Shallallahu atau yang di lidah Jawa sering disebut Salalahuk merupakan sebuah syair yang berisi pujian shalawat kepada Nabi Muhammad. Selain berisi tentang shalawat, syair yang biasa didendangkan sehabis shalat tarawih ini juga berisi ajaran inti tauhid dan sekilas perjalanan hidup Nabi yang penting untuk diketahui. Namun sayang, pujian sehabis tarawih yang populer di sekitar Matraman ini terancam kehilangan eksistensinya. Hal ini disebabkan oleh kurangnya perhatian generasi muda saat ini terhadap warisan budaya lokal yang sesungguhnya mengandung banyak sekali khazanah yang perlu dilestarikan. Karena alasan tersebut, penulis hendak menyajikan kembali pada artikel ini teks syair Shallallahu tersebut. Penulis juga akan berusaha menguraikan makna teks syair tersebut sehingga pembaca dapat memahami dan mengambil manfaat darinya.
Bagian Pertama
Syair Shallallahu atau Salalahuk ini dimulai dengan:
Shallallahu ‘alan Nabi Muhammad
Muhammad syafi’il khalqi fi yaumil qiyamah
Ya Rabbana Ya Rabbana waghfir lana dzunubana taqabbal du’aana
Huwarrohman huwarrahim
Sing Rohim Dzat kang sampurno
Sempurnane wong ‘alam kabeh
Bagian ini berisi shalawat untuk Nabi Muhammad yang dianugerahi oleh Allah subhanahu wata’ala hak istimewa untuk memberikan syafaat di hari kiamat. Setelah menghaturkan shalawat, bagian ini dilanjutkan dengan doa supaya Allah subhanahu wata’ala mengampuni segala dosa-dosa dan juga mengabulkan segenap doa. Karena itulah segenap puji hanyalah milik Allah. Ia lah satu-satunya yang layak menyandang gelar Ar-Rahman dan Ar-Rahim, yaitu Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kasih dan sayang-Nya begitu sempurna mencakup segenap makhluk yang ada di alam semesta.
Dalam tafsir surat Al-Fatihah Ar-Rahman dan Ar-Rahim ini dibahas secara lebih terperinci. Disebutkan bahwa Ar-Rahman merupakan sifat pengasih Allah di mana Dia memberi kepada segenap makhluk di alam semesta ini tanpa membeda-bedakan. Tidak hanya manusia, namun juga makhluk-makhluk lain yang bukan manusia. Ia memberi bukan hanya kepada yang beriman, namun juga kepada yang kufur dan ingkar.
Sedangkan Ar-Rahim atau yang Maha Penyayang merupakan sifat Allah yang ia limpahkan hanya kepada orang-orang yang benar-benar beriman. Di dunia, nikmat itu adalah berupa tetapnya iman dan Islam yang mengakar kuat pada sanubari dalam menghadapi segala bentuk ujian dan godaan kehidupan dunia yang fana. Sampai ajal menjemput iman dan Islam tersebut tidak pernah tercerabut sehingga ia dapat menjadi bekal yang utama dalam menempuh kehidupan di akhirat. Di sana, orang-orang yang beriman mendapat anugerah surga, sebuah tempat yang begitu lapang sehingga ia tidak terhalang lagi dari melihat ‘wajah’ Tuhan yang mulia.
Bagian Kedua
Allah wujud qidam baqo’ mukhalafatu lilhawaditsi
wal qiyamu binafsihi wahdaniyyah qudrat iradat
‘ilmu hayyat sama’ bashar kalam qadiran muridan
‘aliman hayyan sami’an bashiran mutakalliman
Bagian kedua ini mendendangkan tentang sifat-sifat wajib Allah yang berjumlah duapuluh. Sifat yang pertama adalah sifat wujud, yaitu Ada. Keberadaan Allah ta’ala tidak menerima ketiadaan sejak zaman azali. Ia adalah Dzat yang selalu ada. Yang kedua adalah Allah bersifat qidam. Maksudnya adalah bahwa sesungguhnya Allah ta’ala tidak mempunyai permulaan. Keberadaan Allah ta’ala tidak didahului oleh ketiadaan. Yang ketiga adalah baqo’ yaitu kekal. Ia adalah Dzat yang tidak tersentuh sama sekali oleh kebinasaan.
Sifat keempat adalah mukhalafatu lilhawaditsi yaitu berbeda dengan makhluk. Segala macam sifat yang dikaitkan dengan makhluk perlu dinafikan untuk menetapkan keagungan Allah ta’ala. Kemudian yang kelima adalah sifat qiyamuhu binafsihi yaitu berdiri sendiri atau independen. Maksudnya adalah Allah ta’ala tidak membutuhkan yang lain selain dirinya sendiri. Selain itu ia juga tidak butuh kepada sesuatu yang menciptakan. Karena sesungguhnya Ia lah yang menciptakan.
Selanjutnya sifat yang keenam adalah wahdaniyyah yang berarti Maha Esa. Ialah yang Maha tunggal pada dzat-Nya, pada sifat-Nya dan pada perbuatan-Nya. Yang ketujuh adalah sifat Qudrat yaitu berkuasa. Kekuasaan-Nya tidak mengenal batas. Ia berkuasa atas apa yang pernah atau telah ada, yang sedang ada dan mengada, dan sekaligus berkuasa atas sesuatu yang akan atau memiliki potensi untuk ada. Intinya, segala sesuatu tidak lepas dari kekuasaan-Nya.
Kemudian, sifat yang kedelapan adalah Iradat atau berkehendak. Kehendak Allah ta’ala bersifat absolut, artinya jika ia berkehendak pasti kehendaknya tersebut tidak bisa ditolak oleh siapapun juga. Selanjutnya, yang kesembilan adalah sifat ‘ilmu, yaitu maha Mengetahui. Dengan sifat ini Allah mengetahui segala sesuatu. Pengetahuan-Nya tidak terbatas pada hal yang bersifat umum, namun juga mencakup kepada detail-detail terperinci.
Sifat yang kesepuluh adalah sifat hayat yaitu hidup. Dzat Allah ta’ala hidup tanpa ruh. Ia tidak tersentuh oleh rasa kantuk dan tidur, tidak terdatangi oleh kebinasaan dan kematian. Ia lah yang selama-lamanya hidup. Kemudian sifat yang kesebelas dan keduabelas adalah sama’, yaitu mendengar dan bashar yaitu melihat. Pendengaran dan penglihatan Allah ta’ala ini bersifat menyeluruh. Ia tidak mungkin dibatasi oleh ruang, jarak dan waktu.
Selanjutnya sifat yang ketigabelas adalah kalam, yaitu berkata-kata. Sifat kalam yang melekat pada Dzat Allah ta’ala ini tanpa huruf dan tanpa suara dan tanpa apapun yang bisa dibayangkan oleh manusia. Kemudian yang keempatbelas sampai dengan keduapuluh secara berturut-turut adalah kaunuhu qadiran, kaunuhu muridan, kaunuhu ‘aliman, kaunuhu hayyan, kaunuhu sami’an, kaunuhu bashiran, dan kaunuhu mutakalliman.
Kaunuhu qadiran berkaitan dengan sifat qudrat atau berkuasanya Allah subhanahu wata’ala. Karena ialah Dzat yang berkuasa maka ia disebut Qadiran, yaitu sang penguasa. Begitu juga dengan kaunuhu muridan hingga mutakalliman. Karena Allah berkehendak, maha mengetahui, maha hidup, maha mendengar, maha melihat dan maha berkata-kata maka disematkanlah padanya sebagai muridan (Dzat yang berkehendak), ‘aliman (Dzat yang Maha Mengetahui), hayyan (Dzat yang Maha Hidup), sami’an bashiran (Dzat yang maha mendengar lagi maha melihat), dan mutakalliman (Dzat yang berkata-kata).
Bagian ketiga
Ingsun ngimanaken malaikat iku
Utusane Allah, kawulane Allah
Kang werna-werna rupane
Kang werna-werna gawene
Werna-werna ngibadahe
Tanpa syahwat tanpa nafsu
Ora bapa ora ibu
Ora lanang ora wadon
Ora mangan ora nginum
Jisime jisim alus, bangsa nur
Bagian ini merupakan pernyataan keimanan pada Malaikat Allah. Mereka memiliki keistimewaan sebagai utusan Allah sekaligus juga hambanya yang senantiasa taat. Malaikat-malaikat tersebut memiliki rupa yang bermacam-macam, tugas-tugasnya juga bermacam-macam dan tata cara ibadah mereka kepada Allah juga bermacam-macam. Mereka adalah makhluk Allah yang tidak memiliki syahwat dan hawa nafsu seperti halnya manusia. Selain itu, mereka terlahir atau tercipta bukan dari pergumulan seorang bapak dan seorang ibu. Mereka tidak berjenis kelamin seperti lumrahnya manusia yang berjenis kelamin lelaki atau perempuan. Tubuh para malaikat ini adalah tubuh yang halus yang tercipta dari sebangsa cahaya. Karena kehalusan inilah mereka tidak butuh makan dan tidak butuh minum.
Disebutkan di atas bahwasanya para malaikat memiliki rupa dan tugas yang bermacam-macam. Jumlah mereka yang tersebar di seluruh penjuru semesta alam hanyalah Allah yang mengetahui. Sebagai seorang Muslim, setidaknya wajib mengetahui sepuluh saja dari keseluruhan jumlah malaikat itu. Mereka adalah: Jibril sang pembawa wahyu, Mikail yang bertugas melimpahkan rejeki dari Allah kepada hamba-hambaNya, Izrail sang pencabut nyawa, Israfil sang peniup sangkakala hari akhir, Raqib dan Atid pencatat amal kebaikan dan keburukan manusia, Munkar dan Nakir yang bertugas menanyai manusia di alam kubur, Ridwan sang penjaga surga, dan Malik sang penjaga neraka.
Bagian Keempat
Asyhadu an-Laa ilaha illallah
Wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah
Anekseni ingsun setuhune ora ana ing pengeran
Kang sinembah kelawan sak benere
Kang wajib wujude, kang muhal ‘adame, kang mesthi anane
Anging Allah
Bagian ini merupakan sebuah persaksian yang mesti dilakukan oleh setiap Muslim. Persaksian itu adalah bahwasanya tiada ilah atau sesembahan yang haq disembah kecuali Allah. Kemudian dilanjutkan dengan persaksian bahwasanya Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Dua syahadat ini atau yang lazim disebut syahadatain, yaitu syahadat tauhid dan syahadat rasul tersebut merupakan dua kunci masuknya seseorang ke dalam agama Islam. Tanpa keduanya, maka segenap ibadah dan kebaikan yang dilakukan oleh seorang hamba tidak akan berarti apa-apa dan hanya akan menuju ke ruang hampa.
Pada bait tersebut syahadat tauhid dijelaskan lebih lanjut. Disebutkan bahwa yang wajib disembah secara benar adalah Dzat yang pasti adanya. Ketiadaannya adalah muhal karena hanya akan mengacaukan pikiran dan bangunan kenyataan di mana adanya hukum-hukum atau keteraturan yang bisa dicermati oleh kesadaran, menghendaki adanya Dzat yang Maha Sadar yang mampu menciptakan dan mendesain keteraturan yang demikian masif tersebut. Ini merupakan esensi dari tauhid uluhiyah yang tidak bisa dilepaskan dari dua jenis tauhid yang lain yaitu tauhid rububiyah dan tauhid asma wa sifat.
Bagian Kelima
Anekseni ingsun setuhune kanjeng Nabi Muhammad iku
Utusane Allah, kawulane Allah
Kang rama sayyid Abdullah, kang ibu Siti Aminah
Ingkang dzohir ana Mekah, hijrah ing Medinah,
Jumeneng ing Medinah, gerah ing Medinah,
Seda ing Medinah, sinarekaken ing Medinah
Bangsane bangsa Arab, bangsa Rasul, bangsa Quraisy
Utawi yuswane kanjeng Nabi Muhammad iku sewidak tahun
Punjul tigang tahun
Bagian kelima ini merupakan penjabaran dari syahadat Rasul, yakni persaksian bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Dialah hamba Allah yang mulia. Ayahnya bernama sayyid Abdullah putra Abdul Muthalib, seorang pemuka suku Quraisy. Nabi Muhammad ditinggal mati ayahnya sejak masih dalam kandungan ibunya Siti Aminah.
Kemudian lahirlah Nabi Muhammad tersebut di kota Mekah, kota di mana masjidil Haram dan Ka’bah berada. Beliau menghabiskan masa kanak-kanak dan remajanya di kota ini. Pada usia 25 tahun, beliau menikah dengan seorang janda saudagar bernama Siti Khadijah yang telah berusia 40 tahun. Di usia yang ke-40, Nabi Muhammad menerima wahyu dan mendapat tugas untuk berdakwah kepada penduduk Mekah.
Dakwah Nabi mendapat tantangan berat dari para penduduk Mekah. Meskipun banyak juga yang mengimani dan mengikuti beliau di kota ini, beliau diperintahkan untuk berhijrah ke Yatsrib atau yang kelak disebut dengan Madinah. Setelah 13 tahun berdakwah di Mekah, Beliau hijrah bersama dengan penduduk Mekah yang beriman yang pada peristiwa hijrah dan seterusnya disebut dengan kaum Muhajirin.
Nabi Muhammad dan kaum Muhajirin diterima dengan sangat baik oleh penduduk Yatsrib atau Madinah. Karena penduduk Yatsrib atau Madinah yang menolong Nabi dan kaum Muhajirin dengan sukarela itulah, maka mereka disebut dengan kaum Anshar atau kaum penolong. Di Madinah inilah Islam berkembang dengan sangat pesat hingga umat Islam mampu membangun komunitas dengan aturan-aturan atau hukum yang bersifat rabbani.
Setelah menyelesaikan tugasnya menyebarkan agama Islam di Madinah dan sekitarnya selama 10 tahun, Nabi akhirnya dipanggil menghadap kehadirat Allah subhanahu wata’ala. Sebelum meninggal nabi sempat mengalami sakit selama beberapa saat. Beliau melewatkan masa hidup di dunia selama 63 tahun dengan meninggalkan dua peninggalan utama untuk kaumnya, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Bagian Keenam
Utawi maknane lafadz La ilaha illallah iku makna nafi lan itsbat
Utawi kang den nafekaken iku sekehe pengeran
Pengeran kang liya saking pengeran kita
Kang agung kang maha mulya
Utawi kang den itsbataken iku pengeran kang sah
Kang setunggal, kang ora dinadekaken,
Ndadekaken ‘alam kabeh yaiku aran Allah
Tegese aran Allah iku aran ing dalem Dzat
Kang wajib wujude, kang muhal ‘adame, kang mesthi anane,
Ora werna ora rupa, ora arah ora nggon
Lan sing sapa wonge ngucapaken setuhune Allah iku
Werna rupa arah nggon mangka wong iku dadi kufur
Bagian keenam ini merupakan penjabaran dari makna Laa Ilaha illallah yang terdiri dari dua macam makna, yaitu makna nafi dan itsbat. Makna nafi atau peniadaan terletak pada lafadz Laa ilaha yang berarti tiada Tuhan atau sesembahan. Kemudian penafian terhadap Tuhan atau sesembahan yang banyak tersebut diikuti dengan itsbat atau penetapan. Penetapan ini terkait adanya peneguhan di dalam hati adanya Tuhan yang Maha Esa, Tuhan yang sah untuk disembah, yang telah menjadikan segala sesuatu yang disebut Allah.
Pada bagian ini, yang dimaksud dengan penetapan adanya Allah tersebut dijabarkan lebih lanjut. Ialah Allah, Dzat yang pasti adanya di mana tanpa adanya dia, maka tidak ada segala sesuatu pun yang mengada. Sebab itulah ketiadaannya adalah muhal atau mustahil. Lebih lanjut dikatakan bahwa keberadaan Allah tidak mewujud dalam bentuk apapun yang menyerupai makhluk. Wujud Allah tidak bisa dibayangkan bagaikan wujud seorang manusia, ataupun wujud binatang tertentu, atau wujud-wujud lain yang menggejala di alam semesta.
Selanjutnya, keberadaan Allah juga tidak terkungkung oleh arah dan ruang, dan tentunya juga oleh waktu. Tidak bisa dikatakan Allah berada di atas atau di bawah, di kanan atau di kiri, di barat atau di timur, di utara atau di selatan atau dengan penunjuk-penunjuk arah yang lain. Pun, juga tidak bisa dikatakan Allah bertempat tinggal atau berada di dalam suatu ruang. Tempat tinggal atau ruang-ruang yang ada di alam semesta tersebut tidak akan cukup untuk menampung ke-MahaAgung-an dan ke-MahaKuasa-annya yang tidak terbatas.
Bagian ini ditutup dengan sebuah peringatan bagi segenap muslim untuk tidak secara ceroboh mengatakan bahkan meyakini bahwa Allah berada di arah atau tempat tertentu. Barang siapa yang mengatakan dan meyakini keberadaan Allah berada di arah dan tempat tertentu, maka para ulama sepakat tentang kekufurannya.
Bagian ketujuh
Utawi kanjeng Nabi Muhammad iku manungsa kang lanang
Kang merdeka, kang wus ‘aqil baligh
Kang bagus rupane, amencorong cahayane
Kadi purnamane mbulan, Utawa kaya srengenge
Kang katurunan wahyu, ingkang wajib anduweni
Sifat sidiq amanah tabligh
Sidiq temen, amanah kang percaya, tabligh anekakaken
Muhal unyo, muhal cidro, muhal ngumpetaken
Ingkang wenang anduweni sifat ‘aradh basyariyah
Kang ora nyudaaken ing dalem derajate ingkang maha luhur
Pada bagian ketujuh ini dijabarkan tentang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dia adalah seorang lelaki merdeka yang sudah menginjak usia dewasa atau akil baligh ketika pertama kali menerima wahyu. Dikatakan bahwa Nabi Muhammad adalah sosok yang rupawan. Cahaya yang memancar darinya tidak hanya terlihat dari keluhuran akhlaknya saja, melainkan juga dari ciri fisik yang dapat dilihat oleh indera mata. Karena pancaran dari kedua sifat lahir batin itulah, ia bagaikan rembulan purnama, atau bagaikan matahari yang menyinari bumi.
Selanjutnya, sebagai seorang Rasul, nabi Muhammad memiliki sifat-sifat wajib. Dalam teks syair tersebut disebutkan 3 sifat yaitu sidiq, amanah dan tabligh. Sidiq berarti benar, yaitu setiap yang disampaikan oleh seorang Rasul adalah kebenaran. Mustahil baginya untuk menyampaikan hal yang tidak benar, apalagi dengan sengaja berdusta. Sifat berikutnya adalah amanah, yaitu dapat dipercaya. Dengan kata lain, mustahil bagi seorang Rasul untuk memiliki sifat khianat atau mencederai kepercayaan yang diberikan kepadanya. Setiap tugas atau kepercayaan yang diemban oleh seorang Rasul selalu dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.
Sifat berikutnya adalah tabligh, yaitu menyampaikan. Maksudnya adalah setiap Rasul pasti menyampaikan seluruh risalah dari Tuhan kepada para umatnya. Dia tidak mungkin menyembunyikan satu ajaran pun. Dengan demikian ketika beliau telah kembali kepada Tuhannya, maka sesungguhnya telah sempurnalah ajaran itu karena segalanya telah disampaikan.
Selain ketiga sifat tersebut, sesungguhnya masih ada satu sifat lain yang wajib diketahui, yaitu sifat fathonah yang berarti cerdas. Seorang Rasul mengemban misi dari Tuhan untuk membawa umatnya menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Tentu misi dakwah ini selalu mendapat tantangan dan hambatan. Dan tanpa memiliki kecerdasan, maka mustahil bagi seorang Rasul untuk memperoleh kegemilangan hasil dakwah. Tentu semua tetap tidak terlepas dari kehendak Allah subhanahu wata’ala.
Kemudian selain 4 sifat wajib tersebut, para Rasul juga memiliki sifat yang disebut dengan ‘aradh basyariyah, atau sifat-sifat manusia pada umumnya. Seorang Nabi dan Rasul bisa lapar dan dahaga sehingga ia butuh makan dan minum. Ia juga bisa merasakan sakit, merasakan hawa dingin yang menggigit atau panas yang menyengat dan hal-hal lain yang lumrah dialami oleh manusia lainnya. Namun segala hal yang lumrah tersebut tidak akan merendahkan kedudukan mulia seorang Nabi dan Rasul. Dalam segala kondisi pikiran dan benaknya tetap senantiasa ingat kepada sang Pencipta. Tidak seperti hamba yang biasa-biasa saja, yang kadang ingat dan yang lebih sering adalah lupa.
Penutup
Allahumma shalli ‘ala Muhammad
Allahumma shalli ‘ala Muhammad
Wa’ala alihi, wa’ala alihi wa shahbihi wasallim
Allahummaj’al hadza baladan aminan
Allahummaj’al hadza baladan aminan
Warzuq ahlahu, warzuq ahlahu
Wasi’an thayyibatan hasanah
Demikianlah isi dari syair Shallallahu atau Salalahuk tersebut. Dengan mencermati isinya, seorang Muslim akan dapat beroleh ilmu yang bermanfaat, terutama ilmu seputar Tauhid menyangkut sifat-sifat Wajib Allah dan Rasulnya. Ia juga dapat mengenali asal-usul Nabi Muhammad secara ringkas sehingga dengan adanya pengetahuan itu semoga akan bertambah pula cintanya kepada sang Rasul. Di bagian paling terakhir syair tersebut ditutup dengan untaian doa, yang artinya:
Ya Allah limpahkanlah shalawat salam kepada Nabi Muhammad
Amiin
Ya Allah limpahkanlah shalawat salam kepada Nabi Muhammad
Dan kepada seluruh keluarga dan para sahabatnya
Ya Allah jadikanlah negeri ini negeri yang aman
Ya Allah jadikanlah negeri ini negeri yang aman
Dan limpahkanlah rezeki kepada para penghuninya,
limpahkanlah rezeki kepada para penghuninya,
rezeki yang melimpah ruah lagi penuh berkah dan kebaikan
Wallahu a’lam