Kategori
Esai/Artikel Filsafat & Sosial-Budaya

Evolusi Cita-Cita: Perjalanan 35 Tahun Mencari Makna Disiplin

Tidak semua orang bisa berdisiplin untuk mencapai cita-cita yang dia inginkan. Di tengah jalan, ia sering teralihkan pada hal-hal lain yang melenakan. Terkadang pengalihan itu memberikan manfaat, seperti untuk menyegarkan kembali tubuh dan pikiran yang berhari-hari larut dalam disiplin mencapai tujuan yang ketat. Namun, seringkali pengalihan tersebut menjebak kita untuk bermalas-malasan, dan akhirnya lupa cara kembali kepada disiplin yang sebelumnya ditaati. Kita benar-benar teralihkan, kemudian harus menetapkan tujuan lain dari awal sesuai dengan pengalaman hidup yang telah didapatkan.

Fase Pertama: Pesepakbola Profesional

Seperti itulah yang terjadi pada saya. Selama 35 tahun umur saya, saya telah beberapa kali berganti cita-cita karena tidak mampu berdisiplin diri dengan ketat dan sering kalah dengan pengalihan. Pada waktu masih duduk di bangku sekolah dasar, saya sempat bercita-cita untuk menjadi pemain sepakbola profesional setelah menonton perhelatan akbar Piala Dunia 1998 di Prancis. Bintang-bintang seperti Ronaldo Nazario De Lima dan Zinedine Zidane yang tampil memukau di layar kaca menginspirasi saya, menyuntikkan harapan ke dalam kepala saya bahwa saya akan bisa seperti mereka. Atau, setidaknya saya bisa meniti jalan untuk tembus menjadi pemain liga nasional. Dalam benak saya waktu itu, tidak ada yang tidak mungkin.

Sayangnya, saya dan kawan-kawan yang lain sesama pecinta bola hanya bisa berlatih (lebih tepatnya bermain-main) sepakbola plastik di tanah tegalan Pak Bonari di mana ada sebuah pohon kelapa menjulang tumbuh di tengah-tengahnya. Setiap sore sehabis shalat ‘Ashar, kami selalu menghabiskan waktu bermain sepakbola di sana, tidak peduli cuaca sedang cerah atau sedang hujan selebat-lebatnya. Bahkan bila lapangan tergenang hingga hampir setengah betis, kami tidak peduli. Kami tetap bermain sepakbola demi kesenangan kanak-kanak yang sulit diterjemahkan dengan kata-kata pada waktu itu.

Meskipun aspirasi menjadi pemain sepakbola profesional tersebut telah muncul sejak masih SD, saya baru bersungguh-sungguh mengejarnya ketika memasuki bangku SMA. Saya mendaftar kembali dan ikut latihan pada SSB Indonesia Muda, Durenan yang waktu itu dikelola oleh Pak Kusnianto atau yang biasa disebut Pak Ganthol. Pada waktu SMP sebenarnya saya sudah mendaftar pada SSB ini, tetapi tidak pernah ikut latihan karena waktu itu saya belum bisa mengendarai satu jenis kendaraan pun. Baru menginjak SMA kelas 1 setelah saya bisa mengendarai sepeda, saya benar-benar tekun berlatih. Tentu saja tidak seperti bermain bola di lapangan Pak Bonari, di mana kami hanya nyeker, di SSB kami diwajibkan memakai sepatu khusus bola lengkap dengan kaos kaki dan decker atau pelindung tulang kering. Di SSB ini saya juga lebih banyak belajar taktik dan strategi.

Selain berlatih di SSB, saya juga menambahkan porsi latihan fisik secara mandiri. Saya rutin jogging 10 km setiap akhir pekan, pulang-pergi ke sekolah dengan berjalan kaki atau mengendarai sepeda. Selain itu saya juga sangat jarang melewatkan bermain sepakbola bersama di lapangan basket setiap jam istirahat. Sayangnya di Kabupaten Trenggalek tempat saya tinggal tidak ada kompetisi format liga yang secara teratur diselenggarakan. Yang ada hanyalah turnamen-turnamen acak yang belum tentu setiap tahun diadakan. Karena hal itulah, nasib anak-anak muda yang bermimpi untuk menjadi pemain sepakbola profesional dari Kabupaten ini menjadi terkatung-katung. Pilihannya antara pergi merantau keluar kota dengan tradisi sepakbola yang kuat seperti Malang atau Surabaya, atau mengubur impian itu sedini mungkin untuk beralih pada cita-cita serta disiplin diri yang lain.

Fase Kedua: Akademisi Profesional

Dan seperti itulah yang terjadi pada saya. Meskipun setelah lulus SMA saya melanjutkan kuliah di Malang dengan harapan bisa merasakan kompetisi sepakbola yang teratur dan melanjutkan mimpi saya, namun lambat laun mimpi dan cita-cita itu memudar. Kesibukan kuliah -meskipun saya tidak benar-benar kuliah waktu itu- benar-benar menyita energi. Saya menjadi jarang melakukan latihan fisik secara mandiri. Begitu juga dengan latihan taktik dan strategi, serta pembiasaan latih tanding, saya sangat jarang melakukannya, meskipun saya tergabung dengan UKM Unit Olahraga cabang sepakbola. Lambat laun saya menarik cita-cita menjadi pemain sepakbola profesional tersebut, menjadikannya kenangan masa kanak-kanak dan beralih kepada cita-cita yang lain, yaitu menjadi akademisi profesional.

Cita-cita ini terutama muncul setelah saya berinteraksi dengan Pak Ribut Wahyudi, salah seorang dosen Fakultas Humaniora dan Budaya UIN Malang. Waktu itu saya bertemu beliau di ruang kelas Mata Kuliah Writing. Beliau adalah sosok dosen yang benar-benar disiplin, selalu datang tepat waktu sesuai jadwal kecuali ketika ada keperluan tertentu yang tidak bisa ditinggal. Karena beliau terkenal killer dalam memberi nilai, waktu itu kelas beliau tersebut hanya diikuti oleh segelintir orang saja, seingat saya kurang lebih 10 mahasiswa saja. Para mahasiswa yang lain mengambil kelas Writing pada dosen yang tidak se-killer Pak Ribut ini.

Tugas-tugas menulis yang diberikan Pak Ribut Wahyudi ini juga bukan tugas yang main-main. Standar beliau sangat tinggi di mana untuk tugas akhir semester tersebut, beliau memberikan tugas menulis artikel ilmiah standar internasional. Bahkan untuk beberapa mahasiswa yang lolos standar yang beliau tetapkan, beliau dengan gigih membantu mereka untuk mengirimkan artikel ilmiah yang telah mereka tulis tersebut kepada mereka penerbit jurnal internasional, terutama jurnal-jurnal internasional yang berkaitan dengan pendidikan dan linguistik di mana beliau aktif berkecimpung di dalamnya.

Selain itu, pada setiap pertemuan, beliau juga senantiasa memberikan tugas-tugas yang benar-benar mengasah keterampilan berpikir kami, mulai dari tugas sederhana seperti menuliskan beberapa tesis kontroversial untuk didiskusikan pada pertemuan berikutnya, sampai tugas menyusun esai argumentatif. Beliau juga memberikan masukan dan kritik yang konstruktif pada setiap mahasiswa, tidak hanya dalam hal bentuk dan kaidah gramatika, namun juga terkait isi dan kesinambungan logika yang ada.

Melihat sosok Pak Ribut Wahyudi inilah, kemudian terbersit dalam pikiran saya untuk bercita-cita menjadi seorang akademisi profesional. Dalam pikiran saya tersembul keinginan yang kuat untuk segera menyelesaikan kuliah S1 pada Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris UIN Malang tersebut. Tidak cukup sampai di situ, saya juga ingin melanjutkan studi Pascasarjana, S2 lanjut S3 sebelum melanjutkan karir sebagai akademisi profesional. Tidak hanya mengajar sebagai dosen saja, namun juga menjadi seorang penulis buku atau karya ilmiah yang bisa memberikan manfaat bagi perkembangan peradaban akhir zaman ini.

Untuk mewujudkan keinginan tersebut, sekitar tahun 2011/2012, saya benar-benar tekun menghadiri perkuliahan yang saya ikuti, tidak seperti semester-semester sebelumnya di mana saya sering tidak menghadiri kelas yang ada. Namun seperti halnya dengan cita-cita saya sebelumnya, cita-cita ini juga tidak mampu bertahan lama. Karena beban studi yang masih terlampau banyak ketika saya menginjak semester 8, maka saya memutuskan untuk berhenti kuliah dan pulang kampung ke Trenggalek pada pertengahan 2013.

Fase Ketiga: Penyair & Sastrawan

Di Trenggalek, saya berkuliah kembali dari awal, mengambil Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di STKIP PGRI Trenggalek. Di awal masuk di kampus keguruan ini, cita-cita saya sebelumnya untuk menjadi seorang akademisi profesional masih tersisa. Namun, lambat laun sisa-sisa itu seolah menghilang begitu saja ketika saya banyak membaca karya-karya sastra, baik puisi, fiksi, terutama novel dan naskah drama yang benar-benar menggugah, tidak hanya pikiran namun juga perasaan saya sebagai manusia. Karya-karya yang saya baca tersebut, seperti Tetralogi Burunya Pramoedya Ananta Toer dan puisi-puisi dari Chairil Anwar maupun WS. Rendra, menginspirasi untuk menuliskan karya-karya saya sendiri.

Dan demikianlah, pergeseran cita-cita itu terjadi lagi, dari ingin menjadi seorang akademisi profesional, beralih menjadi seorang sastrawan atau penulis yang mumpuni. Pada fase berkuliah di STKIP Trenggalek antara tahun 2013-2018 itu saya banyak berlatih menulis secara mandiri. Banyak judul puisi saya tulis dalam rentang waktu tersebut, walaupun apabila saya lihat dan tinjau kembali puisi-puisi itu hari ini, rasanya ada beberapa judul yang kurang memuaskan secara estetik. Hingga saat ini saya telah menerbitkan 3 buku puisi, yaitu Catatan Seorang Mbambung pada tahun 2016, Perempuan Sekilas Pandang pada tahun 2018, dan Timur Daya pada tahun 2019.

Selain puisi-puisi yang sudah saya terbitkan dalam bentuk buku tersebut, saya juga masih menyimpan ratusan judul puisi dan juga puluhan karya fiksi, seperti cerpen, novelet, dan novel yang terdokumentasi dengan sangat rapi. Dari karya-karya fiksi yang saya tulis tersebut, saya telah menerbitkan secara mandiri dua judul buku, yaitu kumpulan cerpen Dialog Secangkit Kopi pada tahun 2019, dan sebuah novelet Pulang Kampung: Selamat Datang di Rumah Sakit Jiwa pada tahun 2020. Beberapa judul karya yang lain masih saya simpan dengan rapi pada komputer pribadi saya. Mungkin suatu saat akan saya terbitkan dalam bentuk buku secara mandiri, mungkin juga akan saya kirim kepada salah satu media massa atau penerbit konvensional, sehingga kelak saya bisa mendapatkan pengakuan yang layak sebagai seorang penulis yang terus berkarya. Mungkin juga hanya akan saya simpan sebagai kenangan. Bahwa saya pernah berkarya. Bahwa saya pernah menuangkan kesadaran saya secara maksimal sebagai manusia.

Penutup

Demikianlah sekelumit cerita tentang cita-cita saya yang selalu berganti-ganti dari satu fase ke fase yang lain. Daya tahan saya untuk berdisiplin diri dalam meraih cita-cita tersebut sangatlah rendah, sehingga tidak ada satupun cita-cita tersebut yang tergapai secara maksimal. Yang tersisa dalam benak saya sekarang adalah kenangan dan perpaduan dari setiap kepingan yang pernah terekam, yang berkontribusi membentuk jati diri saya seperti apa adanya sekarang.

Dari sepakbola, saya tidak lagi mendambakan menjadi pemain sepakbola profesional. Itu sudah sangat terlambat. Saya hanya mengambil intisarinya saja, yaitu sepakbola adalah salah satu cabang olahraga. Dan olahraga selalu identik dengan gerak. Karena itulah saya suka berjalan kaki atau berlari ringan atau bersepeda keluar rumah untuk menyegarkan pikiran. Saya juga berusaha menjadwalkan untuk makan teratur dan istirahat, terutama tidur malam tidak terlalu larut. Namun, yang terakhir ini saya masih sering kewalahan.

Kemudian dari jalur akademisi, boleh dikatakan saya hanya mencapai 10% dari seluruh potensi saya yang ada di bidang ini. Persentase yang kecil itu saya dapatkan karena saya memiliki pengalaman mengajar, baik ketika magang PPL, menjadi tutor privat, maupun ketika mendapatkan kesempatan mengajar full-time di SMPIQu-SMAIQu Al-Bahjah, Blitar selama 7 bulan pada tahun 2025 kemarin. Dari jalur akademisi ini kini yang tersisa adalah keinginan untuk terus membaca dan belajar, terutama belajar agama untuk bekal setelah kehidupan di dunia. Saya juga menjadwalkan untuk membaca kembali materi kuliah yang pernah saya dapatkan sewaktu kuliah dulu sehingga materi tersebut tidak akan hilang dari dalam kepala. Dan, puji syukur, kegiatan ini bisa saya lakukan dengan lumayan disiplin.

Terakhir dari jalur penulis atau sastrawan. Sampai saat ini saya masih terus tekun menulis dan berusaha untuk menciptakan karya-karya baru, terutama cerita pendek dan puisi. Saya juga berusaha mengirimkan beberapa karya yang saya anggap layak kepada media-media massa sehingga bisa mendapatkan apresiasi maupun honor untuk menyambung hidup. Hanya saja saya bukan tipe penulis yang penuh ambisi menggebu-gebu, yang menargetkan estetika tertentu atau penghargaan tertentu. Saya hanya ingin menulis apa yang memang sedang ingin saya tulis, mengalir begitu saja, meskipun dengan gaya yang biasa-biasa saja.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Ambasaja

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca