Kategori
Bahasa dan Sastra Esai/Artikel

Refleksi Kematian dalam Puisi WS Rendra “Bunga Gugur”

Segala yang bernyawa pasti akan menjumpai ajal atau kematian. Setelah mengarungi suka-duka dan haru-biru kehidupan, tubuh yang semula gagah, kuat dan perkasa ini akan merenta. Pikiran pun juga ikut menua. Ia tidak lagi memiliki ketajaman dalam menganalisa suatu permasalahan, atau telah kehilangan sebagian memori tentang kenangan masa silam yang sebenarnya tidak ingin dilupakan. Segala yang telah diperjuangkan berguguran. Yang manis dan yang indah jatuh dihantam kenyataan. Begitu pula yang menyesakkan, yang menjadikan hati gundah gulana akan terbang melayang dihembus angin kehidupan. Kebahagiaan dan kesuksesan akan menjadi percuma apabila tidak mengantarkan diri menuju kesadaran yang paripurna; kesadaran yang mendekat kepada Yang Sempurna.

Filosofi Kematian dalam Puisi Bunga Gugur

Kesadaran seperti inilah yang coba digaungkan oleh WS Rendra dalam puisinya yang berjudul Bunga Gugur. Kehidupan baginya ibarat bunga; sesuatu yang indah dipandang, dan terkadang menebarkan keharuman yang memberikan ketenangan.  Meskipun tidak dapat dipungkiri, terkadang bunga tersebut menjejalkan luka dengan duri-durinya yang begitu menusuk. Bunga gugur; segala keindahan yang pernah dirasakan, luka-duka yang pernah diderita, segalanya berguguran ketika telah berhadapan dengan kematian. Kata Rendra: di atas nyawa yang gugur, gugurlah semua yang bersamanya, Kekasihku.

WS. Rendra melanjutkan: Bunga gugur/di atas tempatmu terkubur/gugurlah segala hal ikhwal antara kita. Hal ihwal ini adalah kenangan yang pernah dirajut bersama. Kenangan akan suka ketika menghabiskan waktu bersama dan larut dalam romantika yang memabukkan jiwa. Maupun kenangan terhadap luka, lara, dan derita yang menjadikan dada ini sesak sehingga merasa tidak ada lagi yang layak diperjuangkan di dalam kehidupan dunia ini. Segala hal tersebut berguguran. Hilang, melayang, dan tidak berguna segala kesedihan. Karena itulah dalam puisi ini Rendra menekankan: Baiklah kita ikhlaskan saja.

Hakikat Surga: Tiada Asmara di Keabadian

Mengikhlaskan ini berarti merelakan atau melepaskan kepergian orang yang telah berpulang mendahului. Orang yang ditinggal mesti tetap melanjutkan kehidupannya di dunia dan mengisinya dengan hal-hal yang bermakna. Tiada janji ‘kan jumpa di sorga, kata WS Rendra, karena di sorga tiada kita ‘kan perlu asmara. Di surga, tempat akhir di mana segalanya digambarkan begitu sempurna, manusia yang telah berada di sana tidak membutuhkan asmara.

Surga bukanlah tentang hidup bersama 70 bidadari yang jelita, yang keanggunannya tidak dapat dideskripsikan dengan kata-kata bahasa manusia. Ini adalah tentang kesempurnaan itu sendiri, di mana masing-masing diri selalu mendambakannya, dan selalu mengusahakannya ketika masih hidup di dunia yang fana. Surga ini adalah tentang kesempatan untuk melihat Yang Sempurna itu sendiri, melampaui batas-batas ruang dan waktu, melampaui batas-batas yang bisa kita pahami tentang objektivitas.

Di dalam yang sempurna itu, pikiran kita tidak perlu lagi melakukan proses objektivasi. Segalanya bisa kita ketahui. Segalanya bisa kita alami dan kita rasakan tanpa takut mengalami kehancuran diri. Seluruh pengetahuan dan seluruh pengalaman saling berpadu dan menyatu bahkan dalam diri yang satu. Tidak ada lagi batas-batas pemisah.

Kefanaan Cinta di Muka Bumi  

Sekali lagi asmara tidak pernah sempurna. Ia mendambakan keabadian dalam bentuknya. Namun karena terantuk dengan sifat dunia yang fana, ia tidak akan lepas dari segenap kerusakan yang menyifatinya. WS Rendra menuliskan Asmara cuma lahir di bumi/(di mana segala berujung di tanah mati). Seperti itulah asmara. Cinta yang begitu sementara. Kasih sayang dua sejoli yang diikat dengan salam perpisahan di penghujungnya.

Terkadang penghujung dari asmara itu adalah ketidakmampuan diri dalam menjaga api untuk terus menyala. Apa yang ada di hadapan mata kita adalah pengulangan yang sama, masih juga sosok yang sama, dan diri ini telah mengalihkan perhatian pencarian makna kepada hal-hal lain yang lebih berbeda. Dan yang paling pasti, penghujung itu adalah kondisi akhir yang setiap manusia pasti akan menuju kepadanya. Setiap manusia akan berujung di tanah mati. Jasadnya akan disemayamkan, dikuburkan di dalam tanah yang gelap. Jiwanya tidak lagi memiliki kehendak seperti ketika ia masih hidup di dunia. Rendra menegaskan kembali bahwa kematian itu ia mengikuti hidup manusia, dan kalau hidup sendiri telah gugur, gugur pula ia bersama-sama.

Kenangan: Antara Penipuan dan Pertahanan Diri

Ada tertinggal sedikit kenangan, kata Rendra kemudian. Tapi semata tiada lebih dari penipuan, atau semacam pencegah bunuh diri. Kenangan di sini dikatakan tidak lebih dari suatu penipuan, yakni diri sendiri yang pikirannya selalu terjebak pada masa lalu. Masa lalu itu sangat gemilang, sehingga ketika pada masa kini, kegemilangan itu hilang, dia terus menerus mengenang dan mengenang. Pikirannya tidak lagi mampu mengenali bahwa ada masa kini dengan segenap permasalahannya yang mesti dihadapi. Kenangan terhadap kegemilangan masa lalu itu menipu. Ia seolah-olah menjadi belenggu pada diri untuk melangkah dan bergerak maju.

Di sisi lain, kenangan itu bisa menjadi semacam pencegah bunuh diri. Hidup yang telah begitu membosankan di mana yang ada hanya pengulangan-pengulangan yang dijalani dengan penuh keterpaksaan. Tekanan dan beban hidup yang memusingkan kepala. Setiap aktivitas yang dilakukan tidak lagi memiliki makna, hanya sekedar pencitraan diri biar orang lain menganggap diri ini masih ada. Segala hal yang absurd tersebut mengantarkan diri untuk mau tidak mau memikirkan tentang bunuh diri, tentang hidup yang diakhiri dengan penuh kesengajaan, dengan penuh kesadaran diri. Tetapi pembunuhan diri itu ternyata hanya eksis di dalam pikiran. Ia sibuk memikirkan ‘tentang’, tetapi berhenti ketika dihadapkan pada keindahan-keindahan kenangan yang pernah dirajut di masa lalu. Ada wasiat di masa lalu yang mesti ditunaikan di masa kini. Ada pula nilai-nilai masa lalu yang ternyata bisa menjadi bahan bakar dalam menggugat kezaliman-kezaliman zaman yang senantiasa mencoba menggerogoti diri.  

Makna Kesedihan Sebagai Topeng Sosial

Selain kenangan, orang yang ditinggal pergi juga akan merasakan kesedihan. Sedih, karena harapan untuk senantiasa bersama tidak bisa lagi mewujud di dalam kenyataan. Sedih, karena ketika ditinggal pergi, diri ini menjadi sadar bahwa segenap yang dimiliki tidaklah sungguh-sungguh memiliki arti. Tentang kesedihan ini WS Rendra menuturkan mungkin ada pula kesedihan, itu baginya semacam harga atau kehormatan, yang sebentar akan pula berantakan. Kesedihan yang ditampakkan di muka umum itu ternyata hanyalah suatu topeng kamuflase untuk menjaga harga dan kehormatan diri di tengah masyarakat.

Dalam masyarakat kesedihan adalah suatu hal yang normal untuk ditampakkan ketika ditinggal mati oleh seseorang yang dikasihi. Akan terasa aneh jika orang yang ditinggal pergi tersebut tidak menampakkan kesedihan. Harga diri dan kehormatannya akan berkurang di mata masyarakat dan dia akan dicap sebagai anomali. Lebih dari itu, masyarakat mungkin akan menyangka dirinya setengah gila. Karena alih-alih bersedih, dia justru menampakkan wajah yang berseri-seri. Padahal apa yang dia tampakkan dari wajah yang berseri-seri tersebut merupakan suatu ekspresi kesadaran, bahwa yang telah pergi dia tidak akan pernah lagi kembali, bahwa yang masih di sini suatu saat akan menyusul menuju alam pasti.

Refleksi Akhir: Mengambil yang Berguna

Dan memang seperti itulah Bunga Gugur. Kematian itu sifatnya pasti, dan di dalam kehidupan ini manusia mesti mencari arti. Mencari arti ini adalah seperti kata WS Rendra pada bait penutup puisi Bunga Gugur tersebut. Kekasihku/gugur, ya, gugur/semua gugur/ hidup, asmara, embun di bunga/ yang kita ambil cuma yang berguna. Lantas, apakah maksud dari yang berguna tersebut? Apakah yang berguna tersebut adalah kenikmatan duniawi semata yang mesti kita raih sebanyak-banyaknya meski harus mengorbankan rasa kemanusiaan di dalam diri kita? Ataukah yang berguna itu adalah sesuatu yang mengantarkan diri ini menyadari tentang degup kehidupan dunia yang fana, tentang kesempurnaan yang hanya bisa disematkan kepada Yang Mencipta sekaligus Memelihara, Yang selalu ada di mana segala ruang dan waktu, segala daya dan kuasa adalah miliknya semata. Yang diri senantiasa merindukannya untuk berjumpa di surga. Mungkin itulah yang berguna sesungguhnya.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Ambasaja

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca