Kategori
Bahasa dan Sastra Esai/Artikel

7 Teknik Analisis Sintaksis

Dalam melakukan analisis kebahasaan, seorang ahli bahasa maupun pembelajar bahasa dan guru bahasa dituntut untuk dapat menggunakan beragam teknik analisis yang telah ada. Salah satu teknik analisis ini adalah teknik analisis sintaksis, yaitu teknik membedah unsur kebahasaan yang berada pada skala frasa, klausa, kalimat, hingga wacana dengan menitikberatkan pada keterkaitan antara unsur-unsur yang ada.

Berikut ini saya rangkum 7 macam teknik analisis sintaksis yang sering dibahas dalam buku teks linguistik. Penjelasan di dalam rangkuman ini mengacu pada buku berjudul Dasar-Dasar Analisis Sintaksis yang ditulis oleh Jos Daniel Parera (almarhum), dosen FPBS IKIP Jakarta, sekarang UNJ. Selengkapnya, silahkan simak pada bagian di bawah ini.

Analisis Unsur Bawahan Langsung

Teknik analisis sintaksis yang pertama adalah analisis unsur bawahan langsung (Immediate Constituents Analysis). Pada teknik analisis yang biasa disingkat surlang ini, sebuah konstruksi bahasa dipecah ke dalam dua bagian, di mana bagian-bagian tersebut bisa dianalisis lagi ke dalam bentuk-bentuk yang lebih kecil. Penerapan analisis ini setidaknya mensyaratkan adanya dua morfem dalam sebuah konstruksi bahasa. Tujuan dari analisis surlang ini adalah untuk mengetahui runtutan pembentukan sebuah konstruksi kebahasaan.

Dalam buku Dasar-Dasar Analisis Sintaksis halaman 73, J.D Parera menyebutkan bahwa teknik ini dapat dikenakan pada tataran morfologi dan tataran sintaksis frasal. Pada tataran morfologi, kita bisa ambil contoh kata bergandengan. Terdapat dua kemungkinan proses pembentukan kata ini. Pertama, kata ini terbentuk dari prefiks (awalan) ber- dan kata gandengan; atau kedua, dari konfiks ber-an dan kata gandeng.

Pada tataran sintaksis frasal, kita bisa ambil contoh frasa anak kucing yang nakal. Jika dipecah ke dalam dua bagian, kita bisa memecahnya menjadi dua frasa: anak kucing dan yang nakal. Kemungkinan pemecahan yang lain adalah anak dan kucing yang nakal. Pada contoh yang pertama, yang dikenai atribut nakal adalah anak kucing. Sedangkan, pada contoh yang kedua atribut nakal tersebut melekat pada sang induk anak kucing yang dimaksud.

Analisis Tagmemik

Teknik analisis sintaksis berikutnya adalah analisis tagmemik yang dikembangkan oleh ahli bahasa dari Amerika Serikat, Kenneth L. Pike. Tagmem sendiri merupakan hubungan antara sebuah gatra fungsional dengan kelas  dari unsur-unsur yang mengisi gatra tersebut. Penerapan teknik analisis ini dalam Bahasa Indonesia seperti yang tertera pada pola dasar kalimat inti Bahasa Indonesia. J.D Parera setidaknya menyebutkan 10 pola dasar kalimat inti ini sebagai berikut.

  • GN                         +             GN

Ibu (saya)                            guru

Jakarta                                  ibu kota RI

  • GN                         +             GA

Pinggang (ibu)                   sakit

Pohon (itu)                         tumbang

  • GN                         +             GV

Kuda (itu)                            sakit

Adik                                       menangis

  • GN     +           GVt         +             GN

Mereka          menentang             pemerintah

Petani            menanam                  padi

  • GN       +    GVt         +       GN         +      GN

Ayah         memberikan       adik                   sepatu

  • GN               +    GVKon         +             GN

Perbuatan (itu)   merupakan               bencana

Keponakannya   menjadi                     dokter

  • GN             +     GVKon         +             GA

Kucing (itu)       menjadi                      ganas

  • GN     +     GVin      +             GA

Mereka     tertawa           terbahak-bahak

Dia          tidur            (sangat) nyenyak

  • GN                         +             GL

Ayah                                      ke pasar

Kecelakaan (itu)                   di Gambir

  • GN                        +             GW

Kecelakaan                         kemarin

Keterangan:

GN = Gatra Nomina (kata benda)

GA = Gatra Adjektiva (kata sifat)

GV = Gatra Verba (kata kerja)

GVt = Gatra Verba transitif (kata kerja yang diikuti nomina)

GVKon = Gatra Verba Konjungtif

GVin = Gatra Verba intransitif (kata kerja tanpa perlu diikuti nomina)

GL = Gatra Lokasi (keterangan tempat)

GW = Gatra Waktu

Analisis Transformasi

Teknik sintaksis yang ketiga adalah analisis transformasi atau tata bahasa transformasi yang dikembangkan oleh Noam Chomsky. Terdapat dua babak yang ditempuh Chomsky dalam mengembangkan tata bahasa transformasi ini. Babak pertama tertera pada buku Syntactic Structures yang terbit pada tahun 1957. Dan, babak kedua terdapat pada buku Aspects of the Theory of Syntax yang terbit tahun 1965. Pada rangkuman yang sangat singkat ini hanya akan diulas sedikit tentang dua pasang konsep dari babak kedua tata bahasa transformasi.

Dua pasang konsep yang dimaksud di atas adalah competence dan perfomance; serta deep structure dan surface structure. Competence atau kompetensi merupakan kemampuan seorang pengguna bahasa dalam menyerap tata kebahasaan yang ada di sekitarnya. Kemampuan ini juga berkaitan dengan aspek kreatif jiwa yang terwariskan, baik itu secara genetika maupun melalui proses pendidikan. Sedangkan istilah performance atau performa adalah berkaitan dengan bagaimana seorang pengguna bahasa menggunakan kompetensi atau kemampuan berbahasanya untuk menciptakan sebuah konstruksi kebahasaan tertentu. Konstruksi kebahasaan ini bisa bersifat lisan maupun tulisan.

Kemudian, sepasang konsep yang berikutnya adalah deep structure dan surface stucture. Secara harfiah, deep structure dapat diartikan sebagai struktur yang bersifat dalam, sedangkan surface structure adalah struktur yang bersifat permukaan. Deep structure ini berkaitan dengan aspek semantik atau makna dari sebuah konstruksi kebahasaan, serta logika-logika yang terkandung di dalamnya. Struktur ini memiliki hubungan timbal balik, saling mempengaruhi satu sama lain dengan surface structure yang bersifat permukaan. Dengan kata lain, dua struktur tersebut saling mentransformasi. Yang dalam dapat mempengaruhi yang berada di permukaan. Sebaliknya, yang bersifat permukaan pun juga mampu membolak-balik sesuatu yang berada di kedalaman.

Tata Bahasa Kasus

Teknik analisis sintaksis yang keempat adalah Tata Bahasa Kasus yang dikembangkan oleh Charles J. Fillmore. Dia mengembangkan Tata Bahasa Kasus dalam dua tahap: tahap pertama yang disebut Tata Bahasa Kasus I (TBK I) pada tahun 1968, dan tahap kedua atau yang disebut Tata Bahasa kasus II (TBK II) pada tahun 1970. Pada rangkuman ini akan disajikan contoh-contoh pada TBK II yang bersifat lebih mutakhir.

Dalam TBK II tersebut, Charles J. Fillmore mengklasifikasikan kalimat ke dala 10 kasus, sebagai berikut:

  • Agentif: kasus yang menyatakan pelaku dari suatu perbuatan atau pekerjaan.

Contoh: Petrus membuka pintu.

  • Pengalami: kasus ini menyatakan orang mengalami dan kena satu peristiwa psikologis, sensasi, emosi, dan kognitif.

Contoh: Yanto sedang patah hati.

  • Instrumen: kasus yang menyatakan dorongan, penyebab, alat terjadinya sesuatu.

Contoh: Hudi memotong roti dengan pisau dapur.

  • Benefaktif: kasus yang menyatakan nomen (subjek) memperoleh, memiliki, dan/atau kehilangan sesuatu.

Contoh: Para petani kehilangan lahan garapan.

  • Objektif: kasus yang menyatakan perihal kondisi yang benar-benar apa adanya. Kasus ini bersifat paling netral.

Contoh: batu itu keras; Padi menguning.

  • Lokatif: kasus yang menunjukkan tempat atau perubahan tempat dari sebuah nomen (subjek) tertentu.

Contoh: Pejalan itu istirahat sejenak di bawah pohon rindang itu.

  • Sumber: kasus ini menyatakan asal atau titik permulaan.

Contoh: kain ini terbuat dari sutera.

  • Hasil (result; faktitif): menyatakan hasil atau akibat dari satu perbuatan.

Contoh: Ibu menanak nasi.

  • Waktu: kasus ini menyatakan orientasi waktu.

Contoh: Selama lebih dari sebulan ini, dia terbiasa tidur setelah matahari terbit.

  • Komitatif: kasus yang menyatakan peran kesertaan atau peran serta.

Contoh: Yanto ngopi dengan Hudi di rumah Iwan.

Analisis Topik-Komen

Teknik analisis sintaksis berikutnya adalah analisis topik-komen. Analisa jenis ini membedah sebuah kalimat ke dalam dua bagian, yaitu topik dan komen. Topik merupakan suatu hal yang menjadi fokus utama sebuah kalimat. Sedangkan komen merupakan penjelas atau komentar dari topik yang menjadi fokus utama. Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh berikut.

                Berita itu belum dijamin kebenarannya.

Yang menjadi topik atau fokus utama pada kalimat di atas adalah pada frasa berita itu. Sedangkan belum dijamin kebenarannya merupakan komentar yang menjelaskan perihal frasa berita itu. Dalam kasus Bahasa Indonesia, analisis topik-komen akan lebih sering dijumpai pada konstruksi kalimat yang diakhiri dengan pronomina atau kata ganti –nya seperti pada kalimat di atas. Pronomina pada bagian komen tersebut senantiasa merujuk pada topik yang menjadi fokus utama kalimat. Pada contoh di atas, kata ganti –nya tersebut merujuk pada frasa berita itu. Dalam ragam yang lebih resmi yang bersandarkan pada tata bahasa tradisional dengan pola subyek-predikat yang rigid, kalimat tersebut bisa diubah menjadi:

                Kebenaran berita itu belum terjamin.

                                                             P

Pendekatan Sistemik dalam Analisis Sintaksis

Pendekatan sistemik merupakan teknik analisis sintaksis yang dikembangkan oleh Michael Halliday. Dalam pendekatan sistemik ini, sebuah kalimat dianalisis tidak hanya berdasarkan struktur formal yang melekat pada kalimat itu saja (tekstual), namun juga mesti melibatkan situasi di mana kalimat tersebut terbentuk. Dengan demikian, sebuah kalimat dapat dipahami secara lebih komprehensif. Konsep sistemik yang dikembangkan oleh Halliday ini menginspirasi teori-teori seputar tindak tutur dalam ranah pragmatik. Untuk lebih memahami pendekatan ini, silahkan simak contoh berikut ini.

                Dompet bapak ada di kamar.

Dalam menganalisis kalimat tersebut menggunakan pendekatan sistemik, kita bisa mulai dengan memecah kalimat tersebut ke dalam satuan-satuan yang lebih kecil. Misalnya, kita bisa memulai pada satuan kata per kata di mana dalam kalimat tersebut terdapat 5 kata yang masing-masing terbentuk dari sebuah morfem bebas. Setelah itu kita bisa mengidentifikasi kata-kata tersebut ke dalam kategori-kategori. Berdasarkan contoh di atas dapat kita temukan bahwa kalimat tersebut terdiri dari 3 nomina (dompet, bapak, dan kamar), 1 verba (ada), dan 1 preposisi (di).

Masing-masing kata tersebut sesuai dengan kategori yang melekat padanya tersusun sedemikian pada tingkat sintaksis. Dompet + bapak membentuk sebuah frasa dompet bapak yang menempati fungsi sebagai subyek, kemudian ada sebagai predikat, dan di kamar sebagai keterangan. Berdasarkan susunan tersebut dapat kita ketahui bahwa kalimat tersebut ketika terlepas dari situasi atau konteks akan mengindikasikan sebuah kalimat informatif. Dengan kata lain kalimat tersebut memberitahukan bahwa dompet bapak saat ini berada di kamar.

Namun ketika memasukkan situasi atau konteks, maka unsur informatif dalam kalimat tersebut akan mendapatkan pengertian yang lain. Informasi dalam kalimat tersebut bisa saja menyiratkan unsur perintah ketika kalimat tersebut diucapkan oleh seorang ayah (yang terburu-buru hendak berangkat kerja dan teringat bahwa dompetnya tertinggal di kamar) kepada istrinya (yang mengantar keberangkatan suaminya pergi bekerja sampai daun pintu rumah). Perintah atau permintaan tolong itu diucapkan ayah agar istrinya mengambilkan dompetnya yang tertinggal di kamar.

Analisis Subjek-Objek

Teknik analisis sintaksis terakhir yang dapat disajikan pada tulisan singkat ini adalah analisis subyek-obyek. Analisis ini menekankan hubungan antara subyek dan obyek. Pada konstruksi kalimat dalam Bahasa Indonesia, subyek dan obyek ini dijembatani oleh fungsi predikat yang berada di tengah-tengah. Secara umum, subyek berada di kiri predikat, dan obyek di sebelah kanannya. Fungsi subjek dan objek ini hanya dapat diisi dengan kata atau frasa yang berkategori gramatikal sebagai nomina atau kata benda. Sedangkan fungsi predikat diisi dengan verba atau yang lazim disebut dengan kata kerja. Perhatikan contoh kalimat berikut.

                Petani mencangkul tanah.

Yang menjadi subjek pada kalimat tersebut adalah kata petani, kata mencangkul sebagai predikat, dan kata tanah sebagai objek. Kata petani dan kata tanah dalam kalimat tersebut berkategori sebagai nomina, sedangkan mencangkul merupakan sebuah kata kerja atau verba. Analisis ini terkadang menimbulkan masalah ketika pengertian subyek dibatasi hanya sebagai pelaku yang berperan melakukan sesuatu perbuatan (kasus agentif). Pada contoh di atas, posisi petani sebagai subjek yang berperan dalam melakukan sesuatu (mencangkul tanah) masih sangat jelas dan dapat dipahami secara logis.

Namun jika kita mengubah konstruksi kalimat tersebut ke dalam bentuk pasif tanah dicangkul petani, maka akan terjadi beberapa kejanggalan. Pertama, kata tanah yang menempati fungsi subyek jelas bukanlah sesuatu yang melakukan perbuatan. Kata ini tidak dapat berperan sebagai agen. Sedangkan kata petani yang berfungsi sebagai objek tentu menjadi tidak sah secara logika karena dalam konstruksi kalimat tersebut kata petani bukanlah sebuah nomina yang dikenai sebuah perbuatan. Lantas, apakah sah mengatakan susunan kalimat pasif tersebut dengan O-P-S?

Pertanyaan tersebut biarlah para ahli bahasa yang menjawabnya. Yang jelas analisis yang memusatkan pada subyek-obyek yang ditempati oleh nomina-nomina hanya akan menimbulkan banyak kerancuan. Namun jika kita memusatkan analisis pada predikat yang berisi verba (kata kerja/tindakan/perbuatan) maka fungsi-fungsi tersebut akan terlihat lebih jelas. (gf/8222)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Ambasaja

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca