Seorang hamba yang baik senantiasa berusaha untuk beramal dengan ikhlas. Setiap amal kebaikan yang ia lakukan selalu ia tujukan atau niatkan untuk mendapatkan ridho Allah subhanahu wata’ala semata. Namun ternyata dalam prakteknya, mencapai tingkatan ikhlas dalam beramal ini tidak semudah yang diniatkan atau diucapkan oleh lisan. Godaan dan rayuan, baik dari dalam diri maupun dari luar diri, selalu datang menghampiri. Meskipun begitu, selama hidup tingkatan ikhlas ini senantiasa perlu diperjuangkan. Karena itulah dalam tulisan kali ini, akan disajikan terkait tiga terapi ikhlas. Maksud dari tiga terapi ikhlas di sini adalah tiga terapi yang bisa dilakukan untuk mencapai tingkatan ikhlas tersebut. Tiga terapi tersebut mengacu pada kitab klasik berjudul Tazkiyatun Nufus atau Penyucian Jiwa yang isinya dihimpun dari penjelasan para ulama seperti Ibnu Rajab Al-Hambali, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah dan Abu Hamid Al-Ghazali. Selengkapnya, silahkan simak uraian berikut sampai akhir.
Definisi Ikhlas
Sebelum menuju ke pembahasan inti terkait terapi ikhlas, terlebih dahulu akan dibahas tentang definisi ikhlas. Pembahasan tentang definisi akan dibagi menjadi dua. Pertama, pembahasan definisi ikhlas secara etimologis. Dan yang kedua adalah pembahasan definisi ikhlas secara terminologis. Pembahasan tentang definisi ini bertujuan untuk menyamakan persepsi sehingga akan mengurangi salah pemaknaan tentang pembahasan inti.
Secara etimologis atau asal-usul kebahasaan, kata ‘ikhlas’ sendiri merupakan kata serapan dari bahasa Arab yang berarti pemurnian niat. Kata ini merupakan bentukan dari kata kerja akhlasha atau khalasha. Akhlasha sendiri berarti memurnikan niat; memilih. Sedangkan khalasha berarti selamat; sampai; menjadi murni. Kemudian, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata ini berarti bersih hati atau tulus hati. Dari beberapa pengertian tersebut bisa ditarik kesimpulan bahwa kata ‘ikhlas’ berarti usaha memurnikan hati agar selamat sampai tujuan yang hakiki.
Berikutnya, pengertian kata ‘ikhlas’ secara terminologis atau istilah. Dalam kitab Tazkiyatun Nufus setidaknya disebutkan tiga pengertian terkait hal ini. Pertama, ikhlas adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan membersihkan niat dari segala kotoran. Kedua, pengertian ikhlas adalah menjadikan Allah satu-satunya tujuan dalam ketaatan atau amal. Dan yang ketiga, ikhlas adalah melupakan pandangan makhluk untuk menuju hanya kepada pandangan sang Pencipta saja.
Berdasarkan tiga pengertian di atas, ikhlas disimpulkan sebagai melakukan amal atau ketaatan dengan tujuan hanya mengharap ridho Allah. Setiap kali terdapat godaan untuk memalingkan wajah kepada pandangan atau penghargaan dari makhluk, ia tidak akan lengah atau terbuai. Ikhlas menjadikan apa yang dari makhluk tidaklah penting karena ia bersifat fana. Ia mensyukuri keberadaannya, namun ia sadar hal itu bukan untuk dipuja-puja. Yang mesti dipuja adalah yang Maha Sempurna, yang tak lekang dan tak terkekang oleh ruang dan waktu.
3 Terapi Ikhlas dalam Kitab Tazkiyatun Nufus
Setelah membahas definisi ikhlas, berikutnya adalah pembahasan terkait tiga terapi ikhlas. Tiga terapi tersebut disebutkan secara sekilas dalam kitab Tazkiyatun Nufus halaman 15. Yang pertama adalah tidak cenderung kepada hawa nafsu. Kedua, tidak terlalu mengharapkan kebaikan dunia. Dan yang ketiga, berfokus kepada kehidupan akhirat. Tiga terapi ikhlas yang berpusat pada pengondisian pikiran tersebut akan dibahas lebih terperinci sebagai berikut.
Tidak Cenderung kepada Hawa Nafsu
Setiap manusia memiliki hawa nafsu. Dan karena adanya hawa nafsu tersebut, manusia menjadi memiliki kehendak untuk bertahan hidup. Pada saat lapar atau dahaga, manusia tergerak karena hawa nafsunya untuk makan dan minum. Begitu juga yang terkait dengan syahwat libido seksual, seorang lelaki tertarik kepada perempuan, begitu juga sebaliknya. Ketertarikan yang menyebabkan terjadinya persentuhan tersebut merupakan awal dari suatu proses reproduksi atau regenerasi umat manusia. Tanpa adanya hal tersebut, bisa jadi umat manusia akan bersegera menuju kepunahan.
Namun, jika manusia cenderung kepada hawa nafsunya, ini akan menghalanginya dari mencapai tingkatan ikhlas yang sesungguhnya. Ia akan tergoda untuk sekedar menuruti kepuasan hawa nafsu yang tidak ada habisnya. Setiap satu nafsu terpuaskan, maka ia akan terpantik untuk menuruti kehendak hawa nafsu yang lebih besar. Hal ini akan berlangsung terus menerus. Akhirnya orang yang seperti ini akan bertindak melampaui batas. Ia berbuat banyak kerusakan, baik yang berdampak pada dirinya sendiri, tubuh maupun pikirannya. Maupun kerusakan yang bersifat luas, semisal merugikan orang lain dan masyarakat, serta lingkungan hidup tempat dia tinggal.
Karena itulah hawa nafsu perlu dikekang sedemikian rupa. Makan dan minum hanya ketika benar-benar lapar dan dahaga. Menyalurkan syahwat libido seksual melalui lembaga pernikahan yang sah secara kultural maupun religi. Dengan pembatasan yang sedemikian rupa akan memudahkan seseorang untuk bersyukur. Ia akan mudah menyadari bahwa segala apa yang ada pada dirinya adalah anugerah dari yang Maha Pemberi. Dan apabila ia mendapatkan nikmat yang lebih, ia akan mudah berbagi demi kebaikan bersama.
Tidak Terlalu Mengharapkan Kebaikan Dunia
Terapi ikhlas yang kedua adalah tidak terlalu mengharapkan kebaikan dunia. Seseorang yang beramal atau melakukan perbuatan baik hendaknya meniatkan amalan tersebut hanya untuk Allah subhanahu wata’ala. Dunia dengan segala kebaikan atau kenikmatan di dalamnya hanyalah sebuah tambahan. Ia tidak perlu terlalu diharapkan. Jika ia suatu waktu datang, di lain waktu sangat mungkin ia akan pergi atau menghilang. Dunia dengan segala kebaikannya tidaklah bersifat abadi. Ia fana dan mudah rusak. Dan terlalu berharap pada suatu yang pasti akan rusak hanya akan menimbulkan kekecewaan tak terperi.
Meskipun begitu, kebaikan atau kenikmatan yang telah datang bukanlah sesuatu yang perlu dijauhi atau dihindari. Seseorang hanya perlu memusatkan perhatiannya pada benak atau pikiran dan juga hatinya yang seringkali terombang-ambing. Sangat mungkin, di waktu tertentu, pikiran dan hati teralihkan kepada dunia sehingga kadar keikhlasannya dalam beramal berkurang. Karena itulah seseorang perlu secara berkala mengenali kondisi teralihkan ini. Seseorang yang sanggup melakukannya, ia akan dengan mudah meluruskan kembali niatnya menuju jalan keikhlasan. Ia tidak akan terperosok dalam kubangan harapan kebaikan dunia yang sangat sementara.
Berfokus kepada Kehidupan Akhirat
Yang ketiga dari terapi ikhlas adalah berfokus kepada kehidupan akhirat. Terapi ini masih berhubungan dengan terapi yang kedua. Ketika seseorang telah tidak terlalu mengharapkan kebaikan dunia, maka ia perlu menyandarkan niatnya pada tujuan yang lain. Dan kehidupan akhirat atau kehidupan setelah kematian lebih layak untuk menjadi fokus perhatian niat ini. Kehidupan ini bersifat abadi. Selain itu, kehidupan akhirat ini merupakan hari pembalasan atas segala amal yang diperbuat selama masih hidup di dunia. Di dalam kehidupan akhirat ini, segala tabir kehidupan telah tersingkap. Segala ilmu telah terbuka keseluruhannya. Dan sang Pencipta: Ia begitu dekat, tidak hanya di depan mata, namun juga di dalamnya.
Perlu untuk ditambahkan di sini, bahwa yang dimaksud berfokus ini bukan berarti tidak melakukan suatu kegiatan apapun yang bersifat duniawi. Seseorang tetap perlu makan dan minum, bekerja, dan melakukan berbagai aktifitas duniawi yang hukumnya diperbolehkan secara syariat. Namun aktifitas duniawi yang diperbolehkan tersebut hendaknya tidak melampaui batas serta mesti diniatkan untuk melakukan dan mereguk kebaikan yang bersifat ukhrawi. Dengan demikian, niat kita akan senantiasa terjaga dari marabahaya ketergelinciran yang senantiasa mengintai di setiap terbolak-baliknya hati.
Penutup
Demikianlah pembahasan artikel kali ini terkait terapi ikhlas. Pada intinya terapi ikhlas ini merupakan semacam pengondisian batin untuk menuju kepada keadaan ikhlas yang sesungguhnya. Pengondisian ini melibatkan niat pada setiap gerak dan amal perbuatan. Ia perlu dilakukan secara terus menerus, diperbarui setiap kali menurun kadarnya. Pikiran juga tidak boleh lengah dalam mengenali suatu kondisi ketika tiba-tiba batin mengalami kegoncangan akibat tekanan duniawi. Jika kegoncangan tersebut menjelma bersama duka, maka hendaknya bersabar. Dan jika kegoncangan itu mengalir bersama sukacita, maka hendaknya bersyukur dengan mengenali dan tidak melampaui batas.
Terakhir, jangan lupa berdoa kepada Yang Mencipta dan memasrahkan segalanya kepadaNya. Usaha pikiran untuk tidak lengah tersebut bisa sangat melelahkan karena ia berlangsung sepanjang hayat. Berdoalah, sehingga ketika sedang lengah, Ia akan tetap menunjukkan jalan kembali yang sebelumnya tidak pernah kita kenali. Berpasrahlah, sehingga ketika pikiran telah lelah, ia akan segera mengetahui bahwa ada Kehendak yang lebih layak diniscayai.