Kategori
Esai/Artikel Filsafat & Sosial-Budaya

Karmageddon: Pertanda Awal Runtuhnya Peradaban Kapitalisme

Karmageddon merupakan sebuah lagu yang ditulis oleh Iyah May, seorang penyanyi indie asal Australia. Di dalam lagunya tersebut, dia secara lugas mengkritik kondisi sosial budaya terkini yang didominasi oleh budaya scrolling atau mengkonsumsi konten online secara berlebihan. Menurutnya, konten-konten hiburan yang banyak muncul pada beranda media-media online, terutama sosial media merupakan sebuah pengalih perhatian dari kasus-kasus sosial dan hak azasi manusia yang lebih serius. Apa saja kasus-kasus sosial dan hak azasi manusia yang diungkapkan oleh Iyah May dalam lagu berjudul Karmageddon tersebut? Dan sikap apa yang semestinya kita ambil dalam menanggapi berbagai macam kenyataan di dalamnya? Dua pertanyaan inilah yang akan coba dijawab di dalam artikel ini.

Iyah May: Seorang Penyanyi yang Menantang Arus

Sebelum membahas tentang kritik sosial dan kasus hak azasi manusia dalam lagu Karmageddon ini, kita akan mengulas terlebih dahulu tentang Iyah May. Dalam bio instagramnya Iyah May yang bernama asli Marguerite Clark ini menuliskan bahwa ia tidak hanya seorang penyanyi indie, namun juga seorang dokter. Dia memiliki pengalaman sebagai tenaga kesehatan selama pandemi Covid-19 yang lalu. Dalam sebuah artikel di situs Dailymail, disebutkan bahwa kesibukan Iyah sebagai dokter atau tenaga kesehatan selama pandemi Covid-19 tersebut sangat menyita waktunya sehingga ia tidak sempat untuk menuliskan karya-karya musiknya.

Ketika badai Covid-19 mereda, barulah ia kembali menekuni bidang musik kegemarannya. Dia menuliskan beberapa lagu dan di antara lagu-lagunya tersebut Karmageddon menjadi viral. Bahkan pada awal Januari tahun ini lagu tersebut menempati peringkat 2 dalam Australian iTunes download charts dan posisi ke-16 untuk peringkat seluruh dunia. Karena dalam lagu tersebut Iyah May menyebut usaha Israel untuk menguasai wilayah Gaza, Palestina sebagai genosida, pihak manajer dan label rekaman mayor yang sempat menaunginya menarik diri. Dia menolak untuk mengubah lirik lagu Karmageddon yang telah ia tulis sebab itu selain merupakan kebebasan berekspresi juga mewakili keresahan banyak orang, terutama orang-orang kaum kelas menengah ke bawah yang hidupnya seringkali terombang-ambingkan oleh realita yang tidak menyenangkan.

Karmageddon: Kritik Sosial Penyingkap Kebobrokan Peradaban Modern

Terdapat tiga poin kritik sosial di dalam lirik lagu Karmageddon yang akan diulas di sini. Poin pertama, cengkeraman korporasi atau oligarki dalam sistem perpolitikan negara. Kemudian poin kedua, tentang genosida dan kejahatan perang yang dilakukan oleh Israel terhadap rakyat Palestina di Gaza. Dan yang ketiga, maraknya cancel culture atau penarikan dukungan terhadap suatu entitas yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat di dalam sosial media. Tiga poin kritik sosial ini saling terkait satu sama lain sehingga membentuk rangkaian wacana yang menegaskan sudut pandang keberpihakan Iyah May sebagai seorang musisi dan seniman.

Karmageddon: Cengkeraman Korporasi atau Oligarki dalam Sistem Perpolitikan Negara

Dalam penggalan lirik lagu Karmageddon tersebut, Iyah May dengan eksplisit menuliskan: “Corporations swear they never lie/Politicians bribed for life…” yang artinya perusahaan-perusahaan besar bersumpah mereka tidak pernah berbohong, dan para politisi menyuap untuk dapat hidup. Dalam menafsirkan makna penggalan lirik ini, perlu dipahami dulu siapakah yang dimaksud dengan korporasi atau perusahaan besar yang dimaksud di sini.

Korporasi atau perusahaan besar di sini merupakan jaringan perusahaan besar yang memiliki pengaruh kuat dalam menentukan kebijakan politik suatu negara. Mereka akumulasi modal yang begitu berlimpah hingga dikatakan sebagian besar kekayaan dunia ada pada mereka. Sedangkan orang-orang yang lain, terutama rakyat kecil hanya mendapatkan bagian atau porsi yang sangat kecil. Saking kecilnya, di wilayah negara tertentu porsi tersebut tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup harian.

Mereka juga begitu rajin melakukan inovasi dan pengembangan terhadap teknologi dan terkadang menutup mata dan telinga dari berbagai efek samping yang ditimbulkan dari pengembangan yang mereka lakukan, seperti efek samping kerusakan alam dan kualitas hidup sebagian orang yang menggantungkan hidupnya pada keseimbangan alam. Di sinilah salah letak kebohongan jaringan korporasi tersebut. Mereka mengklaim sebagai pengembang peradaban di satu sisi. Namun di sisi lain mereka jugalah yang melakukan berbagai macam kerusakan, baik degradasi kualitas lingkungan, kapasitas intelektualitas dan kebudayaan pada manusia, dan kerusakan lain yang justru apabila tidak segera ditanggulangi akan menggiring umat manusia kepada kehancuran.

Kebohongan yang lain terletak pada cara mereka menunggangi dan mengangkangi elit politik suatu negara. Dengan modal kekayaan berlimpah, yang bahkan arus kebijakan perputaran uang juga mereka kuasai, maka tidaklah mengherankan mereka menggelontorkan dana secara sembunyi-sembunyi untuk mendukung politisi yang bersedia menjadi perpanjangan tangan dari agenda gelap mereka. Kebiasaan berbohong atau iklim kemunafikan yang telah menjangkiti para korporat ini ditularkan kepada para politisi yang semestinya memiliki kualitas sebagai seorang negarawan yang lebih tertarik kepada kemaslahatan bangsa dan negara atau kesejahteraan dan keadilan bagi banyak orang.

Namun karena adanya demonstration effect atau gaya hidup hedonisme yang disebarkan melalui media-media utama, para politisi tersebut di banyak negara menjadi kehilangan marwah atau kepekaan kebangsaan dan kemanusiaannya. Akumulasi kekayaan dan gengsi keduniawian menjadi ciri khas yang menonjol dalam kehidupan mereka. Ketamakan dan kerakusan menjadi trend gaya hidup mereka sehingga mereka tidak memiliki rasa malu lagi ketika melakukan penyelewengan kekuasaan, seperti melakukan korupsi dana pembangunan, maupun penyelewengan konstitusional demi melindungi kepentingan pribadi atau sekelompok orang yang telah mendukungnya.

Karena itulah dikatakan, jaringan korporat atau oligarki keuangan dunia ini telah mencengkeram sistem perpolitikan di banyak negara. Suatu bangsa di wilayah sebuah negara tidak lagi memiliki kemandirian untuk mengelola potensi manusia dan kebudayaan yang sesuai dengan cita-cita kemerdekaan. Kekayaan sumber daya alam yang bisa menjadi potensi bagi pertumbuhan ekonomi pun hanya dinikmati oleh segelintir elite yang telah berkongkalikong sedemikian rupa. Yang ada kemudian adalah kesenjangan dan penghisapan. Keadilan telah hanya menjadi kata yang terinventarisasi dalam kamus.

Karmageddon: Genosida Israel atas Rakyat Palestina

Kritik sosial berikutnya yang diungkapkan oleh Iyah May dalam lagu Karmageddon adalah tentang genosida Israel terhadap rakyat Palestina. Dia menyebutkan bahwa aksi Israel tersebut more than war it’s genocide. Aksi Israel di Gaza, Palestina bukanlah perang yang lazim. Mereka telah melanggar banyak sekali etika dalam peperangan yang telah disepakati oleh bangsa-bangsa di dunia, bahwasanya tidaklah diperbolehkan untuk menyerang pemukiman padat penduduk sehingga membahayakan keselamatan para warga sipil, terutama anak-anak, para wanita dan orang-orang tua renta yang tidak memiliki kesanggupan apapun untuk melawan.

Namun, pihak Israel tidak pernah mempedulikan hal tersebut. Mereka senantiasa berdalih serangan yang mereka lakukan terhadap pemukiman padat penduduk tersebut merupakan sebuah upaya untuk melemahkan para tentara Hamas yang mereka tuduh menjadikan rakyat Palestina tersebut sebagai tameng hidup. Sebuah tuduhan konyol yang menurut mereka menjadikan mereka sah untuk melakukan pembantaian terhadap para warga sipil. Sudah berapa puluh ribu rakyat warga sipil Palestina yang menjadi korban tewas dalam serangan bombardir tentara Israel selama hampir 1 setengah tahun tersebut. Berapa banyak lagi mereka yang kehilangan tempat tinggal, anak-anak yang kehilangan orang tuanya, berapa menderitanya rakyat Palestina di sana karena keangkuhan dan ketololan Israel tersebut. This is Karmageddon… Kids are killed from Israel’s actions.

Lirik yang begitu eksplisit menyebutkan tindakan brutal Israel tersebut, disebut-sebut merupakan penyebab utama Iyah May mesti berpisah dengan manajer dan label musik yang sempat menanunginya. Pertanyaannya kenapa harus berpisah? Tidak bisakah kedua belah pihak terus melanjutkan kerjasama yang saling menguntungkan? Iyah May bisa tetap terus berkarya dan mengungkapkan ekspresi bebasnya sebagai seorang seniman. Di pihak lain, label musik tersebut tetap bisa memperoleh profit seperti yang biasa mereka canangkan?

Sangat mungkin label musik yang menaungi Iyah May sebelumnya adalah perusahaan yang memang terikat dengan korporasi-korporasi global besar yang gemar berdusta. Jaringan korporasi mereka ini saling berkelit-kelindan dengan jaringan para bankir yang menguasai sistem keuangan dunia. Dan begitu banyak rahasia telah terkuak ke permukaan, bahwasanya jaringan korporasi dan bankir ini merupakan perpanjangan tangan dari kekuasaan Israel yang begitu halus menancapkan kuku kekuasaannya dalam segala aspek peri kehidupan umat manusia di dunia, tidak terkecuali dalam urusan produksi dan distribusi karya seni, seperti karya musik.

Karmageddon: Cancel Culture sebagai Awal Ambruknya Kapitalisme

Perilaku dan sikap korporasi seperti yang disebutkan di atas inilah yang memicu maraknya fenomena cancel culture di Barat. Tidak hanya pada korporasi, namun cancel culture yang bisa diartikan sebagai penarikan dukungan ini juga berlaku untuk para politisi, pegiat seni atau selebriti dan beberapa jenis publik figur lain. Masyarakat luas dengan pilihan menikmati informasi melalui media yang beragam, menjadi memiliki keleluasaan untuk lepas dari proses pencucian otak yang dilakukan oleh para elit global kapitalisme melalui media mainstream mereka. Saluran-saluran melalui kanal media yang langsung disiarkan oleh pihak-pihak yang tertindas lebih mampu menarik masyarakat global saat ini. Melalui proses inilah, masyarakat Barat menjadi sadar bahwa sistem kapitalisme yang selama ini mengenyangkan dan meninabobokkan mereka dipenuhi dengan penindasan dan penghisapan yang tidak jauh beda dengan masa kolonialisme, namun yang dilakukan dengan cara yang lebih halus tanpa penjajahan wilayah secara langsung.

Namun kesadaran masyarakat yang mulai mengkristal ini tidak akan pernah dibiarkan begitu saja. Iyah May di dalam lagu Karmageddon tersebut juga menyebutkan adanya pengalihan isu yang dilakukan melalui media sosial juga, seperti adanya Twitter Wars atau perang cuitan yang biasanya menampilkan pro dan kontra netizen terhadap suatu permasalahan sosial, budaya, dan politik yang tidak terlalu mendesak seperti masalah gender, hak penggunaan senjata api, perseteruan agama dan hak aborsi. Dikatakan tidak terlalu mendesak karena tidak langsung berhubungan dengan hak manusia yang paling azasi, yaitu hak untuk hidup secara damai sehingga mampu mengembangkan kehidupan dan peradabannya ke arah yang lebih baik. Hak azasi yang tidak didapatkan oleh rakyat Palestina selama bertahun-tahun karena pendudukan atau penjajahan yang dilakukan oleh Israel.

Penutup

Apa yang dilakukan oleh Iyah May dengan menyuarakan keberpihakannya kepada hak azasi manusia merupakan suatu hal yang patut dan mesti diteladani. Dia tidak gentar dengan berbagai macam resiko yang mesti dia hadapi. Sekalipun mesti kehilangan kesempatan untuk bernaung di bawah suatu label musik arus utama, semua itu tidak lagi akan menutup kemungkinan karya-karyanya akan dikenal oleh masyarakat dunia secara luas. Tidak mendapatkan panggung melalui media-media arus utama, para pegiat seni seperti Iyah May, ataupun pegiat-pegiat sosial budaya yang lain bisa memanfaatkan media-media alternatif untuk menyampaikan suara dan aspirasinya, meskipun harus mengeluarkan biaya mandiri dan mesti dihadapkan pada urusan teknis yang menyita waktu.

Dalam ruang lingkup yang lebih luas, suara-suara yang coba melawan kelaliman para penguasa modal mesti senantiasa digaungkan. Penindasan dan penghisapan para pemuja materi, pecinta modal yang terus terakumulasi tidak boleh dibiarkan terus menerus merajai. Kelompok ini telah terlalu banyak melakukan kerusakan di muka bumi dengan melakukan sebentuk penjajahan gaya baru yang menyedot habis kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat awam dengan memisahkannya dari tanah, air dan udaranya. Keseimbangan alam telah ternodai. Sementara mereka mampu membangun tempat-tempat perlindungan dalam menghadapi efek negatif dari hilangnya keseimbangan, rakyat banyak yang tidak berdaya menjadi korban yang benar-benar tidak terlindungi hak-haknya.

3 tanggapan untuk “Karmageddon: Pertanda Awal Runtuhnya Peradaban Kapitalisme”

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Ambasaja

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca