Tingkat kemalasan seringkali merajalela sehingga meluluhlantakkan cita-cita yang telah dipersiapkan secara matang sejak dahulu kala. Pada waktu itu, tidak ada yang bisa berkata-kata, karena ketika ia datang yang ingin dilakukan hanyalah tidur senyenyak mungkin untuk sejenak melupakan. Apa yang mesti dilupakan? Apakah bayangan wajah seorang perempuan yang sudah tidak pernah bertatap muka lagi hampir 20 tahun? Dan mengapa mesti dilupakan? Apakah karena ia telah bersuami dan memiliki anak satu, lantas ia mesti dilupakan? Atau ada alasan lain, suatu alasan yang memungkinkan jiwa untuk bergerak memetakan kemungkinan-kemungkinan atau cita-cita baru, misalnya berkenalan dengan sosok perempuan lain, di mana perkenalan tersebut bisa mengantarkan kepada kemungkinan menuju hubungan yang lebih serius dan bermakna?
Tetapi karena kemalasan tersebut seringkali merajalela, proses melupakan itu menjadi suatu kegiatan yang begitu berat untuk dilakukan. Bayangan tersebut senantiasa datang tanpa diundang, hadir mengetuk pintu kesadaran karena tidak adanya pengalaman-pengalaman baru yang begitu berkesan. Pengalaman-pengalaman baru itu telah diisolasi kesadaran dalam suatu pola yang diasumsikan. Dan karena seringkali asumsi itu bernilai benar, maka secuil hal-hal yang baru menjadi tidak berguna bagi kesadaran. Ia teronggok di sudut, tidak pernah bisa mendatangkan suatu kemelut, karena ia bagaikan kentut. Pada waktu keluar, ia mengeluarkan suara dan terkadang juga mengeluarkan bau. Namun dalam hitungan detik, ia dihembus angin, menyatu bersama udara, dan keberadaannya seolah hilang entah ke mana. Ia hilang dan tidak pernah dicari karena ia adalah sesuatu yang tidak berarti lagi.
Lalu apakah yang senantiasa berarti? Bolehkah mengatakan kemalasan itulah yang paling berarti? Pantaskah hal yang demikian itu dikatakan di tengah gemerlap budaya yang menjunjung tinggi kerja keras dan pencapaian-pencapaian duniawi? Jika iya diperbolehkan, alasan-alasan seperti apa yang mesti diutarakan untuk menghilangkan segenap keraguan? Jika tidak diperbolehkan, perhitungan-perhitungan seperti apakah yang sebenarnya hendak ditawarkan? Apakah untuk kebebasan? Ataukah untuk kemerdekaan? Ataukah demi suatu perjuangan hidup yang tidak akan pernah habis sebelum berjumpa dengan kematian? Mohon diuraikan.
Kemalasan Adalah Yang Paling Berarti
Baiklah, yang pertama terkait alasan mengapa kemalasan adalah yang paling berarti. Sebenarnya hal ini berkaitan dengan penempatan diri. Kemalasan tersebut menjadi yang paling berarti ketika diri ini berada pada suatu tempat yang penuh dengan manipulasi atau tipu-tipu. Manipulasi itu telah menjadi budaya yang begitu mengakar pada masing-masing anggota masyarakat, sehingga rasanya kurang sempurna apabila diri ini tidak ikut serta di dalam pesta tipu-tipu itu, atau pesta manipulasi itu. Kejujuran adalah hal yang asing sehingga ia menjadi suatu sikap yang dianggap aneh karena dengannya keuntungan yang berlipat ganda tidak bisa didapatkan. Dan di sinilah letak dari berartinya kemalasan itu, yaitu ketika diri ini tidak mau ikut serta di dalam pesta tersebut. Diri mengaktifkan dua model pemberontakan, yaitu mode pemberontakan ke dalam dan mode pemberontakan ke luar.
Mode pemberontakan ke dalam berarti diri ini menahan diri dari segenap naluri yang telah ada. Naluri-naluri tersebut ditekan sedemikian rupa sehingga sangat jarang ia bisa nampak di permukaan. Sebagai contoh, kita bisa menyebutkan adanya naluri di dalam diri untuk makan dan minum serta naluri untuk berhubungan seksual dengan lawan jenis. Naluri untuk makan dan minum ini adalah sesuatu yang tidak bisa benar-benar dihindari. Ketika kita sangat lapar, maka mau tidak mau kita akan berusaha sekuat tenaga untuk mencari sumber makanan dan minuman yang bisa kita lahap untuk mengenyahkan rasa lapar. Sayangnya, banyak dari kita yang merasa tidak cukup hanya dengan menyenyahkan rasa lapar atau dahaga. Makanan dan minuman itu terkadang bisa kita jadikan sebagai status sosial berdasarkan harga yang kita keluarkan untuk mendapatkannya. Semakin tinggi harga yang harus dibayar untuk suatu makanan dan minuman tertentu, maka semakin tinggi pula status yang akan kita dapatkan. Kemudian, naluri untuk makan dan minum ini seringkali juga dibarengi dengan adanya ketamakan. Selain mengonsumsi sebanyak-banyaknya dan sepuas-puasnya, terkadang ketamakan terhadap makanan dan minuman ini juga dilakukan dengan menimbun sumber-sumber daya yang ada. Penimbunan ini dilakukan supaya orang-orang lain yang memerlukan hanya bergantung kepadanya. Semakin banyak orang yang bergantung kepadanya, maka semakin tinggi pula kekuatan politik yang bisa didapatkan. Dengan kata lain, penimbunan ini bisa dijadikan jalan untuk menuju suatu kekuasaan yang diidam-idamkan.
Kemudian terkait naluri seksual. Naluri untuk berhubungan badan ini juga telah melekat di dalam diri, terutama sejak kita memasuki masa pubertas. Setiap kali, seorang lelaki memandang seorang perempuan yang menawan, ada darah berdesir di dalam dirinya. Naluri seksual ini sangatlah jalang yang mana apabila seseorang tidak mampu menahan diri darinya dapat menjadikan kehidupannya terhina. Dalam hal menghindari kehinaan inilah kemalasan mendapatkan keberartiannya. Nafsu jalang naluri seksual itu selalu meminta lebih. Ia tidak akan pernah cukup hanya dengan menaklukkan satu tubuh. Jika memungkinkan, ia akan berhasrat untuk menggenggam semua yang bisa dimasukkan ke dalam kategori ‘anggun dan penuh pesona’, tidak peduli siapa dan bagaimana caranya.
Sayangnya hasrat dan keinginan yang tanpa batas tersebut harus berhadapan dengan sumber daya di dalam diri yang serba terbatas. Kenyataan inilah yang menjadikan kemalasan layak diapresiasi. Ia menjadi penghambat bagi segenap jiwa yang bergerak menuju kerakusan. Kemalasan seolah-olah membuat diri ini berhenti untuk meninjau ulang segenap arah yang telah dan mungkin akan dicapai di kemudian hari. Ia membiarkan kesadaran pikiran mengambil alih, menempatkan nafsu dan naluri jalang pada batasan-batasan terbaiknya: energi liar yang tersalurkan tanpa perlu merusak keseimbangan peradaban kemanusiaan.
Penutup
Pada titik ini konsep kemalasan yang disebutkan di atas telah bertemu dengan ketidakmalasan yang senantiasa membersamainya. Sikap bermalasan-malasan yang terlihat oleh mata, yang menampakkan suatu sikap acuh tak acuh dan kesan berleha-leha, bersantai ria itu ternyata didiami oleh suatu pikiran yang senantiasa bergerak dinamis. Pikiran tersebut senantiasa berusaha memahami keseluruhan realita yang ada di dalam maupun di sekitar diri. Tidak ada yang luput darinya kecuali setelah mendapatkan penyaringan yang begitu ketat untuk disesuaikan dengan energi diri yang terbatas.
Penyesuaian tersebut penting untuk dilakukan sehingga diri bisa menemukan bentuk terbaiknya di dalam kehidupan. Ia tidak hanya sekedar numpang lewat untuk makan dan minum, serta berkembang biak semata. Ada tugas-tugas kemanusiaan yang mesti ia emban atau ia tunaikan. Tugas-tugas itu akan mengasah mata batin serta pengalamannya. Ia semakin tajam dalam mencermati keresahan-keresahan dirinya yang senantiasa beresonansi dengan keresahan manusia yang lain. Juga, ia semakin efektif dan efisien dalam menyelesaikan persoalan kehidupan yang ada. Segala yang dalam jangkauan bisa dengan mudah dikendalikan. Sedangkan yang masih misteri, ada kalanya diri merayap menemukan pola yang berkelindan. Ada kalanya, diri hanya mencermatinya sebentar, kemudian membiarkannya berlalu. Tidak semua hal mesti dimasukkan di dalam kalbu.