Kategori
Esai/Artikel Filsafat & Sosial-Budaya

Macam-Macam Orang di Bulan Puasa

Sekali lagi bulan puasa Ramadhan hadir di hadapan mata. Sejak malam pertama, ketika orang-orang yang beriman terpanggil untuk menunaikan shalat tarawih berjamaah di masjid, suasana sekali lagi kembali bernostalgia. Ada kembang api yang meluncur ke angkasa, di mana lesatannya memercik pada waktu-waktu yang saling berpacu, sebelum kemudian mendendangkan ledakan; ledakan yang mungkin memekakkan telinga, atau mungkin juga membangunkan kesadaran akan sebuah makna.

Anak-anak kecil hingga remaja tergugah kembali untuk membeli petasan, untuk menyalakannya di siang-siang bolong, atau ketika malam telah berselimut pekat yang tertodong. Beraneka agenda aktifitas pun disusun ulang, mulai dari jadwal yang sederhana seperti jadwal makan dan minum, hingga jadwal kencan dan bercumbu yang tidak bisa bebas dilakukan sembarang waktu.

Bermacam-macam manusia dengan berbagai aneka karakternya pun juga menyesuaikan dengan kehadiran bulan puasa Ramadhan ini. Orang-orang yang telah terbiasa taat dengan perintah agama pun berusaha menaikkan kadar kualitas ketaatannya. Mereka tidak akan cukup hanya mengandalkan ibadah-ibadah yang wajib. Selain shalat lima waktu, mereka pun juga akan menambah dengan shalat-shalat sunnah. Tidak hanya shalat tarawih di setiap malamnya, namun juga shalat-shalat sunnah yang lain: sebanyak mungkin, sekhusyuk mungkin.

Mereka pun juga bersedekah lebih banyak daripada biasanya. Setiap sore banyak dari orang-orang yang taat ini akan mengirim takjil ke mushalla atau masjid terdekat untuk dinikmati bersama saat berbuka. Tidak jarang pula bagi yang memiliki kelebihan harta yang berlimpah, mereka membagi-bagikan pakaian, seperti baju koko dan sarung baru untuk dipakai di hari raya. Tidak lupa, mereka pun juga dengan penuh khidmat melakukan tadarusan sehabis shalat tarawih hingga larut malam.

Bagi orang-orang yang beriman itu, segala ketaatan tersebut sebenarnya tidak benar-benar cukup untuk menjadi bekal untuk mengarungi kehidupan setelah hari yang terakhir. Perasaan khauf atau cemas selalu hinggap di dalam relung perasaan orang-orang yang taat tersebut. Mereka khawatir ibadah-ibadah dan kebaikan-kebaikan yang telah mereka lakukan dan tunjukkan itu disusupi oleh perasaan riya’ dan takabur yang paling tersembunyi, di mana kesadaran yang mereka bangkitkan dalam tiap-tiap muhasabah pun tidak mampu mengenali ciri khasnya.

Selain itu, mereka juga khawatir, jika setiap peribadatan yang mereka lakukan pun hanya sebentuk formalitas, gerak-gerik permukaan yang berjalan seiring dengan tradisi, tanpa hati benar-benar madep manteb sebagai seorang kawulaning Gusti ingkang murbeng dumadi.

Namun perasaan khauf di dalam diri orang-orang yang taat tersebut selalu bercampur baur dengan perasaan harap yang membuncah. Mereka telah cukup mengenali kerentanan di dalam diri mereka sendiri, dan tidak membiarkan kerentanan tersebut menggodanya untuk menjauhi kebaikan-kebaikan yang tersaji sepanjang gelaran puasa Ramadhan selama sebulan penuh ini.

Jargon Gusti mboten sare menetap di dalam inti kesadaran tertinggi mereka. Mereka yakin Gusti akan mengampuni setiap kerentanan-kerentanan mereka. Secara kasat mata, mereka telah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menjalankan segala perintah dan menjauhi segala macam larangannya. Selama hidup, mereka tidak akan pernah berhenti untuk mencapai makam takwa tersebut.

Selain orang-orang yang benar-benar taat tersebut, sebenarnya masih ada orang taat jenis yang lain. Menghadapi bulan puasa Ramadhan ini, orang-orang dengan kadar ketaatan yang lebih rendah ini juga bersemangat melakukan puasa. Mereka tidak berkeberatan bangun di pagi-pagi buta untuk makan sahur, sebelum kemudian harus menahan lapar tanpa makan dan minum semenjak terbit fajar hingga tenggelamnya matahari.

Hanya saja, mereka seringkali membatasi peribadatan mereka hanya pada hal-hal yang wajib belaka. Untuk perkara-perkara yang sunah atau ibadah-ibadah yang dianjurkan, mereka seringkali menahan diri, entah karena alasan yang terkesan agak akademis seperti menempatkan yang sunnah sebagai yang sunnah, atau karena rasa malas yang sering menghinggapi hingga lupa diri.

Biasanya orang-orang taat yang kadarnya seperti ini jarang tergerak untuk melakukan shalat tarawih berjamaah di masjid. Mereka lebih memilih ngeluyur atau menghabiskan waktunya untuk bermain gadget sembari rebahan di sofa yang empuk. Jikalau tiba-tiba mereka tergerak untuk mengikuti shalat tarawih, mereka lebih memilih melakukannya sendiri di rumah sembari menikmati keheningan sepertiga malam terakhir yang perlahan tapi pasti mulai menyelusup ke dalam perenungan.

Tadarus pun juga mereka lakukan seorang diri. Meskipun kehilangan makna kebersamaan yang melekat pada kata tersebut, namun bagi mereka tidak menjadi soal. Mereka bisa membaca huruf demi huruf, ayat demi ayat Al-Qur’an secara perlahan-lahan sehingga setiap rangkaian dapat terdengar dengan jelas.

Kejelasan rangkaian yang terdengar itupun akan memudahkan diri untuk menggapai-gapai makna dari kitab suci, meskipun hanya bagian yang paling dangkal. Orang-orang jenis ini tidak pernah ingin menjadi terlalu taat, yang saking kelewat taat membaca kitab suci pun dilakukan dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

Tidak masuk akal: Akal tidak mampu mencerna makna dari setiap huruf yang dibaca, kata-kata yang berhamburan pun terdengar bagai suara lebah yang mendengung, dan kedangkalan bahkan hampir tidak ada. Segalanya berputar-putar dalam kehampaan udara yang hambar.

Tentu saja, selain orang-orang taat yang telah disebutkan di atas, juga ada orang-orang lain yang bisa disebut tidak taat, atau setidaknya separo taat. Orang-orang ini biasanya menampakkan ketaatan ketika berada di hadapan umum. Ketika ada seorang taat yang mengajaknya sembahyang, dia pun juga akan ikut sembahyang. Tatkala mendengar nasihat untuk melaksanakan perintah dan menjauhi larangan agama, ia pun akan manggut-manggut mengiyakan.

Namun, ketika berada di luar jarak pandang atau di luar jangkauan pantauan, dia akan berbalik arah berubah hampir seratus delapan puluh derajat. Ketika berada pada suasana pesta dan foya-foya, ia pun tidak segan dan canggung untuk berhura-hura, berjingkrak-jingkrak meluapkan ekspresi kebebasannya yang sempat terkekang.

Di bulan puasa Ramadhan, biasanya orang-orang ini akan melafalkan niat puasa dengan khidmat, ikut melahap makanan sahur dengan nikmat. Tidak lupa pula mereka ikut nimbrung di masjid untuk menyantap takjil saat berbuka, berlanjut dengan jamaah shalat tarawih serta tadarusan hingga larut malam.

Namun di lain kesempatan, terutama ketika terik siang begitu membara dan menggelisahkan tenggorokan atau kerongkongan yang telah mengering, mereka akan mencoba untuk undur diri dari peredaran. Mereka akan berusaha menyelinap tanpa sepengetahuan yang lain, mencoba menuntun kendaraannya keluar rumah dengan diam-diam dan menyalakan mesinnya ketika telah yakin orang-orang di rumah tidak menyadari kepergiannya. Dia kemudian akan berputar-putar, menghabiskan bahan bakar kendaraannya sebelum mampir di sebuah warung yang pintu dan jendela depannya tertutup terpal. Tentu saja, di warung tersebut, dia makan siang.

Sesungguhnya, orang-orang yang pura-pura puasa atau yang dengan sengaja di tengah jalan membatalkan puasanya tersebut hanyalah orang-orang yang merasa tergoda. Dia sudah tidak tahan lagi melihat beberapa kawannya yang tanpa merasa berdosa makan dan minum, baik di hadapannya secara langsung, atau yang dipamerkan lewat media-media sosial, atau juga yang terdengar lewat percakapan-percakapan.

Kawan mereka itu pada awalnya juga sama seperti mereka yang hanya tergoda. Namun lambat laun, karena godaan itu tidak coba untuk diatasi, maka akhirnya ia menjadi kebiasaan. Hal-hal yang awalnya tabu atau dianggap menyimpang dan melanggar aturan akhirnya mendapatkan sebuah tempat yang nyaman di dalam diri seseorang.

Kenyamanan tersebut sangat kurang memuaskan jika tidak dipamerkan, terutama kepada orang-orang yang tengah mencoba berpantang dari godaan tersebut. Dari yang tergoda, menjadi yang menggoda, lalu tergoda lagi pada suatu tingkatan yang lebih tinggi, kemudian menggoda lagi: sebuah siklus godaan yang hanya bisa dihentikan oleh rasa bosan setelah pikiran terendap ke dalam perenungan.

Namun, di antara yang tergoda itu tentu tetap saja ada yang tidak beralih menjadi penggoda. Di bulan puasa ini, mereka tidak ikut berpuasa. Mereka makan dan minum seperti hari-hari biasa, namun mereka berusaha untuk menahan diri untuk tidak memperlihatkannya kepada orang-orang yang sedang sungguh-sungguh menjalankan puasa.

Orang-orang ini tidak belajar untuk menggoda karena mereka sendiri tahu dan mengakui bahwa puasa sendiri mendatangkan banyak manfaat bagi orang yang melaksanakannya, mulai dari manfaat yang bersifat jasmani maupun yang bersifat rohani. Hanya saja karena mereka telah tergoda kepada kenikmatan yang sedemikian dalam, mereka pun enggan melaksanakan dan mereguk manfaat-manfaat yang telah mereka akui tersebut.

Nafsu di dalam diri masih lebih besar daripada manifestasi kehendak rasionalistik. Mereka tahu tengah dalam kegelinciran. Dan oleh sebab itu, mereka tidak ingin mengajak dan menggoda siapapun. Biarlah kegelinciran dan ketersesatan itu, ia hadapi seorang diri.

Demikianlah beberapa karakter orang-orang di bulan puasa ini. Tentu saja sebenarnya masih banyak karakter-karakter lain yang bisa disebutkan. Selain itu, antara satu karakter dengan karakter yang lain bisa saja saling bertumpang tindih ketika -dalam pembahasan- konteks kesejarahan dimasukkan. Orang yang taat di satu waktu bisa jadi dia dalam kondisi yang tidak taat di waktu dan kondisi yang lain. Begitu juga sebaliknya, orang yang biasanya dicap tidak taat bisa jadi karena alasan dan kondisi tertentu, menjadi seorang yang taat di waktu yang tepat. Intinya, setiap manusia selalu penuh dengan dinamika. Ia bukanlah sebongkah jiwa yang statis yang tidak bisa berkembang atau berkurang.

Satu tanggapan untuk “Macam-Macam Orang di Bulan Puasa”

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Ambasaja

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca