sekalian. Tentu sebagai tulisan seorang awam, tulisan ini masih sangat jauh dari kata sempurna. Untuk itulah, kritik dan saran dari pembaca sangat saya harapkan untuk mengisi kekurangan-kekurangan yang ada.

Perkembangan Literasi di Kabupaten Trenggalek

Berbicara tentang pengembangan literasi di Kabupaten Trenggalek, setidaknya terdapat dua sisi yang perlu mendapatkan perhatian. Kedua sisi tersebut adalah individu pegiat literasi dan komunitas literasi. Hal lain yang juga perlu mendapatkan sorotan adalah tentang ihwal integrasi atau kerjasama antar berbagai pegiat literasi dengan pegiat-pegiat di bidang lain yang masih relevan. Dengan adanya kerjasama tersebut, lini-lini yang ada akan dapat muncul ke permukaan secara bersama-sama, tanpa perlu saling menjatuhkan satu sama lain. Namun, sebelum membahas ide-ide pengembangan literasi di Kabupaten Trenggalek tersebut, alangkah baiknya jika kita mengetahui terlebih dahulu sejarah perkembangan dunia literasi di kabupaten Trenggalek. Hal ini sangat penting karena akan memberikan kita sedikit gambaran tentang kondisi literasi di Kabupaten Trenggalek.

Sebelum tahun 2010 tampaknya literasi di Kabupaten Trenggalek hanya berkutat pada individu-individu tertentu. Mereka biasanya adalah para pecinta sastra yang aktif mengirimkan karya-karyanya di media massa seperti surat kabar. Salah satu yang terkemuka adalah Slamet Sri Mulyani atau yang lebih dikenal dengan nama pena St. Emyani. Beliau yang juga adalah seorang guru PNS terutama dikenal dengan karya-karya sastra berbahasa Jawa seperti geguritan dan cerkak.

Tren tersebut berubah ketika pada tahun 2010, Nurani Soyomukti menginisiasi sebuah gerakan literasi di Trenggalek. Gerakan literasi tersebut mengejawantah dalam sebuah organisasi bernama Quantum Litera Center atau QLC. Pada awal berdirinya hingga kira-kira 3 sampai 4 tahun setelahnya, organisasi ini begitu aktif menyelenggarakan acara-acara untuk menyemaikan literasi di Kabupaten Trenggalek. Yang paling diingat tentu adalah acara Arisan Sastra yang menghimpun para pecinta sastra dan juga pelaku literasi di Kabupaten Trenggalek untuk berkumpul berbagi karya. Arisan Sastra inilah yang kemudian memunculkan beberapa aktivis literasi yang berusaha mengembangkan gerakan literasi di Kabupaten Trenggalek.

Salah satu yang menonjol dari aktivis literasi tersebut adalah Toni Saputra atau yang lebih dikenal dengan nama pena Tosa Poetra. Alumni STKIP Trenggalek ini merintis sebuah perusahaan penerbitan yang ia beri nama Sembilan Mutiara. Dalam perjalanannya hingga saat ini, Sembilan Mutiara ini telah banyak membantu para penulis, tidak hanya dari Kabupaten Trenggalek, untuk menerbitkan karyanya dalam bentuk sebuah buku. Dengan menjangkau para penulis dan pegiat literasi dari luar Trenggalek tersebut, maka nama Trenggalek pun juga ikut mendapat perhatian dari publik yang lebih luas.

Namun sayang, geliat pengembangan literasi yang sempat ditunjukkan tersebut kian hari kian meredup. Hal ini dikarenakan regenerasi dalam komunitas-komunitas literasi tersebut berjalan lambat. Mereka terlalu mengandalkan para pendahulu mereka yang telah merintis jalan, sehingga di mata publik sebuah komunitas literasi menjadi terlalu identik dengan individu yang telah menginisiasinya. Beruntung, komunitas-komunitas tersebut tidaklah benar-benar meredup. Mereka tetap menjalankan agenda literasi secara berkesinambungan di belakang layar. Agenda literasi di Kabupaten Trenggalek akhir-akhir ini lebih banyak menumpang dalam hajatan-hajatan besar dalam arena politik, maupun sosial ekonomi.

Tiga Gagasan Pengembangan Literasi di Kabupaten Trenggalek

Pada bagian pendahuluan telah sedikit disinggung tentang tiga gagasan untuk pengembangan literasi di Kabupaten Trenggalek. Tiga gagasan yang berkutat pada pengembangan secara individu, komunitas, serta upaya pengintegrasian kegiatan dengan berbagai bidang yang relevan tersebut akan dijabarkan di bawah ini.

Pengembangan Literasi Berbasis Individu

Yang pertama adalah pengembangan literasi pada basis individu. Seorang individu yang mencintai literasi, dia akan banyak membaca. Kemudian dari kegiatan membaca tersebut, dia akan terpantik untuk menulis untuk menghasilkan berbagai karya. Karya yang telah dihasilkan tersebut akan lebih baik jika dipublikasikan. Dengan begitu, karya tersebut akan mendapatkan perhatian khalayak sehingga dapat mendatangkan berbagai manfaat bagi penulis, baik manfaat finansial maupun kepuasan personal. Akan lebih baik lagi, jika karya yang dihasilkan maupun aktifitas berkarya yang dilakukan dapat menginspirasi orang lain untuk ikut ambil bagian dalam menciptakan karya. Dengan demikian secara tidak langsung rantai pengembangan literasi akan tetap berlanjut meskipun tanpa adanya kampanye-kampanye literasi yang bersifat eksplisit.

Seseorang yang hendak mempublikasikan tulisannya bisa memanfaatkan media online maupun offline. Saya pribadi lebih suka menggabungkan keduanya. Misalnya seperti ini, tulisan yang telah dihasilkan terlebih dahulu diunggah pada sebuah platform online, seperti Kompasiana ataupun media sosial seperti Facebook. Seorang penulis juga sangat disarankan untuk memiliki sebuah blog pribadi di mana ia bisa secara mandiri menentukan syarat dan ketentuan penulisan tanpa terkungkung dengan aturan orang lain. Selain itu aktifitas blogging ini juga dapat memacu seorang penulis untuk lebih melek terhadap perkembangan dunia teknologi informasi, seperti perihal memilih domain dan hosting yang tepat, maupun seputar kepenulisan artikel yang ramah SEO.

Setelah membagi tulisan dalam berbagai platform online, seorang penulis hendaknya mengkurasi tulisannya tersebut. Tulisan-tulisan yang terkumpul dapat menjadi bahan untuk penulisan buku. Dengan menerbitkan sebuah buku, tulisan-tulisan yang semula berserakan pada berbagai platform online akan tersaji dengan lebih komprehensif. Pada sebuah buku, seorang pembaca dapat mengetahui kecenderungan pemikiran yang diikuti oleh seorang penulis. Selain itu pada kancah yang lebih formal, menerbitkan buku juga dapat mendatangkan kredit yang berguna dalam proses kenaikan jabatan atau sertifikasi tertentu, seperti misalnya pada dunia profesi guru dan dosen.

Pengembangan Literasi Berbasis Komunitas

Berikutnya adalah pengembangan literasi berbasis komunitas. Yang dimaksud komunitas di sini tentu tidak hanya komunitas yang berada di masyarakat, namun juga komunitas literasi di sekolah. Komunitas-komunitas literasi tersebut hendaknya memiliki agenda rutin yang dilaksanakan secara teratur. Penentuan agenda tersebut bisa dengan mengikuti sebuah skala waktu tertentu, misal harian, mingguan, bulanan, atau tahunan.

Kegiatan harian, misalnya adalah diskusi offline maupun online via sosial media atau grup WA. Materi diskusi bisa direncanakan dari awal ataupun mengalir secara spontan. Tujuan dari diskusi ini tentu adalah untuk merangsang pikiran para partisipan. Selain diskusi, bisa juga sebuah komunitas literasi melakukan kurasi karya untuk menampung karya masyarakat luas. Karya-karya yang lolos kurasi nantinya akan dimuat di salah platform milik komunitas, bisa blog komunitas atau majalah cetak bulanan, tentu dengan disertai honorarium untuk penulis bersangkutan.

Sedangkan kegiatan mingguan atau bulanan bisa berupa kegiatan-kegiatan yang berusaha mengumpulkan banyak orang dalam sebuah forum. Forum tersebut bisa forum kelas online maupun offline, seminar, bedah buku atau bedah karya seperti format dalam Arisan Sastra milik QLC atau yang lainnya. Dengan adanya acara kumpul bersama diharapkan individu pegiat literasi senantiasa termotivasi untuk menghasilkan karya-karya yang berkualitas.

Yang terakhir adalah kegiatan tahunan. Format kegiatan tahunan ini haruslah lebih meriah daripada kegiatan harian, mingguan, atau bulanan. Komunitas-komunitas literasi bisa menghelat dies natalis dengan menyelenggarakan festival sastra atau festival literasi. Banyak acara yang bisa dilaksanakan mulai dari lomba cipta karya sesuai dengan tema yang diusung, bedah karya-karya terbaik sepanjang tahun, ataupun temu penulis untuk berbincang hangat seputar dunia kepenulisan. Puncak acara kegiatan tahunan adalah pemberian penghargaan (award) bagi pegiat literasi ataupun karya terbaik yang dimeriahkan pula dengan penampilan atau pentas seni lintas bidang.

Integrasi Antar-bidang demi Pengembangan Literasi di Kabupaten Trenggalek

Karena kemeriahan yang coba ditampilkan tersebut, maka mau tidak mau komunitas literasi harus melakukan kerjasama dengan berbagai pihak. Komunitas literasi haruslah terintegrasi dengan berbagai bidang yang ada, baik formal maupun informal demi berlangsungnya sebuah acara. Pembahasan integrasi antar-bidang tersebut akan dibahas dalam bagian di bawah ini.

Integrasi Antar-Individu

Sebelum membahas integrasi antar-komunitas, terlebih dahulu saya akan menyajikan gagasan tentang integrasi antar-individu. Integrasi antar-individu ini merupakan kerjasama antar-individu sesama pegiat literasi ataupun dengan pegiat bidang lainnya dengan tujuan menyukseskan sebuah proyek yang bersifat perseorangan.

Misalnya, kita akan menerbitkan sebuah buku puisi. Maka, untuk menghasilkan buku dengan kualitas yang baik, saya harus bekerjasama dengan seorang seniman digital untuk membuat desain sampul yang menarik. Dengan perkembangan teknologi mutakhir, kita juga bisa bekerjasama dengan seorang pelukis. Nantinya, lukisan-lukisan dari pelukis tersebut bisa kita jadikan sampul buku, ataupun sebagai gambar-gambar ilustrasi sehingga buku puisi kita akan terkesan lebih menarik.

Dalam memasarkan buku puisi ini, kita bisa bekerjasama dengan para kreator konten, ataupun juga musisi-musisi yang telah teruji kualitas bermusiknya. Kita akan meminta pada musisi ini untuk menciptakan lagu berdasarkan penggalan dari puisi-puisi kita. Cara lain yang bisa kita tempuh adalah dengan bekerjasama dengan para seniman sablon pakaian. Dari mereka, kita bisa memesan beberapa kaos dengan penggalan puisi kita di dada atau di bagian lainnya.

Integrasi Komunitas Literasi dengan Berbagai Pihak Terkait

Setelah membahas integrasi antar-individu dalam pengembangan literasi, selanjutnya kita akan membicarakan tentang integrasi komunitas literasi dengan berbagai pihak terkait. Integrasi ini hanya bisa berjalan ketika komunitas literasi memiliki agenda yang dilaksanakan secara teratur. Komunitas literasi bisa menjalin kerjasama dengan beberapa instansi yang memiliki agenda pengembangan literasi, seperti dinas pendidikan maupun perpustakaan daerah. Acara yang diselenggarakan bisa beragam, mulai dari kelas menulis hingga donasi buku ke daerah-daerah yang agak terisolir.

Selain bekerjasama dengan dinas terkait, komunitas literasi juga perlu menggandeng para pebisnis lokal. Mereka nantinya akan dilibatkan sebagai pihak sponsor yang mendanai setiap aktifitas komunitas. Biasanya kesediaan sponsorship ini hanya berlaku pada acara-acara besar. Karena itulah penyelenggaraan festival literasi atau festival sastra bisa menjadi opsi yang menarik.

Dengan adanya festival tersebut, integrasi antar berbagai pihak akan menciptakan sebuah iklim yang kondusif bagi pengembangan literasi berikutnya. Bahkan yang bisa mengambil manfaat darinya tidak hanya pihak-pihak yang memiliki agenda literasi saja, namun juga pihak-pihak yang sekedar numpang lewat mencari rejeki, seperti tukang parkir, pedagang asongan dan pedagang kaki lima. Dengan kata lain, pengembangan literasi juga akan bermanfaat dalam memutar roda perekonomian masyarakat.

Penutup

Demikian pembahasan artikel kali ini seputar pengembangan literasi di Kabupaten Trenggalek. Sebenarnya untuk mewujudkan gagasan-gagasan tersebut, berbagai pihak –mulai dari tingkatan individu, komunitas literasi, dan pihak-pihak terkait lainnya- perlu mengatasi berbagai kendala yang mungkin muncul di lapangan. Beberapa permasalahan yang bisa disebutkan di sini antara lain adalah rendahnya minat baca masyarakat, terutama kalangan muda. Selain itu, tentu masih sangat sedikitnya sarana dan prasarana yang memadai. Bicara tentang sarana dan prasarana ini, akan lebih baik jika setiap desa setidaknya memiliki sebuah perpustakaan yang layak, serta dikelola dengan pendekatan yang menarik.

Masih banyak kendala-kendala lain yang tidak bisa disebutkan di sini satu per satu. Intinya untuk mengatasi kendala tersebut, berbagai pihak yang terlibat perlu saling bekerjasama sesuai dengan kapasitas masing-masing. Seorang yang getol menulis teruslah untuk menulis dan menerbitkan karya. Seorang yang mahir dalam bidang kehumasan dan pengorganisasian hendaknya memanfaatkan kemahirannya untuk mengadakan acara-acara literasi yang bermanfaat. Orang-orang yang dianugerahi kecukupan bisa menjadi donatur kegiatan-kegiatan yang ada. Antara satu sama lain tidak perlu ada yang melebih-lebihkan kontribusi diri. Integrasi merupakan peleburan. Ego-ego pribadi hendaknya dileburkan untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Ambasaja

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca