Kategori
Bahasa dan Sastra Esai/Artikel

Intertekstualitas: Hubungan Antarteks dengan Penulis dan Pembaca

Dalam kajian kesusasteraan dikenal adanya sebuah teori yang bernama intertekstualitas atau hubungan antarteks. Teori yang pertama kali diperkenalkan oleh Julia Kristeva pada tahun 1960an ini menjelaskan bahwa keberadaan sebuah teks tidak pernah bisa berdiri sendiri. Seorang pembaca, sadar atau tidak sadar, akan menghubungkan sebuah teks dengan teks-teks lain (setidaknya yang sejenis) untuk memperoleh pemahaman atau makna yang komprehensif. Dalam kasus penciptaan karya pun, unsur antarteks ini tidak pernah lepas. Seorang penulis novel misalnya, secara sengaja maupun tidak sengaja sangat mungkin ia memasukkan unsur-unsur atau komponen-komponen dari teks lain yang pernah ia baca sebelumnya.

Dari dua sudut pandang itulah, intertekstualitas ini akan dibahas panjang lebar, yaitu sudut pandang resepsi pembaca dan sudut pandang penulis sebagai pencipta karya. Untuk lebih memperjelas, saya akan menyajikan contoh-contoh dari pengalaman pribadi saya sebagai seorang pembaca, maupun sebagai seorang penulis (lebih tepatnya seseorang yang belajar menulis). Selengkapnya, langsung saja simak pembahasannya pada bagian di bawah ini.

Intertekstualitas dari Sudut Pandang Pembaca

Dari sudut pandang pembaca, prinsip-prinsip intertekstualitas atau keterkaitan antar-teks dapat terlihat ketika seorang pembaca hendak memahami kandungan makna atau maksud sebuah teks tertentu. Di waktu membaca sebuah teks, biasanya seorang pembaca akan mencoba mencari makna teks tersebut dengan mengaitkannya dengan makna teks lain. Ia akan mencoba membandingkan teks-teks tersebut, mencari persamaan-persamaan dan juga perbedaan-perbedaan yang melekat padanya. Dari persamaan dan perbedaan tersebut, ia dapat menarik kesimpulan dari kandungan makna sebuah teks, setidaknya secara tekstual. Untuk menggali makna kontekstual, ia perlu melakukan penelitian lebih lanjut.

Bahkan sesungguhnya ketika mencoba menyingkap sebuah makna kontekstual, prinsip-prinsip intertekstual tersebut tidak akan lepas begitu saja. Sebuah konteks atau situasi yang mengilhami keberadaan sebuah teks hanya dapat dipahami ketika ia menggejala dalam bahasa atau tanda-tanda. Konteks atau situasi tersebut biasanya bersifat lampau, artinya terlebih dahulu muncul dari sebuah teks. Dan, sesuatu yang telah terlampaui hanya bisa diketahui jejak-jejaknya jika ia terekam dalam tanda-tanda.

Misalnya saja, untuk memahami kandungan makna sebuah novel, seorang pembaca mengaitkannya dengan riwayat hidup penulisnya. Tanpa menghubungi langsung penulisnya maka ia setidaknya perlu membaca biografi penulis tersebut, yang tentu saja biografi tersebut telah tersaji dalam barisan kata-kata. Dengan kata lain, biografi tersebut telah memiliki sifat tekstual.

Bahkan, seandainya pembaca tersebut bisa langsung mewawancarai sang penulis, kaidah intertekstual tersebut tetap tidak bisa lepas. Hanya saja dalam wawancara, teks tersebut termanifestasikan dalam bentuk yang lain, yaitu bentul oral yang jika tanpa melakukan pencatatan, maka untuk memunculkannya kembali diperlukan ingatan yang kuat. Dan, seringkali ingatan dan pikiran itu merupakan aktifitas mental dalam rupa tanda-tanda bahasa, atau kata-kata.

Intertektualitas dari Sudut Pandang Penulis

Jika kita perhatikan dengan seksama, karya atau tulisan seorang penulis tentunya memiliki kemiripan dengan tulisan-tulisan lain yang bukan menjadi hak miliknya. Bisa jadi penulis bersangkutan terinspirasi dari tulisan-tulisan yang lain sehingga tanpa sadar memasukkan unsur-unsur dari tulisan tersebut ke dalam karyanya. Atau mungkin secara sengaja, memang seorang penulis memasukkan unsur-unsur dari tulisan lain yang bukan miliknya karena menganggap tulisan ‘yang lain’ tersebut layak diangkat kembali. Dengan kata lain, tulisan-tulisan lain tersebut dianggap mampu memperkaya tulisan sang penulis.

Dalam mode seperti itulah intertekstualitas dari sudut pandang penulis mengambil bentuk. Terdapat tiga mode mental yang melatari seorang penulis untuk mengaitkan atau merujukkan tulisannya pada tulisan-tulisan lain yang bukan miliknya. Tiga mode mental tersebut, seperti yang termaktub pada laman Wikipedia, yaitu, obligatory, optional dan aksidental.

Mode Obligatory

Pada mode obligatory, mengaitkan dengan teks lain merupakan sebuah kewajiban yang harus dilakukan oleh seorang penulis. Karena sifatnya yang wajib ini, maka teks lain yang dimasukkan ke dalam karya seorang penulis akan tampak sangat kentara. Penulis, dalam mode ini, seolah-olah mencangkokkan bagian-bagian yang ada pada teks lain, entah itu dengan mengutip secara langsung, atau dengan melakukan parafrase sembari menyertakan sitasi terhadap tulisan yang dirujuk.

Intertekstualitas dengan mode obligatory atau wajib ini mudah ditemukan dalam tulisan-tulisan atau karya ilmiah akademis. Seorang akademisi, ketika menulis atau melaporkan penelitian akademis yang ia lakukan diwajibkan untuk merujuk pada tulisan-tulisan yang telah ada sebelumnya. Hal ini penting dilakukan untuk menjaga epistemologi pengetahuan yang telah ada, entah itu untuk mendukung teori, asumsi, atau pengetahuan yang telah ada sebelumnya tersebut, atau sebagai tantangan yang mencoba menyanggah kemapanan otoritas keilmuan sebelumnya.

Selain itu, pada mode obligatory keterkaitan antarteks yang harus diperlihatkan oleh seorang penulis tersebut mesti mengacu pada kaidah-kaidah atau format-format yang telah disepakati secara ilmiah. Di sini, seorang penulis tidak bisa seenaknya melakukan kutipan dengan caranya sendiri. Jika ia membandel serta tidak mau ambil pusing, pihak-pihak pemilik otoritas akademis akan meniup peluit pelanggaran. Hal ini bisa berdampak negatif pada reputasi akademis seorang penulis, kecuali jika ia telah mendapatkan sebuah posisi otoritatif di mana di beberapa kesempatan ia bisa sedikit melakukan modifikasi format.

Mode Optional

Intertekstual dari sudut pandang penulis berikutnya adalah mode optional. Pada mode ini penulis tidak diharuskan untuk secara ketat merujuk atau mengutip pada teks-teks lain yang relevan. Penulis mendapatkan kesempatan untuk memilih apakah ia akan memasukkan bagian-bagian dari teks lain itu ke dalam karyanya atau tidak. Dengan kata lain, seorang penulis memiliki opsi di mana ia bebas menentukan pilihan. Jikalaupun ia memutuskan untuk secara sengaja memasukkan unsur teks lain ke dalam karyanya, ia pun tidak akan terlalu dipusingkan dengan keseragaman format yang telah ditetapkan dari atas.

Contoh yang paling jelas dari intertekstual jenis ini adalah artikel-artikel populer yang biasanya dimuat di media massa seperti koran. Pada artikel-artikel tersebut, kaidah-kaidah pengutipan yang menjadikan sebuah teks secara kentara memiliki keterkaitan dengan teks lain tidak perlu disinggung terlalu ketat. Penulis memiliki opsi meskipun masih sangat terbatas. Keterbatasan tersebut muncul disebabkan seorang penulis berada di dalam sebuah koridor keilmiahan yang otoritatif. Semakin ia mengikuti kaidah keilmiahan tersebut, semakin meningkat pula peluangnya untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan, baik berupa keuntungan popularitas maupun keuntungan finansial.

Mode Aksidental

Intertekstualitas atau hubungan antarteks pada mode aksidental bersifat tidak sengaja. Seorang penulis, dalam mode ini, hanya berusaha menuangkan tulisannya semengalir mungkin. Ia tidak dibebani dengan keharusan mengutip sesuatu sehingga ia cenderung bebas dalam menyampaikan gagasan-gagasan atau imajinasi-imajinasinya dalam bentuk tulisan. Meskipun begitu tidak dapat dipungkiri terkadang ketika membaca kembali karya yang telah ia tulis, seorang penulis mendapati beberapa bagian yang unsur-unsurnya mirip dengan teks-teks lain yang pernah ia baca.

Unsur-unsur yang dimaksud di sini bisa jadi berupa substansi tema yang sama, atau unsur-unsur lain yang lebih bersifat formal, seperti penggunaan diksi dan gaya bahasa. Hubungan atau kemiripan yang aksidental atau tidak disengaja ini bisa jadi karena seorang penulis secara psikologis sangat terpengaruh dengan teks-teks lain yang pernah ia baca. Ia terpukau sehingga tanpa sadar berusaha meniru unsur-unsur pada tulisan yang pernah ia baca sebelumnya, meskipun tentu saja ia memodifikasinya sedemikian rupa untuk menemukan identitas tulisannya sendiri yang paling otentik.

Penutup

Demikianlah pembahasan artikel kali ini berkaitan dengan intertekstualitas atau hubungan antarteks. Untuk memahami hubungan ini, kita bisa mengambil peran sebagai pembaca atau penulis. Sebagai pembaca tentunya dalam memahami sebuah teks, kita seringkali mengacu atau bahkan melakukan komparasi dengan teks-teks lain yang pernah kita baca sebelumnya. Sedangkan sebagai penulis, intertekstualitas tersebut akan memperkaya tulisan-tulisan kita sehingga tidak terjebak hanya pada satu sudut pandang.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Ambasaja

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca