Kategori
Esai/Artikel Filsafat & Sosial-Budaya

Timur Daya: Ada Apa dengan Timur Hingga Ia Dikatakan Tenggara?

Suatu hari di tahun 2017 (sekitar bulan Agustus) seorang teman saya yang bernama Anta Sultoni –dia seorang wirausahawan yang gigih dan juga salah satu pegiat sastra terutama teater di Trenggalek mengajak saya ngopi bersama kawan-kawannya sesama seniman di sebuah warung kopi di pinggir jalan. Setelah memesan minuman, kami pun duduk dan ngobrol ngalor-ngidul perihal kesenian, terutama seni peran.

Saya saat itu lebih banyak menjadi seorang pendengar yang baik dan hampir tidak mengutarakan suatu pendapat apapun kecuali di saat-saat terakhir. Di saat kami hendak pamit pulang, salah seorang kawan seniman sempat nyeletuk mengajukan sebuah pertanyaan tentang arah mata angin. Seingat saya pertanyaan dalam bahasa Jawa itu jika diindonesiakan, “Kenapa jika barat ada barat daya, kenapa kok timur menjadi tenggara?”

Pengertian Istilah dan Filosofi Timur Daya

Tentu saja pertanyaan yang disampaikan dengan nada dagelan itu dijawab dengan nada dagelan juga oleh kawan-kawan yang ada di sana saat itu. Namun, saya yang orangnya terlalu serius hanya menjawab singkat dan tidak mampu melontarkan candaan sedikit pun. Kata saya sambil menyalami kawan-kawan yang ada di sana sebelum hendak pamit, “Timur Daya”.

Ya, “Timur Daya”. Frasa ini cukup menjadi perhatian saya selama beberapa hari berikutnya hingga akhirnya saya mulai menuangkannya dalam sebuah tulisan. Tulisan tersebut bukan sebuah esai panjang dengan pembahasan yang sangat mendetail, namun hanya berupa puisi 23 baris yang diawali dengan sebuah pertanyaan; ada apa dengan timur/hingga ia dikatakan tenggara/sementara barat dikatakan daya/kenapa timur tidak timur daya.

Pertanyaan tersebut menjadi semacam asumsi tentang adanya ketimpangan yang terjadi dalam memahami peradaban timur yang diperbandingkan dengan barat. Barat selalu tampak superior atau berdaya sehingga dikatakan barat daya, sedangkan timur selalu dipandang sebagai inferior sehingga tidak bisa disebut timur daya dan hanya mendapatkan kehormatan untuk disebut sebagai tenggara.

Kata “tenggara” sendiri tentu kembali memunculkan asumsi negatif seolah-olah timur adalah tempat yang penuh dengan gara-gara, huru-hara atau chaos. Manusia-manusianya tidak mampu lagi untuk mengembangkan peradabannya sendiri yang lebih manusiawi untuk generasi yang akan mendatang. Hal tersebut memunculkan anggapan untuk tidak hanya berkiblat namun juga bergantung penuh kepada uluran-uluran gagasan peradaban yang dikembangkan oleh saudaranya dari barat.

Manusia-manusia timur ini telah terhegemoni sedemikian rupa sehingga bahkan untuk mengenal dirinya sendiri harus mengandalkan konstruksi pengetahuan yang dikembangkan oleh para ilmuwan barat yang merupakan perpanjangan tangan dari penjajah-penjajah kolonial yang pernah bercokol lama di banyak sekali Negara timur.

Hegemoni barat atas timur hampir di segala bidang ini lazim disebut orientalisme. Edward Said di dalam bukunya yang terkenal, yang juga berjudul Orientalisme pernah menyatakan bahwa orientalisme sebagai suatu diskursus merupakan sebuah disiplin keilmuan yang sangat sistematis. Dengannya, kebudayaan Eropa atau Barat mampu menangani –bahkan menciptakan− dunia Timur secara politis, sosiologis, militer, ideologis, ilmiah, dan imajinatif selama masa pasca Pencerahan.

Dengan kata lain orientalisme adalah suatu bentuk penjajahan halus yang dilakukan oleh pihak barat untuk menguasai alam bawah sadar orang-orang Timur sehingga mudah untuk  dikondisikan sesuai dengan keinginan-keinginan jangka panjang mereka. Bentuk-bentuk penjajahan inilah yang akan coba diekspos dalam buku Timur Daya ini, tentu dengan bentuk gaya bahasa puisi yang khas.

Kritik Sosial dan Perlawanan Budaya dalam Buku Timur Daya

Bagian pertama di dalam buku ini dan juga merupakan bagian utama diberi judul sama dengan judul buku yaitu Timur Daya. Bagian ini lebih merupakan ekspresi orang desa yang mencoba lepas dari hegemoni berlebihan yang telah lama ditebarkan oleh radiasi kebudayaan-kebudayaan populer kota yang reduktif.

Kebudayaan populer yang berlandaskan pada konsumerisme tersebut menimbulkan banyak sekali degradasi moral yang akhirnya berujung pada permasalahan-permasalahan yang tidak kunjung tuntas, seperti budaya korupsi, serta iklim perpolitikan yang hanya disemarakkan oleh rayuan-rayuan melalui berbagai media massa, tapi masih sangat sedikit yang menyuguhkan acara-acara yang mendidik bagi rakyat. Bagian ini juga merupakan ajakan tersirat bagi orang-orang desa untuk kembali secara aktif membangun basis kebudayaannya sendiri.

Bagian kedua, Wangsa Waisya, bercerita dan juga menggambarkan tentang golongan orang yang terlampau kaya yang lazim disebut dengan kapitalis atau dalam bahasa Arab ro’sun maliy, orang-orang yang hidup dari harta dan demi harta. Paham berlebihan dan tidak mengenal batas ini menghalalkan segala macam bentuk eksploitasi kepada manusia maupun alam untuk memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya.

Dengan sebuah dalih ekonomi, secara tidak langsung golongan-golongan ini mampu mengendalikan sebuah Negara tanpa perlu menampakkan muka di depan khalayak. Kebebasan mereka tiada tara dan mereka mampu menjadi apa saja, mulai dari menjadi sudra hingga menjadi seorang ksatria yang gagah perkasa untuk melindungi pundi-pundi harta yang berharga. Juga, apapun bisa menjadi komoditas. Dengan kata lain seorang yang benar-benar disebut kapitalis adalah seorang nihilis yang menyelam bebas di dalam ketiadaan moral dan berkata ‘ya’ untuk apapun itu yang menguntungkan, serta berkata ‘tidak’ jika itu dirasa merugikan secara finansial.

Bagian ketiga adalah Orang Pinggiran. Bagian ini berisi sepercik suara keberpihakan kepada orang-orang yang sering disebut dengan rakyat jelata, orang kecil atau wong cilik. Dikarenakan oleh sistem yang tidak berkeadilan sosial di mana para kapitalis telah menancapkan kuku dan taringnya begitu dalam, orang-orang ini harus terhimpit di dalam sebuah keadaan yang penuh dengan keterbatasan.

Keadaan yang sudah serba terbatas tersebut diperparah lagi dengan sebuah keengganan akut untuk melakukan aksi-aksi progresif dan hanya pasrah menerima berbagai macam jejalan budaya permukaan yang semakin melemahkan daya pikir dan daya juang. Orang-orang yang memiliki tingkat kesabaran yang luar biasa ini gagal mengalihkan kekuatan tersebut untuk memberikan dampak progresif demi kemaslahatan bersama.

Menyoal Intelektual Kampus dalam Puisi Timur Daya

Orang-orang pinggiran ini membutuhkan sekelompok orang yang lazim disebut dengan agen intelektual, yaitu orang-orang yang mampu mendayagunakan pikirannya secara maksimal. Sayangnya manusia-manusia yang dipersiapkan untuk menjadi agen tersebut juga telah terkondisikan dalam sebuah sistem yang sakit. Sistem tersebut digambarkan sebagai Meriang Kampus yang juga menjadi judul bagian keempat atau bagian terakhir.

Kampus sebagai tempat persemaian intelektual telah banyak yang menjadi sebuah pasar senggol yang tidak mengedepankan sebuah pengondisian alam pikiran para akademisi dalam sebuah iklim ilmiah yang mumpuni. Lebih jauh orang-orang yang berkecimpung dalam dunia perkampusan tersebut malah seakan-akan tercerabut dari akar sosial masyarakatnya sehingga banyak yang mengabaikan permasalahan-permasalahan yang terjadi di sekitar lingkungannya dan akhirnya pengetahuan yang didapatkan hanya digunakan untuk mengejar cita-cita egosentris yang lebih mementingkan pemenuhan hasrat diri dan ambisi pribadi.

Penutup

Seperti itulah gambaran ringkas tentang puisi-puisi yang ada di dalam buku Timur Daya ini. Tentu banyak sekali kekurangan-kekurangan yang terdapat di dalamnya berkaitan dengan argumen-argumen yang ada. Terlebih lagi, karena adanya keinginan untuk mengejar aspek estetika dengan penggunaan-penggunaan diksi metafor membuat fakta serta maksud yang terdapat di dalamnya bisa mengalami pembiasan serta ambiguitas. Namun, meskipun demikian setidaknya ambiguitas tersebut diharapkan bisa membangkitkan keluasan cakrawala pikiran untuk menggali segala kemungkinan makna yang disampaikan melalui tanda-tanda berupa kata-kata.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Ambasaja

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca