Shallallahu ‘ala Muhammad,
Shallallahu ‘alaihi wasallam…
Sayup-sayup dari kejauhan terdengar nada-nada shalawat atas Nabi. Shalawat itu diiringi dengan tabuhan rebana dengan irama yang serempak dan harmonis. Nada-nada itu terkadang mendayu-dayu, seolah mengungkapkan rindu yang teramat jauh; jauh ruang dan jauh waktu, dan hanya dekat dalam pikiran dan perasaan; dalam iman dan keyakinan. Terkadang nada-nada itu penuh dengan semangat, penuh gairah yang menjadi wujud cinta pada sebuah kehadiran yang menyelusup jauh ke dalam relung batin yang terdalam. Namun, terkadang juga nada-nada itu tidak menjadi wujud dari jenis perasaan apapun. Ia hanya menjadi suara-suara yang numpang lewat, yang sejenak menjenguk ruang dengar- ruang dengar manusia yang terhubung dalam satu arus gelombang.
Yang demikian juga sedang terjadi padaku. Aku tidak terlalu peka dengan suara-suara, dengan nada-nada yang menghambur ke dalam ruang dengarku itu. Mungkin hanya irama-iramanya saja yang bisa aku nikmati, terutama ketika tabuhan rebana itu menghasilkan sebentuk bunyi yang menyerupai gebukan drum dobel pedal yang menghentak-hentak layaknya pada musik heavy-metal. Kepalaku akan sedikit terantuk-antuk, mengangguk-angguk seirama dengan tabuhan rebana itu. Namun, sebenarnya apa yang tersisa ketika semua itu telah lewat, ketika suara-suara itu telah usai dan mulai ditelan oleh keheningan? Adakah sesuatu yang mengendap?
Aku tidak hendak menjawab pertanyaan itu, karena pikiranku mulai beralih pada sesuatu yang lain. Memandang bintang-bintang di langit malam yang hanya muncul satu-dua, menyimak desauan halus udara dan angin malam yang menyentuh kulit, dan menyimak beraneka suara pada fokus pendengaran yang setengah-setengah menjadikanku mengabaikan pikiran-pikiran yang tengah bertandang. Apakah ia hendak menghancurkanku lagi dengan kenangan-kenangan?
Ternyata aku masih tidak sanggup mengelak. Bahkan sebenarnya sangat mungkin aku tidak ingin mengelak. Syair dari nada-nada shalawat itu terdengar jelas: Marhaban ya nurul ‘aini, Marhabban jaddal Husaini. Deraian syair yang kudengar ini membuatku memejamkan mata. Dalam keterasingan ruang terpencil di dalam pikiranku, aku mencoba menghadirkan dan menyambut sosok itu.
Ia adalah nurul ‘aini; seutas cahaya yang menjadi penerang di kegelapan sehingga mataku mampu melihat bintang-bintang. Tidak hanya bintang-bintang yang berada di langit malam, namun juga bintang-bintang yang bertebaran pada semesta batinku yang rentan. Dalam keterpajaman mataku, kurasakan sebuah kesembapan, mata yang basah dan rongga hidung yang tiba-tiba terasa penuh. Namun tidak ada air mata yang tercucur. Ia tertahan pada sudut mataku dan mengendut di dalam pikiranku dengan sebentuk kenangan yang tak pernah lekang oleh waktu.
***
Kembali ke masa lalu, aku teringat dengan prosesi shalawatan pada masa kecilku. Pada waktu itu tidak ada rebana yang ditabuh oleh sekelompok penabuh. Yang berdendang dan bersyair menyuarakan rasa cintanya kepada Sang Nabi tidak hanya orang-orang terpilih yang bersuara merdu, orang-orang yang mampu bernyanyi, namun semua orang yang hadir, dan mungkin juga yang tidak hadir.
Mereka membentuk sebuah lingkaran yang pada bagian tengahnya dikosongkan. Ketika mata mereka terpejam, mereka membayangkan –bahkan mungkin juga merasakan kehadiran Sang Nabi di tengah-tengah mereka. Kehadiran tersebut menjadikan gairah dan semangat sebagian dari mereka meluap-luap. Aku sendiri masih ingat, bahkan ketika sebagian di antara mereka mulai setengah berteriak, teriakan tersebut masih senantiasa memiliki nada yang indah dan menggetarkan. Bahkan ketika suara itu mulai terdengar serak-serak yang tidak lagi basah, kekeringan yang telah melekat pada tenggorokan mereka tidak melunturkan mereka untuk bershalawat.
Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Aku sendiri saat itu hanyalah seorang anak kecil yang hanya ikut-ikutan. Aku datang, biasanya ke masjid, ikut berdiri bersama mereka, mencoba menirukan kata-kata yang mereka lafalkan. Namun banyak kata-kata itu yang lepas. Yang melekat, bahkan hingga saat ini, hanyalah Sayyidina, Muhammad, dan tentu saja Shallallahu ‘alaihi wasallam. Aku bahkan tidak tahu kala itu, mengapa bagian tengah tersebut dikosongkan. Adakah sesuatu yang istimewa dari pengosongan? Ataukah mungkin pengosongan tersebut merupakan sebuah jalan agar pengisian kembali tidak tercampur dengan noda-noda yang mencemari? Sesuatu yang suci?
Seorang hamba yang lemah tidak akan berani menjawab pertanyaan ini. Yang dia berani adalah untuk menyandarkan kemungkinan-kemungkinan tersebut. Ia hendak meyakini, tapi bukan untuk memastikan apalagi memaksakan keputusan-keputusan yang tidak bisa diganggu gugat. Seperti anak kecil yang hanya bisa ikut-ikutan, seorang hamba yang lemah –sekuat apapun kehendak yang tersemat pada pundaknya – tak sekalipun akan mampu lepas dari fenomena dan rangkaian peristiwa yang bagian-bagiannya selalu menyeruak pada kepadatan relatif benda-benda. Mungkin, sekali lagi hanya mungkin, dia mampu mengabstraksi keseluruhan, menariknya pada pola-pola yang terlihat jelas. Namun, mampukah dia mencerapnya, mengalaminya bersama seluruh pikiran dan perasaannya, menyatukan keseluruhan rangkaian ruang dan waktu, kemudian melampauinya dan menyingkap tabir berupa ketaksaan yang melekat pada alam semesta. Tidakkah tubuhnya akan meledak dan hancur berkeping-keping menerima semua itu?
Shallallahu ‘alaihi wasallam
***
Menjelajah jauh ke masa depan yang bisa kulakukan hanya membayangkan. Bayang-bayang tersebut terasa begitu jauh, padahal sesungguhnya ia begitu dekat. Ia berada di dalam, mengambil bentuk dalam ungkapan-ungkapan yang diproyeksikan oleh pikiran. Maka, untuk masa depan itulah sekali lagi kuungkapkan shalawat dan salam atas sang Nabi, shallallahu ‘alaihi wasallam. Shalawat dan salam ini mungkin hanya terhaturkan lewat tulisan biasa-biasa saja yang tidak mampu mengaduk-aduk perasaan. Perasaan penulisnya telah tercampur aduk terlebih dahulu, hingga yang muncul pada tahap pengungkapan hanyalah tulisan yang sangat ala kadarnya. Di sini tidak ada lagi nada-nada dan irama-irama yang mampu membuat jiwa berdendang. Kata-kata indah pun juga telah tenggelam dalam udara dingin sehabis hujan malam ini.
Untuk masa depan itulah, sembari menuliskan shalawat dan salamku atas Nabi, terdengar jamaah shalawat lain di muka bumi. Mereka sedang menerima sekaligus memanjatkan cinta. Dari apa yang pernah dipunya, maupun yang tidak pernah, ataupun yang akan dan mungkin akan dipunya, mereka menyedekahkan segalanya kepada yang benar-benar berpunya, yang kepemilikannya tidak pernah usang dan merenta. Pada apa yang senantiasa terlihat berubah-ubah, mereka menatapnya bagaikan sesuatu yang telah benar-benar menetap, yang ketetapannya telah ditetapkan jauh sebelum waktu mengada, dan ruang-ruang masih dalam barisan tanda-tanda yang hanya sanggup mengagungkan keberserahan yang paling mutlak.
Shallallahu ‘alaihi wasallam
Akhirnya aku telah berkaca pada yang telah lalu. Telah pula aku menitikberatkan ruang dan waktuku pada yang saat ini, kemudian memproyeksikan sebuah bayangan masa depan yang dalam selintas harapan seorang ‘aku’ semoga semuanya baik-baik saja. Namun, sesungguhnya segalanya senantiasa baik-baik saja. Sejak sediakala yang baik dan buruk memang telah terlampaui, tidak perlu menunggu sang juru selamat, ataupun perputaran roda sejarah yang terbolak-balik silih berganti. Semuanya baik-baik saja. Dan demi kebaikan yang telah menempati kemutlakannya kuhaturkan shalawat dan salamku atas sang Nabi tercinta:
Shallallahu ‘alaihi wasallam