Lestari Alamku merupakan sebuah lagu yang diciptakan oleh Almarhum Gombloh, seorang musisi legendaris Indonesia kelahiran Jombang, Jawa Timur. Lagu yang berjudul asli Berita Cuaca ini pertama kali liris pada tahun 1982 dalam sebuah album bertajuk Berita Cuaca, salah satu album dari grup musik Lemon Tree’s Anno ’69 di mana Gombloh pernah bernaung. Pada tahun 1998, salah satu grup musik Rock yang sukses di Era ‘90an, Boomerang, mengaransemen ulang lagu ini. Mereka merilis lagu Berita Cuaca atau Lestari Alamku dalam sebuah album bertajuk Segitiga yang berisi daur ulang lagu-lagu lawas terpopuler.
Lagu Berita Cuaca atau Lestari Alamku karya Gombloh ini berisi harapan rakyat jelata demi bumi yang lebih hijau. Selain berisi tentang harapan rakyat jelata demi bumi yang lebih hijau, lagu ini juga berusaha mengekspos kerusakan-kerusakan alam, terutama yang disebabkan oleh deforestasi. Harapan dan kenyataan tersebut tertuangkan dengan sangat baik dalam lirik lagu yang disajikan.
Dalam artikel ini, pembahasan akan berfokus membedah harapan dan kenyataan tentang kondisi alam yang tertuangkan dalam lirik lagu Lestari Alamku atau Berita Cuaca karya Gombloh tersebut. Selengkapnya, silahkan simak uraian di bawah ini.
Harapan Rakyat Jelata: Lestari Alamku, Lestari Desaku
Harapan merupakan sesuatu yang didambakan. Manusia yang memiliki harapan selalu berupaya supaya harapan tersebut terwujud. Namun, sesungguhnya esensi dari harapan tersebut bersifat pasif. Ia hanyalah letupan-letupan dalam benak yang seringkali mencari jalan keluar lewat imajinasi atau khayalan. Meskipun begitu ketika harapan tersebut terakumulasi, pengulangan-pengulangan yang terjadi bisa membuatnya naik ke derajat yang lebih tinggi. Pada derajat yang lebih tinggi ini, harapan berubah menjadi hasrat dan keinginan. Ia memiliki kehendak yang aktif untuk menjadikan harapan tersebut menjadi kenyataan.
Pada lagu Lestari Alamku atau Berita Cuaca karya Gombloh, harapan sebagai sesuatu yang didambakan terungkap dengan lugas pada baris lestari alamku, lestari desaku. Alam dan desa yang lestari merupakan harapan setiap orang, terutama orang-orang yang menggantungkan hidupnya dengan mencari nafkah dari hasil sumber alam, seperti para petani yang menggarap tanah di desa. Bahkan orang-orang yang sumber penghasilannya tidak dari hasil alam sekalipun, tetap akan tergantung pada alam. Orang-orang kota, para pegawai kantoran, para pembuat konten, para influencer dunia online, termasuk juga para investor pertambangan membutuhkan makanan sehat untuk terus bertahan hidup. Alam yang lestari pun menghasilkan udara bersih yang dengan menghirupnya saja manusia dapat meredakan tekanan di dalam batinnya. Dan makanan dengan kualitas terbaik dan udara bersih tersebut hanya akan didapatkan jika manusia mengolah alam dengan bijaksana bersandar pada prinsip sustainibilitas.
Dan itulah salah satu tugas manusia di muka bumi seperti yang tersirat pada baris di mana Tuhanku menitipkan aku. Seperti yang termaktub dalam kitab suci, Tuhan menciptakan manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi. Dan tugas khalifah atau pemimpin ini adalah untuk menjaga keberlangsungan kehidupan di muka bumi. Manusia dilarang berbuat kerusakan di muka bumi karena itu hanya akan memberikan dampak buruk bagi mereka sendiri. Jika tugas ini mampu manusia emban dengan baik, dengan memberdayakan secara optimal anugerah pikiran dan perasaan yang ada, maka keberadaan manusia di muka bumi ini telah menjadi rahmat bagi semesta alam. Dengan semesta alam yang penuh rahmat tersebut, nyanyi bocah-bocah di kala purnama akan menjadi pemandangan yang penuh nuansa. Mereka akan nyanyikan pujaan untuk nusa, berkah alam yang telah memberikan kehidupan yang baik.
Harapan berikutnya yang termaktub pada lirik lagu Berita Cuaca atau Lestari Alamku karya Gombloh tersebut terletak pada baris damai saudaraku, suburlah bumiku. Bumi yang subur, alam yang lestari bisa jadi merupakan sumber kedamaian bagi manusia. Terlebih jika manusia mampu menjaga alam dan mengolah alam tersebut secara adil dan bijaksana. Tidak akan ada lagi kesenjangan sosial dan ekonomi yang menjadi sumber konflik atau perselisihan yang berlarut-larut antar manusia. Namun melihat kenyataan yang ada, mungkin yang bisa orang-orang lakukan adalah bernostalgia, seperti pada baris kuingat ibuku dongengkan cerita, kisah tentang jaya Nusantara lama, tenteram kartaraharja di sana. Nostalgia yang kita tekuni supaya harapan tersebut tidak lenyap begitu saja dilindas oleh kegetiran jaman edan.
Harapan vs Kenyataan: Mengapa Tanahku Rawan Kini?
Kenyataan memang seringkali bertentangan dengan harapan. Harapan-harapan seorang manusia yang dipenuhi dengan keindahan dan kedamaian harus berhadapan dengan kenyataan hidup yang seringkali serba pahit. Pertentangan antara harapan dan kenyataan tersebut memunculkan pertanyaan-pertanyaan dalam benak. Pada lagu Berita Cuaca atau Lestari Alamku karya Gombloh tersebut, pertanyaan tersebut berusaha mempertanyakan sebab musabab kondisi alam yang telah rusak: Mengapa tanahku rawan kini, bukit-bukit pun telanjang berdiri. Kondisi tersebut cukup mengenaskan bagi pandangan mata yang senantiasa merindukan keindahan alam yang lestari. Bagi makhluk hidup yang lain, kondisi tersebut membuat pohon dan rumput-rumput enggan bersemi kembali, dan burung-burung pun malu bernyanyi.
Salah satu jawaban yang bisa disuguhkan untuk menjawab pertanyaan tersebut adalah tentang adanya deforestasi. Berdasarkan definisi yang tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, deforestasi ini berarti aktifitas penebangan hutan. Sedangkan dalam Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.30/MENHUT-II/2009 tentang Tata Cara Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan (REDD), deforestasi merupakan pengubahan area hutan menjadi lahan tidak berhutan secara permanen, untuk aktifitas manusia. Pengertian dari Permenhut tersebut tampaknya perlu ditinjau ulang pada frasa secara permanen. Bisa saja pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab akan memanfaatkan celah tersebut dengan dalih tidak akan dan sedang melakukan perusakan hutan yang berakibat permanen untuk lepas dari konsekuensi hukum yang ada.
Merujuk pada laporan yang dirilis oleh Forest Watch Indonesia (FWI) pada tahun 2019, fakta deforestasi cenderung mengalami kenaikan setiap tahun. Antara tahun 2000-2017, luas areal hutan alam di Indonesia mengalami penyusutan mencapai 23, 58 juta hektar. Penyusutan menyebabkan persentase hutan alam dibanding dengan luas daratan menjadi hanya berkisar 43% saja. Dan tidak mustahil angka tersebut angka terus mengalami kenaikan jika tidak segera mendapatkan tindak lanjut yang lebih serius dari berbagai pihak.
Dalam laporan tersebut juga disinggung tentang adanya ketidakadilan dalam deforestasi tersebut. Sudah lazim bahwa deforestasi ini setali tiga uang dengan kebijakan pro investasi yang melibatkan para pemodal lokal maupun internasional. Kebijakan tersebut mengabaikan, sepenuhnya ataupun sebagian, keberadaan masyarakat adat yang hidup di lahan konsesi. Masyarakat adat yang memiliki tradisi kearifan lokal mamayu hayuning bawana akan dengan mudah tersingkir dari peredaran sosial dan politik karena tidak sejalan dengan kebijakan pro investasi.
Gerakan Lingkungan Hidup: Kuingin Bukitku Hijau Kembali
Melihat kenyataan getir yang tidak sesuai harapan, orang-orang yang memiliki kepekaan nurani akan melakukan pergerakan demi sebuah perubahan. Mereka akan mendendangkan dalam benak mereka: kuingin bukitku hijau kembali. Keinginan tersebut begitu kuat karena mereka tahu semak dan rumput pun tak sabar menanti. Gerakan peduli lingkungan yang mereka canangkan tidak hanya dilakukan demi keberlangsungan hidup manusia. Namun, juga demi keberlangsungan makhluk hidup yang lain, hewan dan juga tumbuhan. Gerakan peduli lingkungan merupakan sebuah gerakan untuk menyentuh makna hakiki kehidupan secara menyeluruh.
Karena gerakan peduli lingkungan memiliki cakupan yang sangat luas, maka hal terbaik yang bisa dilakukan adalah dengan membentuk organisasi. Dengan berorganisasi setiap agenda yang dicanangkan akan dapat dilakukan dengan sistematis. Hambatan-hambatan yang ditemui di tengah jalan pun akan cepat mendapatkan solusi yang tepat karena melibatkan banyak pihak yang sama-sama memiliki kepedulian. Hal ini seperti yang telah diperjuangkan oleh WALHI atau Wahana Lingkungan Hidup dan juga Greenpeace yang memiliki jaringan internasional di lebih dari 40 negara di dunia.
WALHI sendiri merupakan ornop (organisasi non-pemerintah) lingkungan hidup tertua di Indonesia. Organisasi yang terbentuk pada Oktober 1980 memiliki pandangan bahwa sebenarnya permasalahan lingkungan hidup juga merupakan masalah politik. Mereka banyak melakukan advokasi demi kepentingan masyarakat yang lingkungan tempat tinggalnya mengalami kerusakan akibat ulah korporasi dan regulasi kebijakan pemerintah yang berat sebelah. Bahkan pada masa rezim Orde Baru yang otoriter, mereka pernah menggugat 6 pejabat negara karena mengijinkan pembangunan pabrik pulp dan rayon, PT. Inti Indorayon Utama di Porsea yang mencemari dan merusak lingkungan.
Tidak jauh berbeda dengan WALHI, Greenpeace yang terbentuk pada tahun 1971 juga melakukan aksi yang sama. Bahkan sejak awal berdirinya, mereka dengan terbuka telah memprotes pemerintah Amerika Serikat yang hendak melakukan ujicoba bom nuklir di Amchitka, Alaska. Dalam setiap aksinya mereka selalu mengedepankan aksi damai tanpa kekerasan. Sedangkan, ketika berurusan dengan otoritas kekuasaan, mereka bersikap fleksibel. Mereka mendukung setiap kebijakan dan aksi dari para pemegang kekuasaan yang peduli dan ramah lingkungan. Namun, ketika para pemegang kekuasaan tersebut melakukan hal yang sebaliknya, mereka tidak akan ragu untuk melakukan aksi penolakan secara terbuka.
Laku Kepasrahan Progresif: Doa dan Nyanyian Pelipur Lara Hati
Banyak usaha telah dilakukan demi mewujudkan alam yang lestari. Meskipun begitu tetap saja akan tersaji di depan mata hambatan-hambatan yang selalu merintangi. Terkadang hambatan-hambatan itu dapat diatasi dengan mudah. Namun di lain waktu, hambatan-hambatan tersebut terasa begitu berat sehingga menumbuhkan keputusasaan di dalam diri. Pada waktu yang demikian itu, doa dan nyanyian-nyanyian bisa menjadi pelipur lara hati.
Para aktifis bisa menyenandungkan kembali baris doa kan kuucapkan hari demi hari seperti termaktub pada lirik lagu Lestari Alamku atau Berita Cuaca. Doa yang dipanjatkan itu tidaklah menunjukkan sikap pasrah dan menyerah yang akhirnya menimbulkan sikap tidak peduli lagi. Ia sesungguhnya harus lebih dimaknai sebagai sebuah laku kepasrahan yang progresif, sebuah upaya untuk sejenak menenangkan diri mengumpulkan energi kembali. Dengan kata lain, laku kepasrahan tersebut berusaha menjawab pertanyaan kapankah hati ini lapang diri.
Tentu lapang diri yang dimaksud bukan sekedar kelapangan yang bersifat individual. Perasaan lapang tersebut semestinya menjadi milik bersama. Ketika kelapangan tersebut adalah milik bersama maka kami kan bernyanyi lipur lara hati. Bersama-sama mari kita nyanyikan bait padamu negeri, demi alam yang lestari.
Penutup
Demikian pembahasan artikel kali ini. Lirik lagu Berita Cuaca atau Lestari Alamku ciptaan Almarhum Gombloh mencoba mengungkapkan harapan rakyat jelata demi alam yang lestari. Harapan tersebut tentu harus berhadapan dengan kenyataan yang getir karena di banyak wilayah di Indonesia, bahkan di dunia terungkap adanya perusakan hutan atau deforestasi yang jumlahnya terus meningkat. Meskipun demikian, kenyataan getir tersebut tidak menyurutkan harapan orang-orang yang benar-benar peduli terhadap lingkungan. Mereka menunjukkan aksi nyata melakukan kampanye-kampanye pelestarian alam. Selain itu, mereka juga melakukan advokasi-advokasi demi kepentingan masyarakat yang tanahnya menjadi lahan konflik dengan korporasi-korporasi besar. Mereka juga adalah yang terdepan dalam melontarkan kritik terhadap kebijakan pemerintah yang berlawanan dengan prinsip pelestarian alam.
Sebagai penutup, saya pribadi ingin mengajak para pembaca untuk mendukung kampanye-kampanye peduli lingkungan, seperti yang diprakarsai oleh WALHI dan Greenpeace. Mereka membuka lowongan relawan, baik itu yang terjun langsung melakukan aksi lapangan, maupun yang sekedar menjadi penyebarluas informasi di media sosial. Selain itu, mereka juga menggalang donasi untuk mendanai kampanye-kampanye yang ada. Partisipasi kita sebagai masyarakat akan sangat membantu dalam upaya-upaya mengatasi hambatan-hambatan pelestarian alam. Seperti dalam peribahasa, bersatu kita teguh bercerai kita runtuh, mari kita nyanyikan bait Padamu Negeri dengan langkah-langkah nyata untuk menjaga kelestarian alam senantiasa utuh.
Satu tanggapan untuk “Interpretasi Lirik Lagu Lestari Alamku Karya Gombloh”
[…] Interpretasi terkait simbol ananta tersebut adalah sebagai berikut. Jika kita perhatikan dengan seksama, angka delapan yang tumbang tersebut akan membentuk sebuah lintasan. Seperti halnya pada sebuah lingkaran, lintasan tersebut berbentuk perputaran. Hanya saja, perputaran pada lingkaran cenderung bersifat flat, dan pelintas tidak akan pernah bisa berada di titik pusat dari lingkaran tersebut. Lintasan pada lingkaran bagaikan sebuah rutinitas kehidupan yang membosankan. Ia hanya bertumpu pada hal-hal yang segala sesuatunya telah dapat kita prediksi dengan baik. […]