Ramadhan tahun ini, Alhamdulillah shalat tarawih saya tidak benar-benar kosong mlompong seperti tahun-tahun sebelumnya. Seingat saya, setidaknya hingga hari ke-11 ini, telah 4 kali saya ikut shalat tarawih berjamaah: 3 di mushalla Rejeki Baru, Bendorejo dan sekali -hari ini- di mushalla Al-Mujahadah, mushalla yang saat ini dijadikan sebagai masjid jami’nya dusun Tanggung, karena masjid Darul Muttaqin sedang dibangun ulang. Sisanya hanya shalat sunnah dua rakaat menjelang terbit fajar atau tidak sama sekali.
Sejak SMA, saya memang hampir tidak pernah mengikuti shalat Tarawih berjamaah. Celakanya, saya malah tidak menunaikannya sama sekali. Shalat Tarawih seorang diri pun tidak. Jika diharuskan memberi alasan, saya akan mengatakan shalat Tarawih berjamaah di sekitar sini sangat cepat, dan saya merasa tidak mampu menyelesaikan bacaan atau mengikuti gerakan demi gerakan dengan tergesa-gesa.
Namun, akhir-akhir ini saya mengambil pandangan yang agak berbeda terkait shalat jamaah. Intinya yang terpenting adalah mengikuti Imam. Jadi, meskipun tidak menyempurnakan bacaan, shalat Tarawih yang cepat tadi lumayan bisa saya ikuti. Terlebih bacaan saat ruku’, i’tidal, sujud dan bacaan duduk di antara dua sujud dan bacaan tahiyat bisa diperpendek sehingga tidak perlu tergesa membaca versi yang utuh di mana justru makna kata yang dibaca sangat mungkin terlepas.
Dalam kondisi seperti ini, akan lebih baik memperpendek bacaan tadi, namun tetap diucapkan dengan perlahan dan penuh penghayatan sehingga kita tetap bisa menghadirkan kehadirat Allah subhanahu wata’ala. Shalat kita bukanlah shalatnya orang munafik yang dalam shalatnya lupa dan hanya bertujuan untuk mengikuti arus kebudayaan demi pandangan atau penilaian manusia.
Meskipun begitu, saya tetap berkeyakinan bahwa shalat yang utama adalah yang thuma’ninah, yang setiap bacaan di dalamnya dilantunkan dengan tartil atau pelan dan jelas. Setiap naik dan turunnya gerakan pun juga dilakukan dengan perlahan-lahan seolah-olah memberikan kesempatan pada napas, darah, dan gelombang-gelombang syaraf bersirkulasi sebagaimana mestinya sesuai ketetapan terbaik dari yang telah merancangnya.
Namun, jika tidak ada yang demikian, dan yang ada di sekitar saya adalah shalat Tarawih berjamaah yang cepat, saya akan mengalah dan berusaha untuk menghadiri jamaah tersebut. Saya belum terbiasa shalat Tarawih seorang diri di rumah. Setiap kali di rumah sehabis shalat Isya’, saya cenderung memilih rebahan dan menonton YouTube atau sibuk menjelajah dunia maya.
Tentu jamaah Tarawih yang cepat tetap lebih baik dari aktifitas-aktifitas yang saya sebutkan terakhir. Shalat jamaah adalah tentang persatuan, dan ia bukanlah sembarang persatuan. Persatuan dalam shalat jamaah adalah tentang ketundukan dan pengakuan bersama tentang kebesaran Allah subhanahu wata’ala yang telah mencipta dan memelihara segala sesuatunya. Persatuan ini lebih berharga dari persatuan seluruh umat manusia untuk menaklukkan dan menguasai dunia, lebih berharga dari persatuan suatu bangsa untuk mencapai kemerdekaannya lepas dari penjajahan bangsa lainnya.