Salah satu keutamaan shalat berjamaah adalah dengan meluruskan dan merapatkan shaf atau barisan shalat. Hal ini merupakan perwujudan dari sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu: “ sawwu shufufakum fainna taswiyatas shufufi min tamamis shalati.” (HR. Bukhari No. 723). Hadits ini secara harfiah berarti, “Luruskanlah barisan-barisan kalian, karena lurusnya barisan merupakan salah satu keutamaan shalat (berjamaah).” Sedangkan perihal merapatkan barisan, Rasulullah bersabda: “Aqimu shufufakum watarashu, fainni arakum min wara’i dhahri.” (HR. Bukhari No. 719). Artinya: “luruskan shaf kalian dan hendaknya kalian saling menempel, karena aku melihat kalian dari balik punggungku.”1
Sayangnya, banyak sekali barisan shalat-shalat jamaah di sekitar kita yang tidak menerapkan tuntunan ini. Padahal di dalamnya terdapat beberapa hikmah, terutama dalam hal mendekatkan hati atau perasaan antar-sesama mukmin. Banyak imam yang tidak berusaha terlebih dahulu mengingatkan para jamaah untuk meluruskan dan merapatkan barisan. Hal ini menjadikan para jamaah menata barisan sekehendak hati. Barisan jamaah itu sering tampak seperti ular yang menggeliat jika dipandang dari sudut tertentu. Selain itu, barisan itu juga banyak memberikan celah yang bisa dimasuki oleh seekor anak kambing.
Mengingat pentingnya keutamaan tersebut, maka tulisan ini mencoba membahas perihal tata cara dan hikmah meluruskan dan merapatkan barisan ini. Selain itu, akan disajikan pula tentang sandi sawo yang terinspirasi dari hadits sawwu shufufakum. Selengkapnya, silahkan simak uraian berikut ini sampai akhir.
Definisi Meluruskan dan Merapatkan Barisan
Kata ‘meluruskan’ berasal dari kata dasar ‘lurus’. Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia kata ‘lurus’ ini berarti ‘memanjang hanya dalam satu arah, tanpa belokan atau lengkungan‘. Barisan yang lurus dengan demikian merupakan sebuah barisan yang jika dilihat dari sudut pandang tertentu tidak akan terlihat adanya lengkungan. Orang-orang yang berbaris lurus, dilihat dari samping terlihat hanyalah satu orang saja, yaitu seorang yang berada di depan mata. Orang-orang di sampingnya sampai bagian penghujung tidak akan terlihat karena barisan tersebut benar-benar lurus.
Sedangkan imbuhan me-kan sering berarti ‘membuat sesuatu menjadi’. Dengan demikian kata ‘meluruskan’ memiliki makna menjadikan sesuatu menjadi lurus. Tentu saja, yang hendak dijadikan lurus di sini adalah barisan shalat berjamaah. Barisan tersebut diharapkan tidak tampak bengkong atau melengkung atau terlihat meliuk-liuk bagaikan gerak seekor ular. Dan makna inilah yang dikehendaki dari klausa perintah sawwu shufufakum atau luruskan barisan kalian.
Berikutnya adalah perihal definisi kata ‘merapatkan’. Kata ini berasal dari kata dasar ‘rapat’. Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia kata ‘rapat’ ini berarti hampir tidak berantara; dekat sekali (tidak renggang). Barisan shalat berjamaah yang rapat berarti jarak antara makmum dengan makmum yang berdiri di sampingnya saling berdekatan. Lebih lanjut, barisan tersebut hampir tidak berantara atau tanpa celah sehingga tidak memungkinkan seseorang untuk masuk melewatinya.
Sedangkan kata ‘merapatkan’ berarti membuat sesuatu menjadi rapat. Seperti yang telah dijelaskan di atas, yang dirapatkan di sini adalah barisan shalat berjamaah. Dan, yang bertanggungjawab merapatkan barisan ini adalah pihak-pihak yang terlibat dalam shalat berjamaah, yaitu imam dan makmum. Tentang tata cara merapatkan –dan juga meluruskan –barisan shalat berjamaah ini akan dibahas pada poin di bawah ini.
Baca juga:
Kedudukan Mulia Seorang Ibu dalam Ajaran Islam
Tata Cara Meluruskan dan Merapatkan Barisan Shalat Berjamaah
Seperti yang disinggung sebelumnya, yang bertanggungjawab dalam hal meluruskan dan merapatkan shaf shalat berjamaah adalah imam dan para makmum. Cara meluruskan barisan oleh seorang imam dan oleh para makmum tentu saja berbeda.
Tata Cara Seorang Imam Meluruskan dan Merapatkan Shaf
Seorang imam shalat berjamaah, hendaknya memeriksa barisan makmum di belakangnya terlebih dahulu. Hal ini bisa dilakukan antara iqamah dan takbiratul ihram. Ia bisa menghadapkan wajahnya kepada para makmum sembari melafalkan hadits sawwu shufufakum untuk mengingatkan para makmum. Jika masih terdapat celah pada barisan, hendaknya imam tersebut memberikan isyarat kepada makmum agar merapatkan atau mengisi celah tersebut.
Cara Makmum Meluruskan dan Merapatkan Shaf
Para makmum hendaknya meluruskan dan merapatkan shaf dengan cara menempelkan pundak dengan pundak, antara mata kaki dengan mata kaki. Cara inilah yang paling utama dan hendaknya dilakukan oleh para makmum. Namun, jika karena suatu hal tidak bisa meluruskan dan merapatkan barisan dengan cara ini, maka setidaknya jangan membuat celah yang terlalu lebar. Maksud celah yang lebar tersebut adalah seukuran tubuh orang dewasa. Dengan kata lain, ketika shalat sedang ditunaikan barisan bercelah tersebut tidak mungkin dimasuki atau diterobos oleh seseorang.
Hikmah dari Lurus dan Rapatnya Barisan Shalat Berjamaah
Suatu perbuatan yang memiliki keutamaan pastilah terdapat hikmah di balik penetapannya. Begitu juga dengan meluruskan dan merapatkan barisan yang merupakan salah satu keutamaan shalat berjamaah. Dalam perintah tersebut pastilah terdapat hikmah atau pelajaran yang dapat dipetik oleh orang-orang yang beriman. Di antara hikmah dari lurus dan rapatnya barisan shalat berjamaah tersebut adalah sebagai berikut.
Merekatkan Persaudaraan Sesama Muslim
Lurus dan rapatnya barisan shalat berjamaah merupakan cerminan persaudaraan atau ukhuwah Islamiyah yang memiliki dimensi lahir maupun batin. Secara lahir, tampak jelas ketika para jamaah meluruskan dan merapatkan barisan shalatnya. Orang-orang yang menjalin persaudaraan, senantiasa ingin berdekatan, bercengkerama, atau menjalin keakraban dengan saudaranya yang lain. Mereka ingin berbagi cerita bersama, gelak tawa bersama, suka dan duka bersama.
Namun, keakraban dalam lurus dan rapatnya shalat berjamaah sesungguhnya lebih dari itu. Dimensi batin yang terselubungi oleh dimensi lahir tersebut bukanlah sekedar berbagi suka-duka kehidupan duniawi. Di dalamnya mengandung sesuatu yang bersifat ukhrawi, sebuah keyakinan terhadap sang pencipta yang merupakan sangkan paraning dumadi. Dia pulalah yang akan mengakhiri, sedangkan ia sendiri abadi.
Segenap makhluk bergantung kepadanya. Dan segenap keberadaan tidak ada satupun yang luput dari genggaman kekuasaan dan kehendaknya sama sekali. Ia-lah yang paling layak disebut sebagai Yang Maha Agung lagi Maha Tinggi. Dan dalam shalat berjamaah yang barisannya lurus dan rapat, gelombang kesadaran akan hal ini akan menjadi perekat persaudaraan yang sejati.
Cermin Estetika dan Keteraturan
Selain merekatkan persaudaraan antara sesama Muslim, lurus dan rapatnya barisan juga mencerminkan sebuah estetika tersendiri. Secara lahiriah, estetika atau keindahan tersebut saling terhubung dengan keteraturan yang terdapat pada barisan yang lurus dan rapat. Bagi orang-orang yang gemar bertanya dan mempertanyakan mungkin akan tersembul sebuah pertanyaan: kenapa barisan shalat yang lurus dan rapat itu estetis, sedangkan yang penuh celah sebaliknya?
Jawaban yang bisa disajikan di sini adalah sebagai berikut. Barisan yang lurus dan rapat mencerminkan sebuah kedekatan. Ketika sepasang mata memandang barisan tersebut dari samping barisan, maka yang tampak adalah kesatuan. Individu-individu yang membentuk satu barisan tersebut bergerak bersama dan seirama sehingga menciptakan atmosfer kebersamaan yang khusyuk karena yang dilafalkan dan dihaturkan adalah doa-doa.
Begitu juga ketika barisan tersebut dipandang dari arah depan atau belakangnya. Rapatnya barisan tersebut seolah menjadi simpul atau ikatan yang tidak bisa ditembus oleh suatu apapun. Gelombang kesadaran dan keimanan pada setiap orang yang berjamaah mudah saling terhubung satu sama lain. Godaan dan rasa waswas yang dihembuskan oleh jin, setan yang mengendarai nafsu manusia menjadi mudah terhempas.
Selain itu, lurus dan rapatnya barisan merupakan sebuah simbol kesederhanaan. Pola-pola yang tampak dari lurus dan rapatnya shaf tersebut mudah dimengerti. Kesederhanaan ini juga merupakan ciri khas seorang hamba. Ia melakukan usaha sekedarnya untuk memahami kehidupan dunia.
Namun, selebihnya, selengkapnya, dan yang serumit-rumitnya, Ia serahkan atau sandarkan kepada yang berhak menerima, yaitu Allah Yang Maha Kuasa. Dengan demikian ia tidak terjebak pada teori dan retorika, dan lebih memfokuskan perhatiannya untuk beramal sesuai kapasitas yang dianugerahkan kepadanya.
Sawwu Shufufakum & Sandi Sawo Islam di Pulau Jawa
Hadits sawwu shufufakum yang aslinya perintah meluruskan dan merapatkan barisan shalat berjamaah, ternyata juga menjadi sandi ulama memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sandi yang disebut dengan sandi sawo ini merupakan pesan terakhir Pangeran Diponegoro ketika tertangkap Belanda yang melakukan suatu muslihat licik. Pesan tersebut berisi agar para kyai pendukung gerakan Pangeran Diponegoro untuk menanam pohon sawo di halaman pesantren atau masjid.
Para kyai segera paham dengan pesan Pangeran Diponegoro. Mereka memahami bahwa yang dimaksud dengan sawo adalah sawwu seperti pada hadits sawwu shufufakum yang berarti luruskan dan rapatkan barisan. Lurus dan rapatnya barisan tersebut memperoleh sebuah pemaknaan baru. Dalam perjuangan menghadapi penjajah Belanda, lurus dan rapatnya berisan tidak hanya ketika shalat berjamaah saja. Melainkan, juga ketika melakukan perjuangan dan perlawanan di medan perang.
Mereka, para kyai, yang memahami sandi tersebut segera menanam pohon sawo tersebut di halaman pesantren atau masjid yang mereka asuh. Dengan adanya pohon sawo tersebut, para penerus perjuangan Pangeran Diponegoro bisa meminta perlindungan ke tempat tersebut. Selain itu, pesantren-pesantren yang merupakan afiliasi dari perjuangan tersebut menjadi lebih terorganisir.
Karena itulah, perjuangan melawan penjajah tersebut tidak pernah benar-benar padam. Kendati pernah mengalami kemerosotan ketika memasuki awal abad ke-20, namun berpedoman pada sandi tersebut, sejumlah kyai berusaha menggalang kekuatan kembali. Di antara para kyai tersebut, yang termasyhur adalah Kyai Hasyim Asy’ari dan Kyai Wahab Chasbullah yang mendirikan Nahdlatul ‘Ulama.
Disebutkan dalam buku Fragmen Sejarah NU karya Kyai Abdul Mun’im DZ, NU dapat berkembang pesat berkat adanya jaringan kiai pejuang. Jaringan tersebut berada di bawah sandi pohon sawo Pangeran Diponegoro. Dengan kata lain bisa dikatakan bahwa Nahdlatul Ulama merupakan perwujudan upaya meluruskan dan merapatkan barisan melawan penjajahan dan beragam ketidakadilan.
Penutup
Demikianlah penjabaran terkait tata cara dan hikmah meluruskan dan merapatkan barisan shalat berjamaah. Sebagai penutup, penulis hendak mengingatkan kembali para Muslim untuk senantiasa melaksanakan shalat tepat pada waktunya. Lebih dari itu, hendaknya juga mereka mencari keutamaan dengan mengerjakan rukun Islam kedua tersebut secara berjamaah. Dan selayaknya sebuah barisan, hendaknya mereka meluruskan dan merapatkannya sehingga teraihlah keutamaan yang berlipat ganda.
Seyogyanya pula, para jamaah yang hendak shalat bersama tersebut saling mengingatkan untuk meluruskan dan merapatkan shaf. Seorang Imam bisa melafalkan kembali hadits Nabi sawwu shufufakum kemudian melafalkan terjemahan bahasa Indonesianya. Hal ini supaya jamaah yang kebanyakan orang awam mengerti tentang keutamaan tersebut. Begitu juga dengan para makmum, seorang yang telah mengetahui hendaknya berusaha meluruskan dan merapatkan barisan yang berada di dekatnya. Ia juga bisa menegur jamaah lain yang acuh tak acuh, tentu dengan tetap menunjukkan kelembutan sikap.
Terakhir, perlu diketahui bahwa lurus dan rapatnya barisan shalat juga hendaknya menjadi perekat persaudaraan sesama muslim. Ia perlu diejawantahkan dalam laku hidup kemanusiaan yang lebih luas, mencakup sosial kemasyarakatan. Lurus dan rapatnya barisan tersebut juga perlu diterapkan dalam medan perjuangan. Dalam menghadapi laju gemerlap modernitas yang semakin keterlaluan memuja materi, benteng yang kokoh perlu senantiasa dilapisi agar tidak tertipu oleh berbagai macam ilusi.
Catatan:
1 Kedua hadits pada bagian pembuka tersebut bersumber dari artikel berjudul Merapatkan dan Meluruskan Shaf Shalat Jama’ah yang diunggah di muslim.or.id