Kategori
Esai/Artikel Filsafat & Sosial-Budaya

Asal Muasal Cinta dan Asmara

Ada sebagian orang yang ketika ditanya kenapa dia suka atau cinta kekasihnya, dia akan menjawab: “Aku tidak tahu, cinta ini muncul begitu saja, tanpa aku menyadarinya.” Bahkan ada juga yang mengatakan: “Cinta ya cinta. Dia tidak memerlukan sebab apapun untuk mengada.” Lebih jauh lagi sebuah perkataan yang menyatakan bahwa cinta yang masih disertai tanya-tanya kenapa dia bisa muncul adanya adalah cinta yang dangkal, cinta yang masih bisa terjebak pada hitung-hitungan, cinta yang akan dengan mudah hilang jika penyebab munculnya rasa itu menghilang.

Sekilas, mungkin pernyataan-pernyataan tersebut ada benarnya, terutama dilihat dari segi emosi yang mudah terbawa perasaan. Namun, dilihat dari segi lain, pernyataan-pernyataan yang demikian seolah-olah hendak menihilkan keutamaan berpikir. Padahal perkembangan dan kemajuan peradaban manusia selalu diinisiasi oleh aktivitas berpikir. Setiap keputusan dipikirkan dengan matang, menimbang segala kemungkinan. Tidak sekedar beraksi sambil terbawa perasaan yang penuh kenekatan yang akibatnya seringkali fatal.

Karena itu, tidaklah mengapa ‘memikirkan cinta’. Memikirkan dalam arti memunculkan pertanyaan-pertanyaan seperti: Apakah itu cinta? Apakah cinta itu selalu berkaitan dengan asmara? Dari manakah munculnya cinta? Mungkinkah cinta –dalam arti cinta seorang manusia–bisa muncul dari ketiadaan yang hampa? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang mesti dicari jawabannya, baik itu berupa data empiris, atau jika tidak cukup berupa proses penalaran yang mengajak manusia untuk berpikir logis.

Cinta: Dari Rahim Makhluk Bernama Manusia

Kata ‘cinta’ yang seringkali beredar di dalam kehidupan itu tidak muncul begitu saja dari suatu ruang hampa. Ia muncul dari ruang kehidupan manusia dengan segala keindahan dinamika dan keruwetannya. Cinta yang mampu mengaduk-aduk perasaan manusia, menebarkan semacam rindu yang tidak bisa diungkapkan dengan mudah melalui medium bahasa itu mestilah diawali dengan adanya manusia dan kehidupannya.

Seseorang terlahir ke dunia dalam keadaan tidak mengenal dan mengetahui apa-apa. Namun dengan naluri yang dianugerahkan ke dalam dirinya, dia bisa mengenali kasih sayang dan kenyamanan yang diberikan oleh orang-orang di sekitar dirinya. Kemudian semakin beranjak dewasa, ketika pikirannya telah mengenal, memahami dan bersanding dengan bahasa, segala bentuk kenyamanan dan kasih sayang itu dijelmakan dalam sebuah konsep bernama ‘Cinta’.

Dengan demikian, tanpa adanya kehidupan maka tidak akan ada cinta. Begitu juga dengan manusia, untuk bisa merasakan dan memahami cinta, seseorang haruslah ada terlebih dahulu. Dia harus hidup, menyerap segala problematika kehidupan yang disuguhkan kepadanya, menarik suatu batas antara dirinya sendiri dengan sesuatu yang lain, sebelum meleburkannya kembali dalam satu proses penerimaan penuh terhadap satu prinsip cinta yang mesti ia pegang dengan teguh.

Prinsip inilah yang mampu membuat cinta mengabadi. Meskipun manusianya mati, cinta itu membawanya untuk menuju Yang Abadi. Dia telah kembali dan juga mengakui bahwa segala sesuatu mestilah ada yang menginisiasi. Tidak ada yang muncul dari kehampaan, tidak ada yang muncul dari kekosongan. Begitu pun dengan perasaan. Terlalu bodoh untuk mengatakan ia muncul begitu saja, seolah-olah dia tidak berhubungan dengan suatu dunia yang telah ada.

Cinta: Hubungan Asmara Dua Anak Manusia

Cinta, dalam pengertian hubungan asmara dua anak manusia, juga tidak bisa dikatakan muncul begitu saja. Terdapat sebab-akibat yang selalu bersinambungan. Merujuk pada alur penalaran sebelumnya, bahwa cinta muncul karena adanya suatu keberadaan, maka asmara pun juga mensyaratkan hal yang sama. Keberadaan di sini adalah adanya dua anak manusia yang benar-benar nyata. Kenyataan ini bisa diilustrasikan sebagai berikut.

Awalnya, salah seorang di antara dua insan tersebut mengetahui keberadaan seseorang yang lain. Mengetahui di sini bisa melalui perantara penglihatan, pendengaran atau media-media lain yang ada dalam kehidupan manusia. Pengetahuan ini kemudian pada tingkat tertentu memunculkan ketertarikan. Bisa jadi ia tertarik setelah melihat kecantikan atau ketampanan yang menawan. Atau juga setelah mendengar kebaikan-kebaikan atau keunggulan-keunggulan yang sanggup membuat hati tertawan.

Ketertarikan seperti ini belum bisa dikatakan sebagai cinta. Ia hanyalah asmara tingkat terendah. Untuk bisa mencapai tingkatan cinta diperlukan adanya pembiasaan. Bisa jadi salah seorang yang tertarik pertama kali itu membiasakan diri dengan memandang atau menatap lekat keanggunan atau kegagahan salah seorang yang lain. Pada titik tertentu, ia membuat sebuah keputusan bahwa di dunia ini tidak ada yang benar-benar menarik selain orang yang biasa ia pandang.

Pembiasaan Cinta: Witing Tresno Jalaran Saka Kulina

Pembiasaan ini pun kemudian berhadapan dengan dua cabang. Pertama, cabang yang menjadikan sebuah rasa terpendam untuk mengukur seberapa besar ketulusan yang mesti ditangguhkan. Dan yang kedua, cabang yang menuju pada sebuah proses pendekatan. Kedua cabang ini sama-sama membutuhkan pengorbanan, meskipun dengan mode pengorbanan yang berbeda. Ketika pengorbanan yang dilakukan, apapun hasilnya itu berujung pada penerimaan, maka hampir dipastikan yang bersangkutan telah berada pada level cinta.

Cabang Pertama: Satu Rasa yang Terpendam

Penerimaan pada konteks cabang yang pertama yaitu berupa diri yang sanggup pasrah menerima konsekuensi dari terpendamnya cinta. Perasaan yang tidak terungkap atau diungkapkan tersebut seringkali mengalami sakit hati atau kecewa sebab dalam batinnya seringkali muncul harapan untuk memiliki. Orang yang memendam perasaan cintanya, tidak bersedia mengungkapkannya karena berbagai macam alasan, kemudian merasa sakit hati dan kecewa karena yang menjadi tujuannya seolah-olah mengacuhkannya, maka kesungguhan cintanya patut dipertanyakan. Sebaliknya, seseorang yang memendam cintanya, namun sanggup menerima keteracuhan dan tidak terkungkung pada kehendak untuk memiliki, maka bisa dipastikan cintanya valid. Ia merasakan bahagia karena ditakdirkan untuk memiliki sebuah rasa di dalam hatinya yang ia sebut dengan cinta.

Cabang Kedua: Proses Pendekatan Dua Insan

Pada konteks cabang yang kedua, cinta ini diarahkan menuju proses pendekatan dua insan. Pendekatan ini juga membutuhkan pengorbanan. Di awal, pengorbanan ini lebih banyak dilakukan oleh orang yang pertama kali mendekati. Ia berusaha sekuat tenaga melakukan berbagai cara supaya orang yang menjadi tujuannya tertarik. Kebiasaan yang mungkin tidak disukai mesti diubah sedemikian rupa. Banyak ego yang mesti dikorbankan dan disingkirkan. Bahkan terkadang, hanya demi menggaet seseorang, prinsip yang telah lama dipegang pun bisa saja dibuang begitu saja.

Setelah orang yang menjadi tujuan tersebut telah membalas ketertarikan yang dialamatkan kepadanya, pembiasaan dan pengorbanan ini tidak berhenti begitu saja. Pengorbanan yang pada awalnya cenderung satu arah akan berubah menjadi dua arah dengan tingkat hubungan timbal balik yang semakin besar. Ketika masing-masing telah merasa legawa untuk berkorban demi pasangannya dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengorbankan seseorang yang telah dianggap sebagai sosok yang berharga tersebut, maka cintanya, atau lebih tepatnya cinta mereka berdua itu telah lulus ujian. Mereka tinggal hanya perlu melakukan pembiasaan hati terhadap setiap kejadian yang berada pada batas ruang dan waktu yang melingkupi kehidupan mereka.

Sebaliknya, ketika salah satu di antara dua insan itu merasa lebih banyak berkorban, kemudian timbul rasa merasa dikorbankan, maka perasaan tertindas yang ada dalam dirinya akan berusaha untuk mencari jalan keluar. Cinta yang dia rasakan sebelumnya seolah menjadi cinta yang sia-sia. Hubungan yang dijalin pun hanya berputar-putar pada urusan kalah dan menang atau saling menaklukkan. Pembiasaan yang dilakukan sebelumnya gagal mencapai suatu titik penerimaan tentang hakikat cinta dan kehidupan.

Penutup

Seperti itulah pembahasan tentang cinta. Kemunculannya selalu diawali dengan sebab-sebab, yang terkadang jelas dan terkadang juga tidak jelas. Begitu pula dengan yang namanya asmara yang merupakan semacam turunan dari konsep cinta. Ia muncul dalam diri seseorang pasti karena adanya sebab. Bisa jadi sebab itu diawali dengan adanya pandangan, atau dengan sebab-sebab dan perantara-perantara lain yang menjadikan seseorang dengan seorang yang lain saling mengetahui. Setelah saling mengetahui, untuk memupuk rasa di dalam diri, cinta itu membutuhkan pembiasaan. Pepatah Jawa bilang witing tresno jalaran saka kulina. Cinta itu muncul karena telah terbiasa. Maka ketika sepasang kekasih telah saling terbiasa dengan kehadiran satu sama lain, ketidakhadiran akan melahirkan sebuah kekosongan dalam diri yang biasa disebut rindu.

Satu tanggapan untuk “Asal Muasal Cinta dan Asmara”

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Ambasaja

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca