Kategori
Esai/Artikel Filsafat & Sosial-Budaya

Paradigma Mekanistis vs Sistemis-Ekologis tentang Alam Semesta

Akhir-akhir ini bencana alam sering mengintai kehidupan manusia. Sudah berapa kali selama musim penghujan ini kita mendengar berita banjir bandang yang menerjang suatu wilayah. Belum lagi tanah longsor yang menimbun pemukiman-pemukiman warga. Juga angin badai dan gempa bumi yang raungannya sanggup menggetarkan hati. Semua bencana alam tersebut bukanlah semata murni fenomena alam. Terdapat bencana-bencana yang merupakan akibat dari kebiasaan manusia yang eksploitatif. Kebiasaan ini muncul karena berkembangnya paradigma mekanistis manusia modern dalam memahami hakikat alam semesta. Paradigma mekanistis inilah yang akan menjadi fokus pembahasan pada artikel ini. Selain itu, juga akan dibahas tentang paradigma sistemis ekologis yang bisa dijadikan alternatif yang lebih baik daripada paradigma mekanistis.

Paradigma Mekanistis tentang Alam Semesta

Merujuk pada buku Filsafat Lingkungan Hidup yang ditulis oleh Dr. A. Sonny Keraf, paradigma mekanistis ini muncul akibat dari revolusi ilmu pengetahuan pada abad ke-17 di Eropa. Revolusi ilmu pengetahuan ini terutama ditandai oleh perubahan signifikan pada bidang fisika dan astronomi. Beberapa tokoh seperti Copernicus, Galileo dan Newton bisa dikatakan sebagai peletak dasar dari paradigma mekanistis ini. Masa ini juga sering disebut sebagai abad pencerahan yang memiliki pengaruh sangat luas bahkan hingga masa modern atau hampir pasca-modern ini.

Selain nama-nama yang telah disebut di atas, sosok Rene Descartes juga layak untuk ditampilkan ke permukaan. Melalui pergulatan pemikiran yang intensif, akhirnya ia menelurkan sebuah jargon filsafat yang populer sepanjang sejarah: Cogito ergito sum. Pernyataan Latin yang berarti Aku berpikir maka Aku ada tersebut menempatkan sosok aku yaitu manusia sebagai pusat degup kehidupan. Dengan akal budi serta rasio analitisnya, manusia dianggap lebih unggul daripada makhluk-makhluk hidup yang lain.

Namun sayang, paradigma mekanistis yang telanjur melekat tersebut menjadikan manusia terpedaya dengan keunggulannya. Bukannya memanfaatkan keunggulan akal budi tersebut untuk mamayu hayuning bawana, manusia justru bertindak eksploitatif terhadap selainnya. Mereka menjadi memandang alam semesta hanyalah sebuah mesin raksasa yang mesti dikuasai atau ditundukkan demi memenuhi hajat hidup manusia semata. Pada paradigma mekanistis, interaksi antara manusia dengan alam semesta bersifat patriarkal satu arah di mana manusia memaksakan kehendaknya. Tidak ada dialog atau dialektika di dalamnya.

Paradigma mekanistis juga melakukan pemisahan yang tegas antara bagian dan keseluruhan. Untuk memahami keseluruhan, paradigma ini cukup mengambil bagian-bagian tertentu saja sebagai sampel. Lebih jauh, paradigma ini juga tidak terlalu mempertimbangkan adanya interaksi-interaksi yang membentuk keseluruhan tersebut. Akibatnya segalanya serba tereduksi dan sedikit sekali yang dapat dipahami secara komprehensif atau menyeluruh.

Hal ini sangatlah wajar, karena paradigma mekanistis sangat memperhitungkan aspek efisiensi dalam pemanfaatan alam semesta. Semakin cepat pemanfaatan tersebut dilakukan, semakin besar pula kemungkinan keuntungan yang bisa didapatkan. Sebab itulah, paradigma ini sangat dominan dalam kapitalisme. Setiap modal yang dikucurkan mestilah mendatangkan keuntungan yang pasti. Apabila pelaku bisnis terlalu sibuk mencermati interaksi-interaksi antarbagian tersebut secara seksama, maka aksi nyata bisa tertunda. Penundaan yang terlalu lama bisa mendatangkan kerugian.

Ambil saja sebuah contoh perusahaan raksasa yang hendak membuka tambang emas di suatu wilayah terpencil. Riset yang akan dilakukan akan lebih mengarah kepada pemanfaatan lahan tambang yang menjadi sasaran. Secara sosial, riset tersebut akan diarahkan untuk pembebasan lahan di mana sangat mungkin lahan yang bersangkutan masih menjadi hak milik perseorangan. Sedangkan secara hukum, riset dengan paradigma mekanistis bisa digunakan untuk menerobos celah-celah hukum yang ada.

Kajian ekologis dilakukan sekadarnya dan sangat minim. Sebelum penambangan dan pengerukan, tidak diperhitungkan berapa jumlah pohon yang akan ditebang di atas tanah. Tidak terlalu diambil pusing pula, efek pemanasan dan pencemaran limbah mineral di sekitar lahan pertambangan. Dan tentu tidak terlalu dipedulikan keterkaitan ekosistem antara satu wilayah dengan wilayah yang lain. Sangat mungkin kerusakan dan pencemaran terjadi tidak hanya di wilayah yang menjadi lahan pertambangan. Namun juga wilayah-wilayah yang saling terhubung dari hulu ke hilir, maupun sebaliknya.

Baca juga:

Kesadaran Tertinggi Manusia

Paradigma Sistemis Ekologis tentang Alam Semesta

Berbeda dengan paradigma mekanistis yang memandang alam semesta bagaikan sebuah mesin, paradigma sistemis ekologis memberikan sudut pandang yang lain. Alam semesta merupakan sesuatu yang benar-benar hidup, tidak jauh beda dengan manusia. Ia memiliki kemampuan untuk mengatur dirinya sendiri atau yang disebut self-organization. Dengan cara pandang yang demikian, alam semesta tidaklah dipandang sebagai objek semata yang bisa diekploitasi sesuka hati. Ia layak dihormati karena ialah yang menjadi pijakan dan tempat bergantung kehidupan manusia.

Paradigma ini dikatakan memperoleh tempatnya pertama kali di dunia ilmiah modern semenjak Albert Einstein menelurkan teori relativitas dan teori kuantumnya. Teori baru yang mengoyak paradigma Cartesian-Newtonian yang mekanistik ini menitikberatkan pada relasi antar organisme yang dinamis. Karena itu, sebab akibat yang bersifat linear tidak bisa lagi dipertahankan karena terlalu mereduksi keterlibatan banyak hal. Relasi atau hubungan segala sesuatu terbentuk dalam sebuah pola siklus yang non-linear. Dengan kata lain, suatu hal yang bersifat mempengaruhi, di sisi lain ia juga menerima pengaruh dari yang ia pengaruhi sebelumnya. Tidak ada yang bisa disebut mendominasi di sini.

Karena tidak ada yang mendominasi, antarbagian dalam alam semesta sesungguhnya terlibat saling memanfaatkan satu sama lain. Satu sama lain saling memberi kehidupan sesuai dengan kapasitas yang dimiliki masing-masing. Tidak ada satupun unsur yang berusaha membunuh atau meniadakan unsur yang lain. Dengan demikian, seperti yang diyakini oleh Albert Einstein: alam semesta ini merupakan sebuah harmoni di mana bagian-bagian yang saling berinteraksi menjalin satu kesatuan yang utuh. Dan keutuhan ini tidak bisa dipisah-pisah atau dipreteli bagaikan mesin begitu saja.

Paradigma sistemis ekologis ini juga tidak mengenal adanya dikotomi atau pemisahan makna antara yang bebas dan yang terikat. Dalam paradigma ini, kedua hal tersebut dipandang sebagai sebuah paradoks yang saling melengkapi. Tiap-tiap unsur dalam alam semesta ini memiliki ciri khas atau jati dirinya sendiri. Dengannya ia hidup dan bebas bergerak. Ia, organisme yang hidup tersebut, selalu tumbuh dan berkembang untuk mencapai puncak kehidupannya yang paling penuh.

Namun kebebasan hidup, tumbuh dan berkembang tersebut senantiasa terikat dengan alam semesta dan hukum-hukumnya. Ialah  yang menjadi landasan bagi adanya segala kehidupan. Tanpa adanya landasan ini, unsur-unsur tersebut akan tercerabut dari akarnya. Karena itulah setiap organisme selalu dituntut secara alamiah untuk terbuka terhadap perubahan yang ada. Ia perlu beradaptasi dengan lingkungannya dalam sebuah proses yang dinamis. Hendaknyalah ia memberi tanpa melakukan pantangan untuk menerima dari yang lain.

Terakhir, dalam paradigma sistemis ekologis ini, tidak mengenal kaidah yang bernama objektifitas absolut. Dengan kata lain, dalam pemahaman seorang manusia, tidak ada objek yang objektif. Deskripsi maupun penilaian terhadap suatu objek selalu melibatkan manusia sebagai subyek. Ia selalu membawa sudut pandang maupun bahasanya sendiri untuk berbicara tentang suatu objek. Pemahaman yang demikian bisa mengarahkan kepada suatu proses penyadaran diri bahwa subyek bisa saja melakukan sebuah kesalahan. Dan dengan kesalahan tersebut, ia bisa melakukan instropeksi dan refleksi.

Beda halnya jika seorang subyek, sebut saja manusia mengklaim suatu objektifitas absolut. Hal ini sangat berbahaya, karena ujung-ujungnya ia akan menganggap bahwa kebenaran telah atau terletak pada dirinya semata. Ia tidak akan terbuka kepada kritik dan saran, terbuka terhadap dialog yang konstruktif. Lebih jauh, bisa saja atas landasan tersebut ia melakukan pemberangusan kepada diri-diri yang lain yang berbeda pandangan. Jika sudah demikian harmoni akan sulit terwujudkan karena pemutlakan bisa sangat membekukan dan membutakan.

Penutup

Demikianlah pembahasan artikel kali ini terkait paradigma mekanistis dan paradigma sistemis ekologis tentang alam semesta. Sebagai rangkuman, bisa dikatakan bahwa paradigma mekanistis tentang alam semesta merupakan sebuah cara pandang yang menganggap alam semesta sebagai mesin. Alam semesta dipandang sebagai benda mati atau objek belaka yang bisa dieksploitasi oleh makhluk berkesadaran bernama manusia. Paradigma ini juga beranggapan bahwa manusia adalah sosok unggul yang seolah-olah bisa hidup terlepas dari alam.

Sedangkan paradigma sistemis-ekologis adalah sebaliknya. Alam semesta secara keseluruhan merupakan sesuatu yang benar-benar hidup. Unsur-unsur di dalamnya, termasuk manusia saling berinteraksi secara dinamis untuk menjaga keberlangsungan kehidupan secara harmonis. Alam semesta merupakan kehidupan itu sendiri. Ia adalah kompleksitas yang penuh misteri yang layak dikagumi maupun ditakuti. Namun terlepas dari itu semua, ia layak untuk dihargai, dihormati dan dicintai seperti seorang ibu pertiwi yang telah banyak memberi. Alam semesta perlu dijaga supaya senantiasa lestari.

Satu tanggapan untuk “Paradigma Mekanistis vs Sistemis-Ekologis tentang Alam Semesta”

[…] Demikian pembahasan artikel kali ini. Lirik lagu Berita Cuaca atau Lestari Alamku ciptaan Almarhum Gombloh mencoba mengungkapkan harapan rakyat jelata demi alam yang lestari. Harapan tersebut tentu harus berhadapan dengan kenyataan yang getir karena di banyak wilayah di Indonesia, bahkan di dunia terungkap adanya perusakan hutan atau deforestasi yang jumlahnya terus meningkat. Meskipun demikian, kenyataan getir tersebut tidak menyurutkan harapan orang-orang yang benar-benar peduli terhadap lingkungan. Mereka menunjukkan aksi nyata melakukan kampanye-kampanye pelestarian alam. Selain itu, mereka juga melakukan advokasi-advokasi demi kepentingan masyarakat yang tanahnya menjadi lahan konflik dengan korporasi-korporasi besar. Mereka juga adalah yang terdepan dalam melontarkan kritik terhadap kebijakan pemerintah yang berlawanan dengan prinsip pelestarian alam. […]

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Ambasaja

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca