Chairil Anwar merupakan seorang penyair legendaris Indonesia yang dikenal sebagai salah satu pelopor kesusasteraan Angkatan ’45. Karya-karyanya seringkali dijadikan sebagai acuan bagi para penyair baru dalam menentukan gaya penulisan puisi mereka. Selain itu, karya-karya monumental Chairil seperti puisi Aku atau Binatang Jalang dan Antara Karawang Bekasi juga sering dijadikan bahan materi lomba setiap peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia.
Kelegendarisan Chairil Anwar tersebut juga mendapatkan apresiasi dari para seniman yang bergelut di bidang yang lain. Sjuman Djaya, misalnya, seorang sutradara film kawakan yang juga layak mendapatkan label legendaris karena film-film yang ia ciptakan. Beliau sempat menulis dan menerbitkan sebuah buku naskah film yang berjudul Aku. Adegan-adegan dalam naskah film tersebut diambil dari kisah perjalanan hidup dan karya Chairil Anwar.
Dalam buku naskah film tersebut terdapat beberapa adegan menarik. Adegan-adegan tersebut mengindikasikan bahwa selain berjiwa seorang penyair, Chairil Anwar juga kental dengan darah seorang pejuang. Kisah tentang Chairil Anwar, seorang penyair yang kental dengan jiwa seorang pejuang yang terdapat dalam buku naskah film berjudul Aku itulah yang akan menjadi inti pembahasan dalam artikel kali ini.
Sekilas Tentang Buku ‘Aku’ dan Sjuman Djaya
Sebelum menuju ke pembahasan inti tentang Chairil Anwar, terlebih dahulu akan dibahas sekilas tentang buku naskah film berjudul Aku tersebut, dan penulisnya, Sjuman Djaya. Seperti yang tertera pada sampul depan buku tersebut, buku tersebut ditulis berdasarkan perjalanan hidup dan karya Chairil Anwar. Pengantar buku tersebut ditulis oleh WS Rendra yang memuji kepeloporan Chairil Anwar dalam dunia kesusateraan tanah air. Dia menyebutkan bahwa Chairil telah membuka kesadaran seniman sezamannya dan sesudah zamannya, sehingga mereka mampu melihat kemungkinan yang lebih luas untuk perkembangan kepribadian dan gaya kesenian yang baru.
Buku ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1987 oleh Pustaka Utama Grafiti, Jakarta. Pada tahun 2002, buku ini kembali mendapatkan perhatian masyarakat luas, setelah muncul dalam beberapa adegan di film Ada Apa Dengan Cinta. Dalam film tersebut buku ini sering dibawa oleh tokoh utama Rangga (Nicholas Saputra). Dan puisi-puisi Chairil Anwar yang termaktub pada buku tersebut sering menjadi latar dari kisah antara Rangga dan Cinta (Dian Sastrowardoyo). Karena muncul dalam film dan mendapatkan perhatian masyarakat luas itulah, maka akhirnya pada tahun 2003, buku tersebut dicetak untuk yang kedua kalinya oleh penerbit Metafor Intermedia Indonesia.
Sedangkan penulis buku Aku tersebut, yaitu Sjuman Djaja, seperti yang telah disebutkan pada bagian pendahuluan merupakan seorang sutradara film legendaris. Semasa hidupnya, pria yang lahir pada tahun 1934 dan wafat pada tahun 1985 tersebut, telah banyak terlibat dalam pembuatan film-film berkualitas di Indonesia. Dia juga beberapa kali memenangkan penghargaan dalam Festival Film Indonesia, baik pada kategori Sutradara Terbaik, Penulis Skenario Terbaik, maupun kategori Cerita Asli Terbaik. Salah satu film yang pernah dibuat oleh Sjuman Djaja yang bisa disebutkan di sini adalah Si Doel Anak Betawi yang dibintangi oleh Rano Karno dan telah diproduksi ulang beberapa kali.
Chairil Anwar: Sang Penyair dengan Karya-Karya Bernafaskan Perjuangan
Karya seorang penyair biasanya sangat dipengaruhi dengan kondisi tempat tinggal di mana ia hidup. Dengan kata lain, di dalamnya seorang penyair berusaha untuk menampilkan beberapa kecenderungan dan juga semangat-semangat yang terjadi di zamannya. Bisa jadi, ia termasuk pihak konservatif yang berusaha mempertahankan kecenderungan yang telah ada. Atau sebaliknya, ia adalah seorang pendobrak yang dengan semangatnya memelopori terciptanya suatu kondisi yang baru.
Dan Chairil Anwar termasuk ke dalam jenis penyair yang kedua. Seperti yang disebutkan pada bagian sebelumnya, bahkan penyair sekelas WS Rendra pun mengakui kepeloporan Chairil Anwar. Rendra juga menyebutkan bahwa Chairil adalah seorang penyair jenius, yang mampu menggunakan kata-kata dalam bahasa pergaulan sehari-hari menjadi sebuah syair yang sarat makna. Apa yang dilakukan Chairil ini telah melampaui zamannya, di mana pada waktu itu para penyair seringkali menggunakan diksi yang setinggi langit dengan struktur syair yang seolah telah dibakukan. Chairil Anwar mendobrak semua itu.
Salah satu puisi Chairil Anwar yang menunjukkan uraian di atas adalah puisi fenomenalnya yang berjudul Aku. Sedari Kalau sampai waktuku/Kumau tak seorang ‘kan merayu hingga Dan aku akan lebih tidak peduli/Aku mau hidup seribu tahun lagi jelas sekali Chairil Anwar menggunakan bahasa yang mudah dimengerti. Seorang pendengar atau pembaca puisi tersebut akan dengan mudah menangkap makna dan semangat yang coba penyair tunjukkan dalam puisi tersebut.
Semangat dalam puisi Aku tersebut juga Chairil Anwar tunjukkan dalam kehidupan nyata. Dalam sebuah adegan yang termaktub dalam buku naskah film Aku karya Sjuman Djaya, Chairil Anwar diceritakan harus berurusan dengan Kenpetai Jepang. Dia diinterogasi oleh seorang opsir Jepang. Pihak Jepang khawatir kalau puisi Aku karya Chairil Anwar tersebut dapat menyulut semangat pemberontakan rakyat Indonesia. Opsir Jepang tersebut bersama dengan rekan-rekannya, tidak hanya menginterogasi Chairil Anwar, namun juga memukulinya secara berulang. Meskipun begitu, nyala semangat dalam diri Chairil tidak pernah padam. Bahkan Chairil yang bertubuh kerempeng itu pun menantang balik:
“Hayuh, pukul lagi! Kita lihat, siapa lebih dulu menyerah pada kebinatangan ini!”
Setelah mendapatkan tendangan ke arah mukanya dan terpelanting ke tanah, Chairil Anwar segera bangkit kembali:
“Aku bilang, luka dan bisa ini akan kubawa berlari bersama jutaan rakyat di seluruh Asia Timur Raya ini. Sampai hilang pedih peri! Dan kamu sendiri mampus di ujung pedang yang kamu asah sendiri! Kawan-kawan, mari kita ayun pedang, ke dunia terang!”
Chairil Anwar: Penyair yang Berjuang di Garis Depan Medan Pertempuran
Dalam buku Naskah Film Aku karya Sjuman Djaya tersebut, Chairil Anwar digambarkan sebagai seorang pemuda yang cerdas dan penuh semangat. Di sisi lain, dia ini juga merupakan sosok playboy yang gemar merayu para perempuan cantik, dan juga seorang pemuda yang suka berpenampilan parlente dengan berpakaian mewah yang kebarat-baratan. Meskipun demikian tidak dapat dipungkiri sosok penyair flamboyan ini memiliki kepekaan kebangsaan yang tidak dapat diragukan lagi. Kepekaan tersebut terlihat jelas pada kutipan berikut:
“Chairil sudah muncul di pertahanan Bekasi. Maka untuk pertama kali kita melihat di sini, wajah Chairil yang tidak seenaknya. Nampak sekali wajah itu terpengaruh, terpukul dan teraniaya menyaksikan:
Anak-anak muda yang bergelimpangan tak bernyawa, laskar yang mundur karena terluka, …. , laskar rakyat yang mundur ke rawa-rawa tapi masih terus melawan, beribu pengungsi laki-laki, perempuan dan anak-anak yang membuat barisan panjang menghindari pertempuran, mayat-mayat yang bergelimpangan di arus air sungai, di tebing, di jembatan-jembatan, di rawa-rawa, di atas pohon, atau di atas truk-truk dan pedati yang terbakar, di mana-mana.
Semua itu dilihat dengan mata kepala Chairil sendiri sepanjang perjalanan dari Karawang sampai Bekasi.” (Hal.108)
Kepekaan ini pun menginspirasi Chairil Anwar untuk menggubah puisi The Young Dead Soldier karya Archibald McLeish. Gubahan tersebut diberi judul Antara Karawang dan Bekasi, menyesuaikan dengan pengalamannya yang baru saja melihat bagaimana rakyat berjuang menghadapi pasukan Belanda yang hendak menancapkan kekuasaannya kembali di Indonesia yang baru saja merdeka.
Kepekaan kebangsaan ini juga Chairil Anwar tunjukkan dengan terlibat langsung dalam sebuah medan pertempuran. Pada buku Naskah Film Aku karya Sjuman Djaya tersebut, tepatnya pada halaman 74-76 diceritakan bagaimana dia terlibat langsung dalam Pertempuran Surabaya 10 November yang legendaris.
Awalnya Chairil Anwar hanya ikut-ikutan rombongan Pesindo pimpinan Soemarsono yang hendak membantu Arek-Arek Surabaya yang berjuang menghadapi gempuran Sekutu yang dipimpin Britania Raya. Kendati Soemarsono dan rombongan Pesindo tersebut akhirnya turun di Stasiun Mojokerto, tetapi Chairil Anwar dan seorang wartawan bernama Cian tetap melanjutkan perjalanan menuju medan pertempuran.
Kesimpulan
Chairil Anwar dikenal sebagai sosok seorang penyair legendaris yang menjadi salah satu pelopor kesusasteraan Angkatan ’45. Dia juga merupakan sosok yang penuh semangat dan memiliki kepekaan kebangsaan dan kemanusiaan yang kuat. Semangat dan kepekaan tersebut, selain ia salurkan lewat syair-syairnya, juga ia ungkapkan dalam kehidupan nyata. Dia pernah babak belur dipukuli oleh Kenpetai Jepang, pernah terjun langsung ke garis depan medan pertempuran Surabaya 10 November, dan juga menyaksikan sendiri bagaimana perjuangan rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan di sepanjang perjalanan antara Karawang dan Bekasi.
Seperti itulah sosok Chairil Anwar yang Sjuman Djaya tampilkan dalam buku Naskah Film Aku. Tentu akan sangat menarik jika naskah film tersebut benar-benar tayang dalam bentuk sebuah film, seperti yang diharapkan oleh penulisnya. Walaupun sudah ada film lain yang mengangkat tentang kehidupannya, namun naskah film yang ditulis oleh sosok legendaris yang juga melakukan riset mendalam tentu akan lebih baik mutunya. Semangat penyair akan lebih terasa. Aku ini binatang Jalang akan lebih lantang bergema, menantang laju budaya yang lambat laun telah mulai kehilangan rasa.
Satu tanggapan untuk “Chairil Anwar: Penyair di Garis Depan Medan Pertempuran”
[…] Chairil Anwar: Penyair di Garis Depan Medan Pertempuran […]